Mimpi-mimpi lahir ketika manusia merasa ada di ambang pilu, saat itu kita berpikir bahwa dunia hanyalah kumpulan cerita-cerita lama yang kembali diulang, seperti lingkaran tanpa ujung, dan kita adalah aktor-aktor baru yang menghidupkan cerita itu. Kita semua tidak pernah tahu bahwa setiap cerita sudah ditentukan bagaimana akhirnya, kita menjadi naif bahwa semua yang kita lalui, semua yang kita lakukan adalah campur tangan tuhan, campur tangan semesta yang sudah digariskan sejak awal sebelum cerita itu dituliskan. Kesadaran-kesadaran bersembunyi di balik tirai, ia menunggu untuk dibuka oleh kita yang sampai saat ini masih berpikir bahwa tuhan telah menuliskan semua sampai pada setiap detailnya. Lalu kita berebut menjadi sutradara untuk memperbaiki cerita-cerita lama yang kita ulang, kita bernafsu untuk menjadikannya sempurna, namun kita memakai nilai bahwa kesempurnaan hanya milik tuhan, dan kita hanyalah manusia yang mengejar kesempurnaan—mengejar sesuatu yang tidak pernah ada.
Hal-hal seperti itu seringkali membuatku bingung, aku berada di antara manusia yang tidak percaya pada kemampuannya. Mereka menolak menjadi tokoh utama pada ceritanya sendiri, mereka selalu memberikan pembenaran bahwa tidak perlu berbuat apa-apa lagi jika cerita kita sudah digariskan sejak awal, lantas kita menjadi pemalas yang hanya bisa menunggu tanpa bergerak lebih dulu. Kupikir karena itu kita menjadi sosok-sosok lemah yang bergantung pada orang lain, bergantung pada energi yang sebetulnya tidak pernah kita ketahui sama sekali.
Kita terdiam setiap kali harapan-harapan dihembuskan bagai angin pagi hari saat dingin masih mampu menyetubuhi sebelum matahari hadir dan memainkan peran. Padahal harapan adalah candu yang berbahaya, kita terus menginginkannya sampai harus mengorbankan orang lain untuk mendapatkannya. Mengorbankan pertemanan, mengorbankan asmara hingga harus mengorbankan keluarga.
Aku seperti melihat kepingan-kepingan yang tidak pernah lengkap karena kita selalu gagal melengkapi apa yang seharusnya ada pada tempatnya. Kita berusaha menjadikannya utuh tanpa berniat mencari bantuan dari mereka yang mampu dan memang menjadi tokoh pelengkap atau pembantu sebagai tugas utamanya.
Kita naif, merasa hidup adalah tempat untuk membuat sesuatu tanpa bantuan orang lain, dan itu adalah sebenar-benarnya pembunuh berantai. Kita merasa mampu menyelesaikan semuanya, kita merasa mampu sebelum yang lain menyadari bahwa kemampuan kita hanyalah sedikit dari kemampuan orang lain. Kepingan-kepingan itu tidak pernah lengkap terisi, karena ketika kita merasa perjuangan hanya tinggal sedikit lagi, segala hal yang awalnya terkendali menjadi rusak dan sama sekali tidak terkendali. Lalu kita sadar bahwa kita lupa memelihara apa yang ada, memelihara apa yang sudah pernah kita dapat. Kita tidak pernah merasa bersyukur bahwa apa yang kita miliki hanya akan datang satu kali, kita merasa cukup ketika mendapatkannya, tanpa perlu merawat untuk membuatnya bertahan.
Melihat segala hal yang membuatku ingin namun pada akhirnya hanya sekadar angan selalu membuatku tersadar bahwa setiap kali memperjuangkan sesuatu, menang bukanlah satu-satunya pilihan yang menunggu kita di akhir. Aku sendiri lebih sering kalah dan gagal menjadi pemenang dalam sebuah pertempuran. Bahkan sesekali aku sudah bisa merasakan kekalahan ketika pertempuran itu baru dimulai. Aku bertanya pada diri setiap kali hal itu terjadi, mengapa aku masih berjuang jika pada awalnya aku sudah merasa akan kalah, dan aku selalu menemukan jawaban-jawaban yang berbeda saat aku menginjakkan kaki di akhir pertempuran. Aku menemukan jawaban bahwa pengalaman-pengalaman adalah guru paling mahal yang bisa kita bayar, atau jawaban bahwa tidak ada yang salah dari memperjuangkan sesuatu yang kita yakini. Aku belajar bahwa mampu menerima kekalahan dengan lapang dada adalah kemenangan sesungguhnya.
Barangkali, beberapa hal diciptakan untuk menguji seberapa kuat dan seberapa tangguh kita menghadapinya, hal-hal ini dibuat sebagai sebuah pertanyaan tentang apa yang kita impikan di masa depan, seperti mereka yang tidak percaya dan mempertanyakan mimpi-mimpi, apa yang memang kita yakini, atau kadang akses yang tidak diberikan pada kita namun diberikan pada mereka yang leluasa punya ruang gerak sedang kita sama sekali tidak. Kita tetap berjuang untuk sesuatu yang memotivasi kita untuk menjadi manusia dengan daya dan guna. Karena hanya dengan mimpi-mimpi yang mampu membawa kita jauh dari tempat kita sekarang, mimpi membuat kita hidup, kita membangunnya perlahan, kita tidak mau itu menjadi rusak atau sekadar menjadi monumen saja. Kita merawat mimpi kita seperti seorang ibu yang baru melahirkan bayi yang lucu. Bayi-bayi yang secara verbal belum bisa bekomunikasi, namun tetap punya ikatan pada seorang perempuan yang telah menyediakan tempat baginya bertahan selama sembilan bulan.
Kita diberkati oleh mimpi-mimpi, oleh keinginan dan keinginan yang membentuk diri kita sebelum ini. Mimpi-mimpi itu memberi kita kekuatan, memberi segala hal yang kita butuhkan, dan kita selalu senang membicarakannya pada orang-orang. Kita senang jika menemukan seseorang yang mendukung mimpi-mimpi kita, terlebih jika seseorang itu terus membantu dan mendampingi kita. Mereka selalu menjadi orang-orang yang kita tunggu kehadirannya, di antara lingkungan yang menolak dan tidak mempercayai bahwa mimpi kita akan bisa terwujud pada akhirnya. Kita membentuk lingkungan kita sendiri, dan berusaha untuk bisa mengendalikannya. Sebelum semua pergi dan kita ditinggalkan, kita, termasuk aku ingin membuat mereka nyaman dan merasa bahwa aku adalah tempat mereka pulang untuk menceritakan segala hal yang membuat pikiran dan perasaan mereka menjadi tidak tenang, atau sekadar membicarakan hal-hal remeh, seperti mengapa banyak perempuan harus memiringkan kepalanya atau menempelkan tangan di dagu untuk mendapatkan hasil foto yang bagus.
Tapi, selalu ada tokoh jahat di setiap cerita, mimpi adalah tokoh protagonis di fiksi yang kita tulis sendiri, sedang kebingungan dan perasaan-perasaan tidak yakin adalah antagonis yang selalu mendampingi, ia ada untuk meruntuhkan semua yang telah susah payah kita bangun. Kita merasa insecure atas apa yang kita yakini, apa yang kita jalani, kita bergerak seirama menuruti apa yang menjadi tujuan si protagonis dan antagonis. Itu mengapa kadang kita merasa seperti jalan di tempat, sudah bekerja keras namun tetap tidak ada hasil yang signifikan, lalu kita merasa dunia menjadi tidak adil. Kita berhenti, mengevaluasi apa yang sudah kita lakukan sebelumnya, merasa tidak ada yang salah dari cara kita memulai dan berproses, namun selalu muncul pertanyaan mengapa belum ada sesuatu yang dihasilkan dari apa yang sudah dilakukan, kemudian muncul kembali sebuah pertanyaan tentang bagaimana cara melihat hasilnya. Kita jadi ingin cepat mendapatkan hasil, sampai lupa bahwa proses adalah bagian dari hasil yang kita tunggu.
Muncul hal-hal asing dalam kepala, ia membawa segudang pertanyaan yang membuat kita kembali mempertanyakan apa yang kita yakini. Kita berhenti sesaat, bahkan ada beberapa dari kita yang terpaksa mundur satu langkah atau lebih. Ada badai yang merusak, badai itu tidak kita duga kedatangannya, ia adalah tokoh antagonis, ia adalah pembawa petaka yang seringkali menetap lama dan tidak pernah kita ketahui kapan perginya. Selalu ada usaha-usaha yang dilakukan untuk membuat badai itu pergi, karena kita berpikir badai itu seperti hama di sawah yang mengganggu habitat asli. Kita berusaha mengusirnya namun seringkali gagal, ketika kita berhasil, badai itu muncul kembali di waktu dan tempat yang tidak tepat.
Seperti pada mulanya aku bertemu Tania, tidak di waktu yang tepat karena saat itu aku baru saja diguncang patah hati yang hebat, aku merasa sudah selesai pada segala hal tentang cinta. Aku mencukupkan diri karena tidak ingin lagi patah hati, karena yang terakhir benar-benar sampai mengubah pandanganku pada cinta. Tania datang dalam kepolosannya tentang aku, saat itu kami terlibat dalam sebuah projek kolaborasi, aku masih menulis tentang cinta masa muda yang penuh dengan gairah dan ambisi, ia telah menulis beberapa puisi yang dalam penuh dengan makna dan filosofi tentang apa itu hidup. Aku melihat diriku di masa depan saat aku membaca apa yang ia tulis. Meski ia tidak menulisnya dalam sebuah buku seperti yang kulakukan.
Tania adalah tokoh yang membuatku bebas dari kepungan perasaan-perasaan menyebalkan, ia adalah oase yang membuatku kembali memahami tujuanku, ia adalah juru penyelamat, ia membuatku melupakan segala hal yang sebelumnya memenjarakanku. Hal-hal menyebalkan itu coba ia pahami dan kuasai, ia menjadikannya sebagai peluru untuk membuatku luluh. Ia hadir saat semuanya menjauh, ia hadir saat semuanya pergi dengan kepastian bahwa aku bertahan. Ia datang dengan senyum yang aneh, senyumnya selalu tidak pada tempatnya, ia hanya tersenyum dan tertawa pada hal-hal tertentu yang benar-benar mengusik seleranya. Leluconku hampir tidak pernah membuatnya tertawa, meski orang lain selalu terbahak-bahak dengan lelucon yang sama. Itu mengapa aku selalu senang saat berhasil membuatnya tersenyum lebar hingga tertawa, di saat itu aku merasa punya nilai. Sesuatu yang sudah sejak lama tidak kuterima.
Perasaan-perasaan menyebalkan seperti ditinggal tanpa sebab, padahal kita telah mencurahkan semuanya, atau janji-janji yang tidak ditepati dan kita masih menunggu hingga kini. Sepertinya orang-orang mudah membuat janji lalu merasa tidak membuat janji, mereka memutuskan sepihak tanpa mengabari, membuat kita menanti hingga harapan pupus. Kepercayaan hilang dan kita berusaha menjauh dari orang-orang seperti itu. Sayangnya hal semacam itu bukan hanya dilakukan oleh satu orang, ini seperti sudah menjadi gerakan nasional, mereka satu suara—satu perilaku. Saat aku memutuskan untuk akhirnya membuka diri, membuka semua kemungkinan yang masuk ke duniaku, aku justru mendapati lukaku yang makin menganga. Luka itu justru dibuat semakin lebar meski tidak sesakit sebelumnya, aku lebih merasakan kecewa pada mereka yang seenaknya masuk tanpa pikir panjang, tanpa berpikir bahwa mereka bisa menyakiti, bisa membuat kecewa. Dan ketika manusia merasa kecewa pada manusia lainnya, ia akan hilang percaya. Dan kita semua tahu, membangun kepercayaan bukan hal yang mudah.
Aku harus bilang, Tania bukan perempuan seperti itu, ia terlahir sebagai manusia yang datang dari dimensi lain, ia muncul dari level yang berbeda. Ia memberitahuku satu hal, bahwa alasan mengapa lukaku makin menganga karena orang-orang itu juga sedang merasakan perasaan yang sama denganku, perasaaan ditinggalkan dan butuh kasih sayang. Mereka keluar dari habitat setelah mengalami fase tidak butuh cinta, fase tidak membutuhkan sebuah hubungan yang intim. Saat mereka tidak merasakan kasih sayang yang sama seperti dulu, mereka akan pergi, tanpa perlu permisi, karena memang tidak perlu pamit.
Kita semua punya role model, pasangan terakhir, yang sampai saat ini membuat kita enggan mencicipi lagi apa itu cinta. Ia adalah standard yang kita pakai untuk orang yang akan kita terima setelah ini. Kita menuntut orang-orang baru untuk bisa seperti dirinya, kita menuntut sama persis tanpa cacat sampai kita lupa hal itu tidak mungkin terjadi, itu mengapa kita tidak bisa lagi merasakan bahagia, karena standard membuat kita lupa diri, lupa mimpi, lupa cita-cita.
Saat itu aku dan Tania berniat menulis sebuah buku puisi. Seorang teman mengenalkan Tania sebagai salah satu partner kerjanya, dan detik itu juga aku jatuh pada senyum pertamanya, senyum aneh yang tampak dipaksakan. Kami terlibat kontak verbal dan non verbal selama kurang lebih enam bulan untuk mempersiapkannya. Aku saat itu merasa senang bisa diajak kolaborasi, karena aku melihat visi kita sama, datang dari patah hati yang sama, dan guncangan dahsyat di dada. Guncangan yang menghancurkan mimpi-mimpi yang telah disusun dan dipikirkan matang-matang. Mimpi yang membuat kita hidup, mimpi yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya.
Pertemuanku pertama dengan Tania ada di sebuah coffeeshop di dekat rumahku, bahkan aku masih mengingat tanggalnya setelah sebelas tahun. 4 September pukul tujuh malam, saat itu gerimis turun, Tania dengan rambut sebahu tampak anggun denga kaus putih polos yang dimasukkan pada sebuah rok lebar selutut, ia juga memakai jaket gaya lama milik bapaknya. Ia bersama teman lamaku yang pertama kali mengajakku berkolaborasi. Tania membawa tote bag putih yang belakangan kuketahui adalah tote bag favoritnya dari berbagai jenis tote bag yang ia punya. Sebelumnya kami sudah saling membalas pesan di sosial media dan aku tetap merasa canggung meski Tania terlihat sangat santai. Aku berusaha membuang muka, aku menghindari menatap matanya yang meneduhkan. Temanku sama sekali tidak tahu bahwa sebelumnya aku dan Tania sudah saling betukar pesan, ia mengira bahwa ini adalah pertama kalinya kami bertukar bahasan.
Tania adalah karakter love interest dalam cerita ini, cerita yang ingin mulai kutulis sebelum aku terlewat dan kehilangan dirinya. Ia karakter yang berhasil mencuri perhatian tokoh protagonis, ia berhasil mencuri perhatianku tanpa perlu upaya berlebih. Ia seperti memenangkan pertempuran hanya dari tempat duduknya yang nyaman. Dan aku perlu bergerilya untuk mengetahui bahwa ada wanita senarkotik dirinya. Saat itu, semua yang sempat membayangiku seketika hilang dan menguap, ia menghapus awan kelabu di atas kepala, hanya langit biru yang kulihat saat akhirnya berani menatap kedua matanya.
Pertemuan pertama kami membuatku mengingat pertemuan-pertemuan yang lain, coffeeshop menjadi tempat yang selalu mempertemukanku dengan seorang perempuan yang pernah ada di setiap ceritaku, entah menjadi karakter protagonis, love interest atau seorang sidekick, aku punya hubungan panas dingin yang belum selesai hingga kini dengan hampir semua coffeeshop di kota ini. Tapi aku menyadari satu hal, sebagai tempat pertama kali bertemu, coffeeshop adalah media pertemuan yang indah dan melegakan. Tania adalah sosok sederhana, ia ada di level teratas tipe perempuan yang banyak digilai laki-laki. Ia apa adanya, dengan cerita-cerita menarik yang selalu muncul dari bibir mungilnya.
Tania adalah seorang pendiam, ia menjadi diam bukan karena sifat yang menempel sejak lahir. Ia memilih menjadi pendiam karena pengalaman hidup yang lebih banyak membuatnya sakit. Ia telah mengalami berbagai garam, cobaan yang membuatnya perlu menjadi kuat dan tegar. Saat pertemuan kami yang pertama ia telah menjadi besi yang ditempa bara api paling panas. Tania menjadi kuat di dalam, meski di luar ia terlihat rapuh. Itu yang membuatku menyadari bahwa setiap tulisannya adalah cerminan dari pengalamannya merasai gelap dan kelamnya masa-masa kecil. Ia menjadi suram pada saat-saat tertentu, menjadi terang pada saat-saat lain. Dan aku suka keduanya, aku tetap bisa melihat sosok asli yang coba disembunyikan Tania dari orang-orang sakit jiwa yang mengaku waras namun merusak tatanan, merusak sosial yang dibangun sejak lama.
Banyak kesamaan antara aku dan Tania, ia dan aku sama-sama menyukai pertunjukan teater, ia tahu Anton Chekov terkenal karena naskah berjudul Orang Kasar. Ia juga tahu naskah Pagi Bening Karya Serafin dan Joaquin Alvarez Quintero, ia pernah bermain menjadi Donna Laura dalam drama komedi satu babak dari Spanyol itu.
Aku sendiri lebih suka naskah teater dari dalam negeri, seperti Ayahku Pulang karya Usmar Ismail atau naskah berjudul RT Nol RW Nol karya Iwan Simatupang. Aku lebih suka cerita-cerita yang menggambarkan kondisi sosial yang ada. Seperti dalam Ayahku Pulang, dengan satu keluarga yang menunggu ayah pulang di hari-hari akhir Ramadhan, situasi itu menunjukkan kerinduan yang mendalam atas seseorang yang mereka sayangi, Usmar Ismail menggambarkan kelemahan-kelemahan manusia dan kesedihan yang menempel sebagai bagian dari keberadaan manusia. Atau Iwan Simatupang yang memotret kemiskinan di kota besar dengan latar kolong jembatan dengan segala jenis manusia dan masalahnya masing-masing. Aku pernah membicarakan dua naskah ini dengan Tania, dan ia benar-benar memperhatikan, bahkan matanya berkaca-kaca ketika mendengar opiniku tentang dua naskah yang selalu dipakai oleh komunitas-komunitas teater.
Saat kutanya mengapa ia sampai seantusias itu mendengar semua yang keluar dari bibirku, ia membuka jawaban dengan senyum yang tidak biasanya. “Aku ketemu cowok yang frekuensinya sama, aku seneng. Aku belum pernah ketemu cowo mirip kamu gini,” ia memegang tanganku, membuatku tersipu dan entah harus merespon apa. Ia berhasil membuatku salah tingkah dalam sekejap, bukan dalam hitungan menit, hanya butuh hitungan detik bagi Tania untuk membuatku seperti itu.
Malam setelah pertemuan kami di coffeeshop itu, tepat setelah gerimis usai, sebelum memutuskan pulang Tania mengajakku makan. Kami melanjutkan obrolan hingga dini hari di warung burjo yang tidak jauh dari coffeeshop tadi. Aku, Tania dan teman kami membicarakan banyak hal di luar hal-hal tentang kolaborasi kami. Di warung burjo itu aku mulai terbuka meski tetap terlihat sedikit canggung. Aku berani menatap matanya saat Tania mengajakku bicara, banyak hal yang ia tanyai, seperti sejak kapan aku menulis, apa yang membuatku begitu menyukai proses itu, atau hal apa yang menggerakkanku.