Di Mana Badai Sembunyi

Zahid Paningrome
Chapter #25

4:6

Aku salah, membiarkan seorang perempuan menangis sendiri, ia membawa beban yang tidak pernah kusadari, beban yang nyatanya lebih berat dari yang bisa kutanggung. Tidak seharusnya aku begini, menuntut dicintai namun lupa mencitpakan ruang, aku memilih mengalah sekali lagi. Membiarkan tangis mengendap dalam diri, menghapus ego jadi debu setengah populasi, aku tidak ingin ini terjadi lagi, kesalahan membuatku hilang diri. Aku adalah sosok lain saat amarah memengaruhi dan membawaku pada ruang-ruang gelap. Aku bukan sosok yang mencintai Tania saat emosi diri meluap seperti gelas yang terus diisi tanpa henti. Aku tidak punya siapa-siapa lagi, aku hanya punya Tania untuk menemaniku di masa tua. Melupakan kesedihan-kesedihan lama bersama dalam peluk dan kasih sayang yang sama.

Aku tidak bisa tidur tenang, memikirkan apa yang selanjutnya akan terjadi, aku tidak tenang memikirkan Tania, ia terus mengisi ruang pikirku. Saat aku melihat masalah ini lebih luas, aku merasa Tania bisa pergi jika aku terus menghilang dari dunianya, aku akan membuatnya kehilangan dua manusia yang ia inginkan untuk hadir di hidupnya. Aku gagal menjadi suami yang baik, aku gagal memelihara harta yang diberi tuhan cuma-cuma, aku merasa gagal karena apa yang terjadi membuatku melepas semua atribut tentang cinta, rindu, kasih, sayang, dan yang nyaman juga aman. Aku berpikir apakah kesalahan macam ini bisa dilupakan dan kita akhirnya bisa melanjutkan hidup seperti yang dijalani orang lain.

Aku sadar hidup bukan perihal apa yang ingin kujalani saja, hidup bukan apa yang kuinginkan untuk ada dan menjadi bagian dari ruang-ruang di mana aku duduk nyaman, di mana aku mengampuni dan mengasihi orang-orang yang hanya ingin kulihat untuk ada di ruangan ini. Ruang hidup yang kudesain sendiri menjadi bagian aset yang seperlunya harus kujaga. Aku ingin tumbuh bersama seseorang yang bisa menjagaku ketika badai-badai dalam hidup tiba dan memainkan perannya di waktu dan tempat yang tidak kita tahu. Badai-badai dalam hidup seharusnya kita perhitungkan lebih dulu di mana ia bersembunyi, di mana ia akan keluar, dan dengan cara apa ia menunjukkannya. 

Badai dalam hidupku hampir merusak semua yang kubangun sejak awal, namun yang kupelajari di akhir adalah bahwa badai itu memberiku banyak hal yang sebelumnya tidak pernah kutemukan di mana-mana. Bahwa apa yang kita alami saat ini barangkali sempat dialami orang lain dan orang itu berhasil melewatinya dengan baik, dengan beban yang berbeda, kekuatan putaran yang lebih merusak bahkan mungkin orang-orang itu tidak memiliki sosok teman yang punya peran untuk membantunya keluar dari hal-hal menyedihkan itu. Badai sembunyi di tempat yang sebetulnya kita ketahui, namun kita menganggapnya hanya bagian kecil dari risiko yang kita pilih, lalu lama-lama kita tersadar bahwa badai itu membawa kita pada pengalaman-pengalaman yang tidak pernah kita duga sebelumnya. 

Masalah yang datang menerus di saat perasaan sedang ada di titik paling rapuh, ia rentan meski hanya disenggol sedikit. Iya, memang betul luka itu terbentuk sempurna dibanding luka-luka yang lain, namun hari belum usai, masih ada hari-hari lain yang menunggu kita, yang perlu kita lakukan hanyalah istirahat, merenungkan semuanya, tidur sejanak, dan memimpikan bayi-bayi lucu yang mencoba menjangkau ibu yang terkapar lemah selepas melahirkan. Selayaknya bahwa kita adalah peran penting dalam cerita orang lain, bayangkan jika orang itu kehilangan satu peran, peran yang membuatnya merasa bahwa hidup membutuhkannya lebih dari yang ia pikir, sehingga ia butuh melengkapi peran dan cerita-cerita itu. Bahwa hidup yang masuk ke dunia setiap orang selalu punya koneksi dan benang merah yang sama Kita hanya perlu bersabar untuk menyatukannya di waktu yang tepat. 

Dalam perjalanan ini aku sempat memimpikan Tania yang berada dalam persimpangan jalan yang gelap, ia hanya membawa satu senter di tangan kanannya, dan aku berada di salah satu jalan itu, ia tidak memilih jalanku karena senter yang ia bawa tidak menyala dan ia tidak melihatku berada di sana. Saat aku teriak, ia tidak mendengarku sama sekali, aku sibuk memanggilnya tanpa bisa bergerak. Berhari-hari aku berpikir apa makna dari mimpi itu. Berhari-hari juga aku tidak menemukan jawabannya, aku hanya berkutat pada mengapa persimpangan itu dibuat, mengapa ada aku dan Tania di sana, tanpa berpikir senter itu akan menyala hanya jika aku menyatu dengan tubuh Tania, sepasang manusia yang memutuskan untuk hidup bersama dan berjanji untuk selamanya, sehidup semati. Ruang gelap yang bisa dilewati bersama meski hanya dengan satu sumber cahaya.

Lihat selengkapnya