Di Mana Badai Sembunyi

Zahid Paningrome
Chapter #11

2:3

Delapan hari setelah kiamat terjadi, seorang lelaki duduk di depan gereja dengan dasi bermotif merpati dan sepasang sepatu hitam pemberian sang istri. Wajahnya muram seperti mendung malam atau barangkali tembok yang kusam. Ia membawa setangkai mawar merah yang sudah tak lagi merekah, ia berpikir bahwa dirinya telah kalah; menyendiri di antara reruntuhan gedung lima lantai dan kedai kopi tempat ia biasa menepi. “Ini akhirnya,” gumamnya setiap kali angin dan debu menyentuh kulit yang menghitam karena tak lagi pernah mandi.

Sehari sebelum kiamat terjadi ia punya janji dengan seorang misionaris yang ia temui pertama kali usai ibadah di minggu pagi. “Tak lagi ada pretensi,” pikirnya saat ia melihat misionaris itu keluar dari gereja yang mulai sepi. Ia mengikuti wanita itu sampai di depan rumah, kecanggungan seketika melumuri tubuhnya saat wanita itu melihat dirinya. “Ada yang bisa saya bantu?” bahkan ia ingat kalimat pertama yang keluar dari bibir misionaris itu. Lalu ia pergi tanpa permisi dengan jantung yang berdebar kencang seperti mesin Ferrari milik Didier Pironi, ia meninggalkan sang misionaris sendiri.

Pertanyaan lalu muncul dan merebak hingga ke ubun-ubun, semuanya berebut minta dijawab lebih dulu, “Wanita itu anggun,” pikirnya saat pergi dari depan rumah sang misionaris, dan menyusuri jalan yang terasa panjang tanpa ujung. Hari-hari ia habiskan dengan menguntit, berbicara pada diri sendiri; bagaimana cara untuk bisa bertatap muka dengannya, membicarakan banyak hal mulai dari anjing lucu yang ia lihat menggeliat di kaki misionaris setiap kali wanita itu meninggalkan rumah, atau tentang Tuhan yang telalu lama terlelap sampai alpa bahwa dunia telah bergeser entah ke mana. 

Ia yang seorang Budha taat duduk di dalam gereja saat ibadah minggu pagi sesak oleh keluarga yang berharap kebaikan di dunia. Ia diam dan mendengar semua cerita dari Pastor berambut putih dengan monokel di mata kiri. Ia mengambil Injil yang tersedia di depannya—ada kantong yang disediakan di belakang kursi untuk menampung kitab suci. Ia membukanya perlahan sembari menciumi bau kertas. Ia merasakan ketenangan dalam hatinya, ia memerah karena setiap kata yang keluar dari pastor itu, ketenangan yang sama saat ia beribadah atau melakukan semedi di tengah malam.

Saat ia melihat misionaris itu, kembali jantungnya berdebar kencang. Ia fokus menatap ke depan, sesekali melirik. Ia merasa misionaris itu terus menatapnya sampai ibadah pagi selesai.

“Saya tahu kamu bukan seorang Kristen,” misionaris itu berdiri di depan pintu. Mereka bersalaman, “Saya Marya,” dari berbagai nama yang lelaki itu pikirkan, ia sama sekali tak memikirkan nama mainstream itu. “Marya Tania. Ya saya tahu, nama yang mencolok, sangat mainstream,” ucap misionaris setelah melihat senyum yang aneh dari lelaki itu. Nama itu terdengar seperti dua nama yang digabung menjadi satu. Sang Misionaris melepas jabat tangannya, dan lelaki itu masih belum mengucapkan apa-apa. “Tunggu saya di sana, saya akan menemuimu sepuluh menit lagi,” lelaki itu duduk di bawah pohon yang rindang—matanya tak pernah lepas dari misionaris yang menyapa semua jemaat sampai gereja sepi.

“Saya lebih suka disebut biarawati, bukan misionaris,” wanita itu membuka percakapan, lalu duduk setelahnya. “Saya tahu kamu akan menulis misionaris di ceritamu nanti.”

“Aku bahkan belum terpikiran untuk menulis pengalaman ini.”

“You will,” biarawati itu tersenyum.

“Ada apa dengan misionaris?”

“Saya tidak suka posisi itu.”

Lihat selengkapnya