Aku melakukan kesalahan besar. Aku tidak sanggup keluar pada lingkaran ini, aku memutuskan pergi sebelum semuanya rusak. Aku terus berpikir bagaimana cara menghilang tanpa alasan, namun semakin lama aku memikirkan hal itu aku tidak juga menemukan caranya. Aku harus punya alasan kuat supaya orang-orang berpikir aku melakukan sesuatu yang besar, aku melibatkan semua pada lingkaran ini, tapi orang-orang yang terlibat tidak menyadari perannya, tidak menyadari keterlibatan mereka di permainan yang kubuat. Aku benar-benar memikirkan hal ini sebelum memutuskan semuanya.
Setahun lalu aku bertemu seorang politikus dari salah satu partai besar. Seperti biasa aku melakukan wawancara untuk halaman utama surat kabar tempatku bekerja. Saat itu politikus ini belum memutuskan untuk maju sebagai calon presiden ia juga sama sekali tidak masuk dalam bursa-bursa capres atau cawapres, namanya juga tidak masuk dalam survey yang dilakukan berbagai lembaga survey. Yang harus kubilang padamu adalah satu hal, hal paling penting di antara yang kuketahui, ia ingin menguasai negara dengan perlawanan atau tumpah darah. Bahkan ia berujar akan membunuh lawannya ketika ia berhasil memuaskan hasratnya untuk menjadi presiden.
Apa yang kamu baca di surat kabar waktu itu bukan semua yang kuketahui, pihak redaksi memotongnya, mereka tidak ingin terjadi kekacauan, aku memahami itu, bahwa surat kabar bukan lagi soal melaporkan berita apalagi kebenaran, kini semuanya soal bisnis dan bagaimana cara terus bertahan untuk ada di industri ini. Jangan seratus persen percaya pada surat kabar, itu mengapa aku mengirim ke media-media online.
Setelah aku melakukan wawancara itu, aku menemui politikus lain yang juga ada di dalam satu lingkaran sama, aku menemui hampir sepuluh orang lainnya. Aku terkejut bahwa mereka memiliki perkumpulan bawah tanah dan memiliki agenda besar, bahkan mereka punya sebuah kitab yang digunakan untuk memengaruhi orang lain supaya ikut dalam perjuangan dan pergerakan mereka. Dan mereka berjanji manifesto akan diumumkan saat salah satu dari mereka terpilih menjadi Presiden.
Aku butuh waktu satu tahun menulis laporan itu dan berpikir jernih untuk merilis semua yang kuketahui. Tidak ada yang tahu tentang ini kecuali Tania, ia adalah istri dari sahabatku sendiri. Ia adalah istrimu. Aku ingin meminta maaf namun waktu tidak memberiku ruang melakukan itu. Aku beberapa kali pergi ke Jerman untuk menemuinya, kami punya cerita-cerita singkat yang membuatku lega di tengah kemelut badai yang coba kuhalau. Tapi kemelut itu justru terus menghantuiku, aku tidak merasa tenang jika aku tidak merilis laporan itu. Tania menjadi satu-satunya manusia yang membuatku tenang setiap ada di sampingnya, ia yang memberitahuku bahwa ketika ada hal-hal salah yang kita ketahui dan tidak membuat kita begerak untuk melaporkan kesalahan itu, kita ikut bertanggung-jawab ketika kesalahan itu merugikan orang lain.
Akhirnya aku merilis laporan itu tepat setelah politikus itu dilantik menjadi presiden.