Sebelum kita mulai, aku hanya ingin mengingatkan, tidak ada jalan untuk kembali. Satu-satunya jalan yang tersedia adalah jalan keluar. Jalan untuk menjauh dari semua yang telah sama-sama kita rasakan. Katamu, aku adalah kepingan terakhir puzzlemu, kamu pernah bilang akan jadi apa jika kepingan itu tidak ada pada tempatnya. Tapi kamu selalu alpa, melupakan beberapa hal, bahwa aku lebih dulu berada di sana sebelum kamu menemukan keping lainnya. Aku menunggu saat kamu mencari dan menemukan kepingan-kepingan itu. Aku menunggu terlalu lama, lalu pergi—merasa menyelam dalam ketidak-pastian. Setelah kamu menemukan semua kepingan, kamu baru tersadar ada satu keping yang hilang, tempat di mana aku menunggu. Dan saat kamu memutuskan untuk mencarinya, kamu akan membuat keping lain yang berhasil kamu temukan untuk menunggu—merasakan apa yang aku pernah lewati. Akhirnya kamu tidak akan pernah menyelesaikan puzzlemu. Kamu hanya berkutat pada hal-hal yang kosong.
Kita membiarkan diri larut pada cerita masing-masing, kita ingin itu jadi sempurna, sampai kita lupa, bahwa mungkin di cerita orang lain kita jadi tokoh paling penting. Namun kita menolak hadir melengkapi cerita itu. Karena menurut kita itu adalah cerita yang asing dan tidak kita kenali sama sekali. Padahal ia hanya menunggumu untuk melengkapi ceritanya. Semua orang melakukannya, dan tidak sadar, kita hanya punya satu pengalaman cerita, lalu saat cerita itu rusak, tidak sesuai dengan rencana awal, kita merasa dunia bersikap tidak adil. Lalu merajuk dan mengutuk segala hal yang hidup. Dan orang lain yang menunggumu untuk masuk keceritanya, masih setia menunggumu untuk melengkapinya. Tapi kamu masih tidak sadar, masih sibuk dengan ego di dalam diri.
Semua orang melupakan satu hal penting; kamu selalu butuh seseorang untuk merilis semua yang membuat pikiranmu jadi gila, kamu butuh seseorang yang bisa utuh memahamu ceritamu, bukan yang sekadar ingin mendengar hanya untuk dibilang perhatian. Terlebih jika mereka yang datang setelah cerita terakhir yang hampir sempurna akhirnya hanya menjadi cerita-cerita singkat yang berakhir tidak menyenangkan. Sudah pernah kubilang, menunggu itu seni karena kita bertarung pada sesuatu yang tidak pasti.
Selalu ada sesuatu yang hilang sejak satu per satu dari mereka pergi tanpa meninggalkan jejak. Pergi tanpa memberi arti yang lebih. Pergi tanpa satu katapun, semua menjadi tanpa arti, padahal semuanya telah dibangun susah payah. Beberapa orang hanya melanjutkan bangunan yang dimulai orang lain. Ada yang hilang dalam dirimu, dan kamu berusaha keras mencari apa yang hilang dari dalam diri, apa yang kosong—apa yang perlu diiisi. Kamu bahkan tidak menyadari kapan itu hilang, kapan merasa kosong, lalu kamu merasa itu semua terjadi secara alamiah, merasa semua itu adalah bagian dari perjalanan hidup yang memang harus kamu lewati. Lalu kamu menjadi sosok paling lemah setelah menemukan bagian dari dirimu yang terbaik, yang paling kuat, yang paling tahan banting. Kamu merasa seperti berada di kotak kaca dan terkurung di dalamnya, dari dalam kotak kaca itu kamu melihat keramaian di luar, tanpa henti terus mengular. Dan kamu justru merasa kesepian. Tidak ada yang menyadari keberadaanmu di sana, kamu mencoba teriak, tapi tidak ada yang mendengarkanmu.
Barangkali semua dilahirkan dengan badainya masing-masing, badai itu ada di dua tempat yang memengaruhi tubuhmu, badai di pikiran yang mengatur segala keputusan, yang pada akhirnya menciptakan kebingungan hebat dalam pola dan caramu memilih. Kamu berusaha meredakan badai itu, dalam prosesnya lalu kamu menyadari ada badai lain di dalam tubuhmu. Badai di dada yang memengaruhi perasaanmu pada manusia, pada lingkungan, pada makhluk hidup lain. Lalu dari badai itu tercipta sosok yang tidak kamu kenali, sosok lain dalam diri. Sosok yang memintamu lebih dari yang diminta sosok utama. Sosok-sosok itu menciptakan sebuah kolase, tampak muram namun tetap indah, seperti melihat matahari terbit saat mendung menutupinya, kamu hanya bisa melihat sisa-sisa cahaya yang terpancar gelap dari balik awan. Kamu mencoba menerjemahkan apa maksud semua ini dan kamu menolak ide bahwa ini adalah kesedihan yang mendalam. Menurutmu ini hanyalah ketidak-beruntungan yang menetap di hidupmu—di dalam dirimu.
Lalu otakmu dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan, dari yang paling sederhana hingga yang paling rumit. Kamu bertanya mengapa cinta tidak pernah adil, mengapa tidak ada makna pasti untuk itu. Kamu bertanya-tanya mengapa sebelum tidur kita selalu memikirkan satu orang yang sama. Badai dalam dadamu meronta, kamu merasa pernah ada di titik ketika kamu sangat dicintai seseorang lalu berkahir menjadi sosok yang sangat tidak dicintai, ia menjauh, ia pergi, meninggalkanmu sendiri.