Di Mana Badai Sembunyi

Zahid Paningrome
Chapter #6

1:6

Hidup adalah kepingan mikroskopik yang tersebar jauh entah ke mana. Ia adalah kumpulan pergulatan yang minta dijawab lewat semua alasan dan anggapan. Mengapa eksistensi manusia muncul dalam segenggam tangan yang mengadah ke langit? Mengapa obsesi singgah lama pada pikiran manusia. Kita terbentuk dari luka-luka lama dan kesedihan-kesedihan yang tak pernah hilang, termasuk membentuk pola pilihan untuk setiap tindakan. Apa yang kita pilih, apa yang kita ambil, apa yang kita putuskan, semua terlibat. Lalu saat keinginan untuk mengakhirinya tiba, kita membentuk diri sebagai manusia yang paling tersakiti, paling sedih, paling butuh dibantu. Kita sama dengan badai yang menunggu menjadi besar untuk menghancurkan yang ada di depan. Menghancurkan segala sesuatu yang ada di sekitar, kita tak pernah mengira kedatangannya, kita hanya tahu bahwa ada badai yang berkecamuk di dalam kepala. Badai yang menunggu di dalam, untuk hancur di luar.

“Kau membaca sampai tenggelam,” ucap Hary usai aku membacanya.

“ada racun di tulisannya.” 

“Ia menyebut namanya sendiri.”

“Badai?”

“Iya. . . Aku bahkan bingung kenapa ada orang tua yang menamai anaknya seperti itu.”

“Seperti itu? Apa yang salah dari nama Badai?”

Lihat selengkapnya