Di Mana Badai Sembunyi

Zahid Paningrome
Chapter #10

2:2

Satu hal yang paling sulit dari menyelesaikan kasus ini adalah mencari ke mana ibu Badai. Ia seperti ditelan bumi, tidak berjejak dan tidak ada satupun saksi yang mengetahui keberadaannya. Petunjuk terakhir datang dari Hary, ibunya berpamitan pada Hary sebelum besoknya tidak terlihat lagi hingga kini. Aku punya hubungan yang cukup dekat dengan si ibu, sayur kangkung buatannya adalah salah satu favoritku, saat pertama kali mencobanya aku langsung ketagihan, bahkan sayur kangkung itu lebih enak dari buatan ibuku apalagi istriku. Setiap kali aku mampir ke rumah Badai, ibunya langsung membuatkanku satu porsi sayur kangkung, tidak terlalu pedas, karena aku kurang suka rasa-rasa pedas, rasa yang hanya bisa menyiksa lidahku. 

Ibu Badai orang yang sangat sederhana, ia tidak pernah meminta hal-hal yang bisa merepotkan orang lain bahkan di masa tuanya. Ia tetap tegar meski telah lebih dari sepuluh tahun ditinggal mati suaminya. Ia suka kegiatan membersihkan rumah, itu kenapa rumah Badai selalu tampak bersih—sangat bersih, membersihkan kipas angin, mobil, motor, dan perabotan atau elektronik yang bahkan tetap dibersihkan meski tidak ada debu yang menempel. Dan hilangnya Badai juga si ibu membuat rumahnya terasa tidak bernyawa. Mengobrol dengan Hary membuatku mau tidak mau selalu menatap rumah itu yang kini kotor dan penuh dengan debu di lantai dan jendelanya. 

Aku mencoba mengingat terus-menerus kemungkinan tempat di mana si ibu berada, tidak ada yang bisa membantuku, karena Hary pun sama sekali tidak dekat dengan ibu Badai. Jurnal itu satu-satunya alat yang bisa sedikit membantuku, masih banyak yang perlu dibaca, seakan buku itu tidak punya akhir. Sekalipun tulisan yang sudah kubaca—aku tetap ingin membacanya sekali lagi. Makin dalam terlibat aku makin menemukan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sama sekali. Ada hal-hal yang coba ditutupi, diniatkan untuk tidak diketahui orang lain. Hal-hal yang bikin seseorang merasa terganggu, seperti tekanan-tekanan dalam hidup yang sebetulnya tercipta karena pilihan masing-masing. Tindakan yang kita pilih selalu satu paket dengan risiko yang membayanginya. 

Aku membicarakan ibu Badai bersama Tsamara, saat ia tiba-tiba menelpon, ia memintaku untuk datang ke salah satu butiknya. Dari rumah aku memutuskan untuk naik bus, karena hanya sekali jalan tanpa perlu berganti armada. Hal-hal yang kusuka dari kendaraan umum adalah aku bisa menemukan berbagai karakter di dalamnya. Sopir dengan rokok di bibir, kernet dengan handuk kecil di bahu yang memakai topi terbalik. Pengamen dengan gitar butut namun suaranya tetap merdu menyanyikan lagu-lagu Iwan Fals. Sesekali aku menemui mahasiswi baru lulus yang membawa berkas-berkas lamaran, lebih banyak kutemui duduk sendirian di dekat pintu depan bus. Atau seorang nenek yang membawa sebuah amplop cokelat besar dan turun di kantor pos. Kebetulan saat itu siang dan kota ini ada di puncak paling panasnya, aku juga melihat pelajar-pelajar yang baru pulang dan membicarkan perempuan yang mereka incar karena kemolekan tubuhnya.

Kurang lebih lima belas menit bus itu menyusuri jalanan kota yang cukup lengang, aku turun tepat di depan butik milik Tsamara. Bus itu meninggalkan asap hitam pekat yang membuatku buru-buru masuk, lonceng di atas pintu berbunyi, hanya ada Tsamara di sana, ia sibuk merapikan beberapa display. Bagian depan butik itu serba kaca, di dalamnya warna putih mendominasi membuatnya terlihat minimalis, ada kursi sofa panjang di tengah juga beberapa cermin yang disebar di beberapa titik, juga tiga kamar ganti di antara lemari panjang tanpa kaca yang dipakai Tsamara untuk menggantung beberapa produknya. Warna pastel juga terlihat di beberapa sisi, lantainya dari kayu yang dipelitur hingga terlihat mengkilap. Ada satu lukisan besar di dinding kasir. Lukisan Mr. Fox dari film Fantastic Mr. Fox karya Wes Anderson.

“Tunggu bentar ya,” Tsamara setengah fokus, menyuruhku duduk dengan gesture tangannya.

“Iya, take your time, Tsam.”

Tsamara terlihat anggun memakai summer dress selutut dengan motif titik-titik putih yang tersebar teratur mengelilinginya, juga sepatu kets putih dan rambut hitam pekat yang digerai hingga punggungnya. Ia membawa pensil dan buku catatan kecil.

“Lagi ngapain, Tsam?” tanyaku yang makin lama makin penasaran.

Lihat selengkapnya