Di Mana Badai Sembunyi

Zahid Paningrome
Chapter #8

Bab 2: Badai di Dada

Mimpi malam itu di mulai pukul tujuh, aku tidur lebih dulu setelah seharian mengurus hal-hal yang membuatku lupa waktu. 36 jam sebelumnya aku tidak tidur, berkutat pada laptop dan sesekali merokok di halaman belakang lalu minum amer sampai habis satu botol. Aku hanya merokok pada saat-saat tertentu, rokok membuatku rileks, ia punya nilai lebih, itu kenapa aku hanya menghisapnya sesekali. Amer hanya kuminum saat rokok mulai terbakar pelan-pelan, istriku lebih suka meminumnya saat harus mengurus berkas-berkas di setiap kasus yang ia urus. Percayalah, dalam keadaan itu ia tampak seksi, dengan rambut panjang dikuncir sembarangan, blus putih ditekuk hingga siku, dan rok pendek hitam selutut yang membuat jenjang kaki putihnya terlihat mulus menggoda.

Kami mengakhiri hubungan panas dingin selama hampir empat tahun. Aku yang pertama kali tertarik, meski ia mengaku dirinya lebih dulu mengagumiku. Kami sangat kompetitif soal siapa yang lebih dulu, seperti siapa dulu yang tertidur setelah seks malam kami, siapa dulu terbangun untuk mencium pipi dan kening, siapa dulu yang mengisi air di gelas untuk diminum tepat setelah bangun tidur. Atau siapa dulu yang memikirkan kabar masing-masing tiap harinya. Saat pacaran dulu, saat masih berstatus sepasang kekasih ia lebih menjadi sosok ibu bagiku, ia yang mengingatkanku untuk tetap berada di tanah meski langit-langit menginginkanku seperti seorang yang menimba air dari sumur yang dalam. Ia selalu ada meski aku tak ingin ada untuknya.

Aku butuh hampir tiga tahun untuk akhirnya bisa menyatakan cinta, dan ia tanpa jeda langsung memelukku di depan kamar mandi kampus, tempat yang sama sekali tidak romantis. Saat itu aku tidak sengaja bertemu dengannya setelah urusan biologis yang tidak kuat kutahan. Entah mengapa tempat itu melarang kaki-kakiku melangkah sekali lagi setelah pintu kayu berdecit dan tertutup. Awalnya aku hanya basa-basi, ia tetap tenang menjawab semua pertanyaan konyolku, pertanyaan seperti lagi apa, padahal kita semua tahu apa yang dilakukan orang-orang di kamar mandi. Sebelum kejadian itu, hubungan kami hanya sebatas kenalan, tidak dekat juga tidak bisa dibilang jauh. Ia selalu ada di teritoriku, sisanya, ia hanya menjadi imajinasi yang muncul tiap hari, hingga membentuk cerita sendiri di dalam kepala.

Malam itu aku membaca ulang satu halaman di jurnal Badai, beberapa paragraph terus kubaca ulang karena aku suka susunan katanya. Cerita yang terbentuk dari pengalamannya itu adalah cerita yang dari dulu juga ingin kutulis, aku tersenyum saat membacanya, karena yang ia tulis persis apa yang aku pikirkan dan menggambarkan hubungan kami. Cerita tentang:

“Saat itu, aku selalu melibatkan diri pada segala emosi yang ada di dalam hati. Itu mengapa ia menyebutku orang yang paling keras kepala. Bukan hanya yang ada di dalam diri, aku ikut melibatkan emosi pada tubuh orang lain. Aku hanya ingin membentuk sifat yang tidak ada pada orang lain, saat orang lain memaksa menunggu, aku tidak akan membuat orang menunggu bahkan hanya untuk satu detik. Saat orang mampu seenaknya membuat sedih, aku tidak akan melakukannya. Saat orang-orang membuat marah, aku hanya akan bersiap saat ia datang dan menceritakan semuanya. Aku keras kepala untuk membuat orang-orang nyaman, untuk membuat mereka tahu makna pulang, saat semuanya hanya bisa membuat kecewa, mereka melihatku sebagai rumah.

Tapi, kita semua terjebak dalam aturan-aturan tidak menyenangkan yang membuat kita menampilkan sosok lain, bukan yang asli, bukan yang pasti. Kenyataanya kita bukan robot, kita tidak menurut pada sistem algoritma tertentu. Barangkali detik ini kita bilang satu hal, lalu berubah bilang lain hal kemudian. Benar katamu, manusia terjebak pada segala bentuk eksistensinya, kita terjebak pada obsesi-obsesi, dan juga waktu.

Kita kan harus bisa terima bahwa jawaban dari perasaan cinta bukan hanya penerimaan. Penolakan juga bentuk jawaban yang harus sepenuhnya kita terima, meskipun pahit. Kita sengaja dibuat mati, sebelum semuanya jadi punya arti, kita dibiarkan hidup kembali justru saat ketakutan-ketakutan mulai merasuki. Kita menghilang dari yang lain lalu berharap ditemukan, tapi menolak memberi kisi-kisi.”

Sebelum istriku ada di duniaku, aku adalah tipe laki-laki yang sering mengalami berbagai macam penolakan, ia selalu tertawa saat cerita ini menghiasi malam-malam kami, katanya aku adalah tipe laki-laki yang terlalu sempurna untuk perempuan yang biasa-biasa aja, itu mengapa, menurutnya, banyak perempuan yang minder. Aku bahkan bertanya-tanya, mengapa kecerdasan dan keahlian seseorang bisa membuat orang lain minder atau bahkan iri. Laki-laki di kampus memberi jarak padaku karena menurut mereka aku orang yang terlalu serius, para perempuan memberi jarak karena kecerdasanku. Lalu pelan-pelan ia masuk ke duniaku dan membuka semua yang awalnya tertutup dan tidak terlihat. Aku merasa beruntung bisa bertemu dan memilikinya, aku jadi tahu apa kelemahanku.

Ia yang mengajariku bahwa tidak ada salahnya berkompromi di lingkungan yang tidak bisa kukendalikan. Tidak ada salahnya sesekali lepas dari sebenar-benarnya diri sendiri. Aku selalu ingat apa yang ia bilang tentang menjadi diri sendiri. Bahwa tidak semua orang suka pada sesuatu yang asli, mereka lebih suka hal-hal imitasi karena sesuai dengan apa yang ingin mereka lihat dan dengar. Menjadi diri sendiri adalah level tertinggi keberadaan manusia di dunia, sayangnya hanya sedikit manusia yang ada di lantai atas—level tertinggi untuk melihat kita sebenarnya, melihat kita apa-adanya.

Kadang kupikir memang aneh, ia lebih punya andil membentuk diriku yang sekarang. Justru bukan diriku sendiri, ia melebihkan diri untuk mencampuri urusan duniaku, dan aku menikmatinya, tidak sama sekali merasa berat atau terhinakan. Ia yang membagi diri pada entitas baru bernama kita. Aku dan dia, dalam pusaran pertalian hidup yang panas dan dingin. Kami menghangatkan satu sama lain, menjadi dingin untuk orang lain. Semestinya semua begini sejak awal, sehingga aku tidak perlu merasa sepi dan sendiri, apalagi sampai mengemis bantuan orang lain. Ia istri yang membawaku pada dunia baru, dunia yang tidak melulu tentang aku. Ia membentuk dunia yang hanya diisi kami berdua, tanpa perlu orang lain, tanpa perlu kenangan buruk yang membentuk kami sebelum ini.

Dan malam itu aku lagi-lagi memimpikannya, mimpi itu tumpang-tindih antara Badai dan sosok istriku, seperti gerak animasi dari kertas yang digambar dan disusun berurutan. Kasus itu cukup mengalihkan fokusku, ini saat-saat yang tepat bagiku untuk mengambil alih, untuk mencari tahu ke mana sebetulnya Badai pergi, setelah beberapa orang menyerah, mengangkat bendera putih. Aku yakin Badai belum mati, ia hanya sembunyi dari sesuatu yang mengancamnya, dari sesuatu yang jahat, sesuatu yang mampu menghancurkan siapa pun di sekitarnya. Ia hanya sembunyi, aku sungguh meyakini.

Lihat selengkapnya