Ada banyak cara menunjukkan kesedihan, ada banyak cara menggambarkan tangis dari sepasang mata yang baru saja melihat atau mengalami kenyataan yang tidak pada tempatnya. Seniman-seniman lebih punya cara yang unik sehingga menimbulkan kesan mendalam. Ada pembuat film yang ingin membuat adegan di mana karakter utamanya menangis, dulu adegan itu dibuat dan benar-benar membutuhkan aktor untuk menangis di depan kamera, kini kemungkinan itu lebih banyak dihindari, daripada benar-benar menunjukkan air mata, para seniman mencari cara lain untuk membuatnya menjadi tidak biasa dan tetap diingat. Seperti adegan di mana aktor menatap ke luar jendela, dan di luar keadaan sedang hujan, atau saat seorang aktor duduk lesu di bawah shower yang mengucurkan air dan membasahi dirinya. Memperlihatkan kesedihan dan air mata tanpa perlu terang-terangan menunjukkan air mata yang basah di pipi. Atau beberapa film di mana seorang aktor berada di dalam mobil, mengendarai di jalan yang basah oleh air hujan. Ia mengendarai mobil sendirian dan hujan mengguyur mobil itu, tanpa perlu benar-benar menangis.
Barangkali itu cerita yang kini tersaji, aku mengurung di dalam kamar mandi, duduk di dalam bathtub yang mengalirkan air, Tania masih duduk di depan pintu, aku tidak menjawab apa pun yang keluar dari bibirnya. Aku tidak mengunci pintu, itu yang kusukai dari Tania, ia bukan pemaksa, yang akan memaksa masuk meski aku tidak menghendaki. Ia akan menunggu, memberiku ruang untuk merenung, dan terus berbicara untuk meluluhkanku. Aku mematikan air setelah hampir setengah mengisi bathtub itu, tanpa melepas baju, aku membiarkannya basah. Tani mengetuk pintu sekali lagi tepat setelah aliran air berhenti dan situasi di dalam kamar mandi menjadi hening.
Aku hanya kecewa mengapa masih saja Tania menyembunyikan sesuatu, lebih baik ia menceritakan semuanya meski itu pahit sekalipun, karena sebelum pernikahan kami, aku dan Tania sudah berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan-kesalahan masa lalu yang membuat kita harus pergi dulu sendiri-sendiri. Aku hanya ingin dia jujur, dan ia memintaku untuk menekan ego yang bisa membuatku menjadi makhluk paling emosional dan mudah memamerkan amarah. Dan yang paling membuatku bertanya-tanya adalah mengapa harus Badai yang memainkan posisi ini, mengapa harus dirinya yang memantik amarah di dalam diri. Aku merasa ada sisi lain di dalam diri yang memintaku untuk memaklumi, aku tidak bisa sepenuhnya marah. Aku mencintai Tania, dan menyayangi Badai sebagai teman baik yang dulu selalu ada.
Aku jelas tidak ingin apa yang terjadi sebelas tahun lalu terulang kembali, saat cerita-cerita singkat jadi bumbu paling pedas, aku tidak ingin ego keluar dari tempatnya. Itu mengapa setiap kali pertengkaran-pertengkaran terjadi aku selalu menyendiri di kamar mandi. Dan Tania selalu berada di depan pintu membicarakan masa-masa kita yang dulu, membuatku seperti memasuki lorong waktu, aku tidak pernah tahu bagaimana ia bisa melakukan itu, meluluhkanku yang cemburu.
Tiba-tiba aku mendengar sebuah lagu yang Tania putar dari balik pintu, lagu pembuka dari album kedua musisi kesukaan kami. Ia menyanyikan merdu, membuatku selalu rindu, bahkan aku punya satu folder di dalam ponselku yang berisi rekaman Tania bernyanyi atau sekadar mengucap selamat pagi. Aku selalu menyimpan pesan suara yang dikirim Tania sejak sebelas tahun lalu cerita kami dimulai. Rindu selalu tutup telinga saat ia datang dan meninggalkannya di meja depan, meninggalkanku sendirian, dan saat itu datang aku langsung mendengar suaranya meski fisiknya tidak di tempat. Masa-masa kelam saat perburuan dimulai namun tetap saja gagal, sudah kubilang berulang kali, tidak ada yang senarkotik Tania, bahkan ia tidak pernah mengganti gaya rambutnya, masih sama seperti dulu. Bahkan sifatnya selalu membuatku bukan hanya rindu tapi juga ingin—ingin memeluk, menjadi hangat bersama, ingin mencium—menjadi basah berdua.
“Inget lagu ini gak? Kamu ngevideoin aku, videonya kamu simpen sampe sekarang,” aku mendengar suara yang bergetar timbul dari mulut Tania, aku tersenyum singkat saat mengingatnya. Mengambil video saat penyanyi itu membawa lagu pertama di sesi kedua dalam tur album keduanya.
“Waktu itu kita sama-sama butuh minum, haus dan gak boleh bawa makan sama minuman dari luar, tapi herannya banyak yang bawa minuman padahal di sana gak jual minuman. Terus kamu buru-buru lari ke Indomaret paling deket, sampe sana ternyata tutup. Terus kamu balik gak bawa apa-apa, kamu ketinggalan setengah lagu ini, terus kamu ambil videoku lagi nyanyi sambil diem-diem ambil botol minuman di bawah yang tinggal setengah. Kamu kasih ke aku dulu, baru kamu minum. Katanya kamu beli di luar dan udah kamu minum duluan, ternyata… Inget gak?”
Tania membuka pintu itu, ia melihatku basah kuyup di dalam bathtub dengan air yang hangat. Ia tersenyum lalu duduk di sampingku, ia duduk bersimpuh di luar bathtub, menatapku dengan tatapan hangat yang tidak bisa kutolak, ada badai dalam diriku yang meronta-ronta minta keluar, namun aku berhasil menahannya sebelum jadi monster yang menakutkan.
“Aku minta maaf,” ucapku.