Aku terbangun dari tidur siang yang panjang, lebih lama dari biasanya. Awalnya aku ingin pergi ke bioskop setelah mengunjungi Tsamara, tapi buku resep itu membuatku hilang selera, terlebih karena resep cah kangkung bawang putih yang kubaca di dalam bus. Terlalu banyak pertanyaan yang perlu kucari jawabannya, belum selesai aku menjawab pertanyaan lain, selalu muncul pertanyaan-pertanyaan baru yang lebih gila, lebih merusak realita yang ingin kulihat dan kurasa. Realita selalu membuatmu gila, karena ia bekerja dengan sistem yang tidak pernah kita duga, kadang realita membawamu jatuh ke bawah, kadang juga menerbangkanmu ke atas hingga entah ke mana. Bagaimana pun semua punya waktunya masing-masing, waktu yang memberi ruang pada fakta-fakta dan kebenaran, saat di atas kita perlu ingat tanah. Saat di bawah kita perlu menyadari yang ada di sekitar. Kita semua sama, hanya cara pandang pada sesuatu yang membedakan kita semua, termasuk cara pandang kita pada realita.
Hampir pukul lima sore, aku mengambil air dari dalam kulkas dan meminumnya sekali habis lalu mengisinya lagi, membiarkan ia dingin lebih dulu, untuk kuminum sebelum tidur malam nanti. Sebentar lagi istriku tiba, aku harus berbicara dengan seseorang tentang semua yang membuatku gila. Ia selalu membantuku merasa tenang, merasa nyaman dan baik-baik saja. Ia adalah oase di padang pasir, yang dicari meski kita telah berkelana jauh. Oase yang bersedia jadi tokoh protagonis atau tokoh yang dituntut untuk bisa mendengar—hanya mendengarkan tanpa perlu memberi saran. Tapi hanya mendengar bukanlah cara kerja istriku, ia selalu ingin terlibat pada segala hal yang terlanjur masuk telinganya, kami memang berbeda dalam hal ini, aku pernah bilang padanya untuk tidak melibatkan emosi pada sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan sendiri, karena hanya akan berujung sakit hati atau yang paling bahaya; merasa hilang diri.
Aku duduk di sofa tempat biasa kami berbincang, membicarakan pekerjaan masing-masing atau tentang kucing tetangga yang suka buang kotoran di depan rumah. Sesekali menonton berita televisi, berdebat tentang politik yang bising namun selalu hangat dibicarakan, istriku selalu bilang bahwa berita politik adalah komoditas paling seksi. Dan semua orang suka pada hal-hal yang berbau keseksian. Seperti para pria yang kegilaan melihat kemolekan tubuh perempuan, atau para perempuan yang menggila melihat jenggot tebal seorang pria yang mirip aktor India atau agen 007. Kami juga sering membuka Netflix dan menonton serial kesukaan, seperti Friends yang tidak pernah bosan kami tonton. Hal-hal semacam itu perlu dilakukan antara sepasang suami-istri supaya apa yang ada setiap hari bukan sekadar basa-basi, karena makin lama sepasang suami-istri hidup bersama, akan makin terasa seperti saudara sendiri, seperti teman tanpa ketertarikan di awal bertemu. Aku hanya takut kehilangan dirinya, aku takut kehilangan apa yang mengikat kita, aku belum siap jika harus hidup sendiri, hidup tanpanya, lalu menerima realita yang sebelumnya tidak pernah kuduga.
Sore itu cerah, langit biru membentang seperti lukisan di atas canvas, musik penghantar petang kuputar dari piringan hitam pemberian salah satu teman di hari pernikahanku, seorang teman kolektor piringan hitam dan kaset-kaset musisi dari zaman legenda sampai zaman revolusi. Di depan rumah, anak-anak kecil terlihat girang memainkan bola plastik yang mereka beli di warung Bu Sas di ujung gang, hampir tiap sore aku melihat pemandangan itu. Mereka anak-anak yang sama, yang selalu membagi dua tim bola, masing-masing empat orang, namun selalu saja tidak imbang, satu tim punya postur yang lebih besar dibanding tim lainnya.
Mereka memakai sandal sebagai pengganti gawang, sandal butut yang salah satunya ditusuk paku di bawahnya supaya tetap bisa dipakai. Mereka bermain tanpa alas kaki, membiarkan aspal jalan yang kotor bersentuhan dengan kaki-kaki mereka, persis yang kulakukan saat masih kecil dulu, bedanya aku melakukannya di tanah lapang, saat bangunan-bangunan beton belum berdiri, dan aspal jalanan belum masuk ke perkampungan. Lalu ada anak-anak perempuan yang duduk di pinggir jalan, dengan baju bergambar kartun kesukaan dan rok-rok midi di bawah lutut yang mengembang seperti bunga di pagi hari, mereka berebut menyemangati kekasih mereka masing-masing, membiarkan dunia jadi milik berdua.
Beberapa menit menunggu, Lagu All The Things You Are milik Charlie Parker mengiringi kedatangan istriku, ia dengan setelan kantornya baru saja mematikan mobil dan belum juga keluar, kebiasannya untuk mengecek ponsel sebelum turun dari mobil. Lima menit setelahnya ia turun, menekan tombol pada kunci mobil lalu muncul dari balik pintu depan rumah. Aku menatapnya serius, tetap dengan senyum yang kuusahakan seperti biasanya, tapi ia tetap mencurigai tatapanku.
“Kenapa sayang?” tanyanya sembari melepas heels lalu menaruh tas hitam prada di sofa. Ia membuka kulkas dan meminum air yang tadi sudah kuisi sampai habis, kemudian mengisi ulang gelas itu dari dispenser yang terletak di samping kulkas.
“Kenapa sih? Ngelihatinnya gitu banget,” ia duduk di meja bar dapur.
“Kamu familiar sama ini?” aku menunjukkan buku resep si ibu padanya, kulihat raut mukanya berubah seketika.
“Apa itu?” ia minum sekali lagi, matanya masih fokus melihat buku yang kudorong ke arahnya di atas meja bar.