Di manakah Kepala Kucing?

Kurienta
Chapter #1

Selesai Sebentar

Suara cecapan berubah menjadi eongan. Hanya sekali duakali, pelan, kemudian terus mengeras, berulang, dan semakin mendekat.

Sahara melirik. Kucing belang tiga mulai mondar-mandir tak beraturan. Sesekali menggosokan kepala atau badannya ke kaki Sahara, anak yang memberi kucing itu makan tadi.

Sahara mengerti kucing itu masih lapar, tetapi pikirannya berkata bahwa si kucing hanya mencari perhatian.

“Sedikit ngelitik di pangkal ekor. Kalau kucing senang, elus punggungnya. Elus sebentar saja lalu ngelitik lagi di bagian leher. Kalau sedang buru-buru elus kepalanya saja. Dua usapan telunjuk sudah cukup.”

Dua usapan telunjuk tidak sengaja Sahara berikan di punggung kucing. Kucing itu kini sudah berada di pangkuannya. Bersama rasa lapar, kucing mulai mengendus apa yang diinjaknya. Ia sedikit mengeluarkan cakar agar bisa berdiri dengan benar. Masih tidak diam, mengendus ke kanan lalu kiri lalu memanjat pundak Sahara.

Sementara itu, Sahara hanya diam meski merasa risih. Tangannya sempat tertahan di udara kemudian turun saat cakar kucing terasa menusuk pundak. Sahara bergidik sedangkan, kucing melompat turun. Sahara mengusap pundaknya kasar. Tidak ada darah, hanya ada helaian bulu kucing yang menempel.

Siapa yang mencari perhatian? 

Kucing itu mencari makan. 

Sahara menghela napas saat kucing mulai mengendus tasnya. Percuma, ia tidak punya makanan kucing lagi.

Sembari memberi ‘nasihat’, Sahara berusaha menjauhkan tasnya dari si kucing. Sayang, kucing tidak mau menjauh. Cakar kucing menahan bagian kantung depan lalu menuntut kucing untuk memanjat ransel.

Sahara tidak tinggal diam. Dia mengangkat tasnya, memaksa kedua cakar depan kucing semakin menancap. Kucing itu menggantung di tas. Begitu diangkat lebih tinggi barulah kucing melompat turun.

Eongan kucing kembali terdengar. 

Sahara memeriksa bekas cakaran kucing. 

Eongan kucing semakin keras.

Sahara mulai membuka ransel.

Kucing mendekat, ingin segera makan. Tangan Sahara terus mencari di dalam ransel. Kucing memanjat kaki Sahara.

Sahara mundur beberapa langkah.

BRUK

Kucing mendesis tajam lalu pergi setelah Sahara melemparinya buku.

Langkah kaki Sahara terlalu pelan untuk orang yang sedang terburu buru. Tidak. Ia hanya tidak pasti ingin melangkah kemana. Keluar dari gerbang depan membuat Sahara memutar arah ke gerbang belakang. Padahal, ia hanya perlu menyebrang jalan lalu berjalan kurang dari 100 meter ke arah kiri untuk sampai di minimarket. Sahara memilih menyeberang kembali saat hampir melewati pohon beringin dan pemulung yang sedang merapihkan kantong besarnya. Kemudian, memasuki gang dengan plang Jl. Jenderal Sudirman. Sahara melewati jalanan di belakang sekolah yang sempit bukan karena lebar jalan, melainkan ramai orang. Berlebihan. Hanya ada dua motor yang melaju, ojek online di dekat gerbang, ibu-ibu yang tertawa dengan beberapa anak kecil muka dempul tak jauh dari mereka, lagu tahu bulat, juga asap bakaran sampah.

Sahara terbatuk, berhenti, kemudian merutuki asap sampah dan diri sendiri. Plang telapak kaki anjing tak kunjung ia temukan. Melihat kerumunan pengamen yang keluar dari warteg, Sahara tersadar bahwa tujuannya terlewat.

Sahara menggerutu dalam hati. Jengkel mobil tahu bulat itu menutupi sebagian teras Pet Shop.

Pukul 16.33. Pulang sekarang dengan alasan macet atau selesaikan yang ia perbuat lalu pulang dengan satu alasan tambahan. Mungkin kelas tambahan atau belajar di perpustakaan adalah pilihan yang bagus, Sahara hanya perlu berpikir sedikit lagi mengapa jadwal pastinya jadi berubah. Sahara berkedip berkali-kali.

“Selamat datang pawrents!”

Kurang memperhatikan sekitar memang kekurangannya. Mengabaikan penjaga toko yang menyambutnya, Sahara langsung mencari bungkusan ungu kecil di antara makanan dalam karung karung besar.

Junior? 

Kitten?

Lihat selengkapnya