Jalanan kota yang macet tidak sedikit pun membuatku berpikir bahwa apa yang sudah kulakukan adalah sesuatu yang salah, aku justru berpikir harus pergi ke mana, aku butuh seseorang yang mau mendengar ceritaku ini, dan dari banyaknya nama ada dua yang muncul di permukaan; Tsamara dan Hary.
Dan Hary jelas menjadi pilihan kedua, karena Tsamara adalah seseorang yang tepat untuk mendengar ceritaku, ia telah merasakan lebih dulu apa yang kini kurasakan. Meski ia belum menikah namun ia paham betul apa itu perselingkuhan. Aku butuh orang yang tepat untuk mendengar tentang semua yang terjadi. Tania tidak menelponku, ia juga tidak mengirimiku pesan, aku makin membiarkan ini mengalir begitu saja, aku dengan kesedihan-kesedihan dan ego yang masih membabi buta, dan Tania yang berubah menjadi karakter antagonis.
Aku menuju utara, belok kanan setelah persimpangan pertama, menuju rumah Tsamara. Rumah Tsamara adalah jenis rumah idaman setiap orang, minimalis dengan bentuk unik dan material kaca yang mendominasi. Tirai-tirai panjang menghiasi rumah untuk menutup kaca-kaca kala malam, supaya orang dari luar tidak bisa melihat ke dalam. Rumahnya berbentuk segitiga yang tidak presisi, sisi miring sebelah kiri lebih pendek dari pada sisi kananya menjulang hingga ke belakang memisahkan sebuah kolam renang yang hampir mengambil semua lahan belakang. Yang unik justru letak pintu depan rumahnya, pintu itu berada di samping kanan, di depannya ada lahan yang biasa Tsamara gunakan untuk memarkir mobil, rumahnya serba putih, rumah minimalis di antara rumah-rumah modern model istana dengan pagar tinggi dan kamera pengintai di depannya.
Aku menelpon Tsamara saat sampai di depan pagar, “aku di depan,” ucapku sambil menghapus air mata, ia langsung menjawab. Beberapa detik kemudian Tsamara membuka pagar kayu itu, dan aku masuk, memarkirkan mobil tepat di belakang mobil milik Tsamara. Ia menutup pagar kembali, menungguku turun dari mobil. Ia memakai piyama jenis night robe warna krem dengan tali yang melingkar di pinggangnya, rambut hitam Tsamara dibiarkan terurai di sisi kanan, dan kudengar musik Jazz mengalun hingga ke telinga saat aku turun dari mobil.
“Sorry baru ngabarin,” kataku tertunduk lesu.
“Kamu kenapa? Masuk-masuk,” Tsamara menyilakanku, membuka pintu dan menahannya sampai aku benar-benar masuk.