Ini tentang mimpiku semalam, ada debar yang membuatku terbangun dari keringat yang menyetubuhiku. Ia wanita yang membantuku keluar dari rasa sakit, aku bahagia mendengar suaranya saat ia menelponku, atau saat ia tiba-tiba mengirimi pesan. Ia memborbardir ruang obrolanku dengan penuh ceracau yang mampu membuatku merasa hangat terlebih dengan senyum-senyum itu. Aku mencoba mengingat apa yang ia katakan dalam mimpi itu, aku berusaha tidak mengabarinya selepas mimpi usai. Aku sungkan, aku tidak berani, aku lemah, aku terlalu takut mendengar responnya. Aku takut ia tak tertarik atau tak peduli. Tapi semakin lama aku memendam sendiri, semakin sering mimpi itu menggema. Mimpi-mimpi selalu berhasil membuatku menyerah pada realita, mimpi adalah tempat aku lari dari kenyataan. Mimpi selalu berhasil membunuhku.
Aku bahkan bisa merasakan angin yang menyentuh kulitku, suara-suara daun yang bergesekkan, atau suara ciut burung yang menggema di telinga. Di mimpi itu aku menatapnya penuh kedalaman, dan wajahnya yang diselimuti kehangatan itu membuatku rindu ingin menyapanya sekali lagi. Sakit yang kuderita bahkan tak lagi kurasa, aku berpikir apakah aku membutuhkannya? Tapi realita selalu menamparku. Realita membuatku sadar diri. Bahwa aku hanya pria jauh yang datang dari luar kehidupannya. Entah perasaan macam apa ini, aku sungguh ingin bertemu dengannya.
Di mimpi itu, ia sempat tersenyum sekali, yang membuatku tertular dan membalas senyum yang manis itu, senyum yang meramalkan kisah cinta kami. Senyum yang membunuhku saat pertama kali menatapnya. Senyum yang kurindui bahkan sebelum kutemui. Jika ini yang dinamakan cinta, aku lebih baik mati, daripada terus hidup dan hanya mampu melihat untuk merasakan kehadirannya dari jauh. Bahkan ketika sakit itu melanda lagi, aku selalu mengingat namanya, hanya ingin bertemu dengannya. Tapi takdir seolah mengelabuhiku. Katanya aku perlu sabar untuk bertemu dan menuntaskan perasaan itu. Aku terbunuh oleh mimpiku sendiri.
Wanita ini sungguh sederhana, ia melihatku dari caranya memahami hidup. Paling tidak aku mampu menjadi diri sendiri karenanya, aku suka membaca pesan-pesan lamanya. Di mimpi itu senyumnya begitu romantik, begitu narkotik. Aku masih berusaha mengingat kata-kata yang ia ucapkan dari bibir itu sebelum aku terbangun dari tidur yang singkat, namun rasanya mimpi itu begitu lama. Lalu akhir dari semua kegundahan itu kuputuskan untuk memberitahunya tentang mimpi yang kualami semalam.
Melalui tulisan ini, kuharap ia membacanya, kuharap ia mampu memahami apa yang sebenarnya kurasa, kecemburuan yang membuncah saat ia menceritakan seorang yang ia cintai, atau perasaan yang membuatku merasa ingin memiliki; namun realita selalu membuatku terbunuh, aku terbunuh di dua ruang: realita dan mimpi sendiri. Aku harap ia tetap menjadi napas di tiap pagiku, atau mimpi di tiap malamku, bahkan saat ia tak mengharapkan kehadiranku. Aku benci mimpi-mimpi, aku ingin membunuhnya. Namun lain hal ketika mimpi-mimpi hanya di isi olehnya, aku rela hidup terus di ruang mimpi. Aku ingin mencumbuinya di sana, merinduinya di sana, memeluknya di sana, menciumnya di sana. Memilikinya di sana. Meski itu hanya mimpi, setidaknya aku merasa hidup..
Ini tentang mimpiku semalam, tentang mimpi-mimpi yang telah membunuhku berulang kali. Aku terbangun dua kali dan mimpi itu tetap berlanjut. Aku seperti terbangun dari sebuah perjalanan waktu yang gagal total. Di hutan dengan pohon-pohon pinus menjulang tinggi aku berdiri di depan seorang wanita berpakaian serba hitam, bibir merahnya seolah bersinar di antara redup-redup sekitar. Kami berdiri berjauhan, mimpi itu rasanya begitu nyata, aku bahkan masih mengingat wajahnya. Seorang wanita yang entah bagaimana bisa merasuki mimpi-mimpiku. Ini ketiga kali aku memimpikannya. Dan ia benar-benar membunuhku.
-----
Aku terdiam lama, Tsamara sibuk di atas mengerjakan sesuatu yang membuatnya lupa dunia. Aku menutup jurnal Badai setelah membaca satu lagi tulisannya, tulisan tentang mimpi yang membunuhnya, dan tentang seorang wanita yang menciumnya di bawah tangga. Tidak ada respon apa pun yang muncul dari dalam, aku hanya ingin melupakan apa yang terjadi di rumah, namun tetap saja gagal. Aku butuh teman bicara. Kuputuskan untuk menghampiri Tsamara, naik melalui tangga melingkar dengan karpet merah gelap di masing-masing anak tangga. Aku melihat Tsamara sibuk dengan sketchbooknya, ia lalu menutup buku itu saat melihatku muncul. Ia melirik laptop yang terbuka di atas meja kayu di sudut ruangan itu. Aku ikut melirik, laptop itu membuka laman whatsapp web.
“Sorry…”
“It’s fine,” senyum Tsamara setelah beberapa detik mentapku.
“Aku masih syok.”
“Kita semua syok, aku juga.”