Lampu kelas terasa lebih menyilaukan dari biasa. Semua jendela tertutup gorden. Namun, kelas tidak terasa panas. Hujan lebat di luar, namun tanpa ada gemuruh terdengar. Bu Tiwi masuk ke dalam kelas dengan seorang anak perempuan. Ia memakai seragam olahraga, sementara yang lain memakai seragam pramuka. Lalu Sahara sendiri… memakai kaos oblong? Sahara menarik kaosnya seketika berubah menjadi seragam pramuka. Mimpi.
Anak perempuan itu mulai memperkenalkan diri, Binar Lentera. Kemudian, mulutnya hanya bergerak tidak ada yang Sahara dengar. Semua murid seketika berdiri, berjalan ke depan, dan berkerumun mengelilingi Binar. Tampak kerumunan itu heboh. Binar perlahan menoleh ke arah Sahara. Seperti tidak menikmati menjadi pusat perhatian atau meminta tolong? Begitu mata mereka bertemu, kelas berputar dan berubah menjadi halaman gudang olahraga. Kini mereka memakai seragam putih abu-abu. Potongan rambut Binar pun berubah menjadi pendek, seperti anak laki-laki.
“Cantik, mau brownies?”
Asap keluar dari tempat makan kuning. Sahara bisa melihat tangannya menghalau asap. Sepotong brownies hangus sudah ada di tangannya. Eongan kucing terdengar samar. Bubur sudah berada di depan Sahara, menggantikan tempat makan itu. Terus mendekat. Memanjat kaki Sahara. Kuat dan cepat, sehingga Sahara terjatuh. Tangan Sahara terasa lengket. Tunggu, sejak kapan makanan kucing hancur di tangannya? Binar pun menghampirinya. Ia tersenyum lebar hingga matanya terpejam lalu berkedut. Mulutnya kembali bergerak, namun lagi-lagi tidak ada yang Sahara dengar, kecuali satu kalimat penutup,”Kenapa dilempar?!”
Gelegar kalimat itu membuat tangan Sahara semakin lengket.
Kucing itu mendesis ke arah Binar lalu menyerangnya mereka bertengkar. Sahara semakin ingin bangun dari mimpi ini. Namun, ia tertahan. Makanan kucing itu menyeruak keluar seperti banjir mulai menggerogoti tubuhnya. Sementara itu, mereka bertengkar dan saling memaki dengan suara yang sama seakan ada dua Binar. Rumput? Lpj? Garam? Dan sisanya kebun binatang. Seketika mereka memanggil Sahara. Sebentar kucing itu bicara? Sahara pun berusaha melepaskan diri dari jeratan makanan kucing. Binar pun melempar Bubur dan berlari ke arahnya namun bukannya mendekat yang ada ia semakin menjauh. kucing itu sebaliknya semakin membesar dan berubah wujud lalu samar terlihat bayangan hitam menjauhi Sahara. Naga? Naga itu menyemburkan api membakar mereka. Binar lalu berbalik menyembur Sahara. Makanan kucing keluar dari mulutnya.
Biip biip.
Sahara sontak terbangun. Tubuhnya berkeringat. Napasnya tersengal-sengal. Sahara mengambil posisi duduk. Pikirannya kini terisi oleh makanan kucing yang membanjiri sekolah. Sembari mengatur napas, samar Sahara mendengar gonggongan anjing. Sahara mengecek ponselnya, pukul 5.47. Ada beberapa pesan di notifikasinya. Begitu membaca dari siapa pesan-pesan itu, Sahara melempar ponselnya ke kasur.
“Kak, ada Chiko sama Wolly,nih!”
Mendengar seruan ibu, Sahara langsung bangun walau sedikit linglung. Ia berusaha membayangkan anjing samoyed dan golden retriever milik tetangga mereka, yang baru ia ketahui jenisnya seminggu lalu, sedang mengibaskan ekor.
“Kamu kenapa, Kak? Cuman turun tangga sampe gobyos gitu?”
Sahara menggerakan kepalanya ke kiri dan kanan, agar tidak menelengkan kepalanya
ke kiri.
“AC mu panas ya?”
Sahara mengiyakan.
“Ya sudah, nanti siang ibu panggil Mas Bayu buat benerin. Sana samperin mereka, pusing ibu denger berisik pagi-pagi. Jangan lama-lama ya.” bisik ibu. “Iya ini kak Hara udah turun nih Chiko sama Wolly! Aku lanjut masak ya Mbak Grace!”
Pemilik kedua anjing itu hanya melambai sambil tersenyum. Gonggongan anjing semakin keras setibanya Sahara di depan pagar. Kedua anjing itu mendekat sambil terus menggonggong. Sahara tertawa kecil serta mengelus-elus mereka. Sesekali menjawab basa-basi tetangganya dan menunggu ibu untuk memanggilnya ke dalam. Benar saja, tidak perlu menunggu lama untuk dipanggil masuk. Mana boleh terlambat ke sekolah karena anjing.
—--
Sahara menghela napas setelah turun dari angkot. Dengan senyum yang dipaksakan, ia membalas sapaan pak satpam seperti biasa. Mengabaikan mobil serta motor yang memaksanya untuk berjalan di tepi dengan langkah cepat. Sahara kembali menghela napas saat berada di depan tangga. Padahal kelasnya sudah berada di lantai 2, XII IPA 5, namun ia masih merasa malas dan ingin pindah kelas. Berisik suara-suara familier semakin terdengar jelas saat Sahara membuka pintu. Beberapa anak akan duduk dan mengobrol dengan temannya masing-masing, bahkan ada anak kelas lain juga ataupun beberapa anak ada yang pergi ke kelas lain. Ada juga yang baru sarapan pagi. Ada juga yang menjual camilan seperti bakpau dan risol. Ada juga yang memanfaatkan papan tulis untuk belajar. Sementara itu, Sahara bersiap keluar lagi dengan makanan kucing di tangannya.
Setibanya di halaman gudang belakang, tangan Sahara tak jadi membuka kemasan makanan kucing. Padahal Sahara mendengar eongan Bubur meskipun samar. Yang ada suara lain yang Sahara dengar dengan jelas.
“Kenapa lu engga respon chat gue?”
Genggaman Sahara pada kemasan makanan kucing menguat sebentar lalu cepat mengendur karena ia tak ingin mimpinya terwujud (meskipun hal itu dapat menjadi reflek untuk melemparkan makanan kucing ke anak perempuan yang mengagetkannya). Hampir saja ia terjatuh dari posisi jongkok.
Sahara menelengkan kepalanya ke kiri, membuat bola matanya bergerak selaras. Namun, cepat ia berdiri dan menunduk. Tidak perlu berpikir lama bagi Sahara untuk mengucapkan permintaan maaf, “Maaf ya, kemarin…”
“Udahlah engga usah alasan!”
Dih, tadi nanya…Bagus! Sahara tidak perlu berbohong.
“Lu kan yang kumpulin makalah sama ppt? Kenapa nama gue engga ditulis?”
Sahara kembali menelengkan kepalanya ke kiri. Kakinya sedikit menekuk agar tatapan mereka sejajar. “Menurut lu? Bukannya engga perlu nanya gue?”
Gadis itu memalingkan wajah. Sekilas terdengar umpatan.
Bangsat?
Keparat?
Sahara rasa pertanyaannya berhasil menyulut Valeska.
Kayaknya Bubur cari makan di tempat lain.
“Kan gue bilang gue sibuk!”
Kantin mungkin?
“Iya, kemarin habis rapat Val ada latihan teater!”
Ah, elah! Si cempreng ngikut mulu.
Bisa-bisanya Sahara tidak sadar diikuti 2 orang.
Sahara menahan diri untuk tidak berdecih, memutar bola matanya ataupun ikut terbawa drama kecil ini. Alasan seperti ini sudah sering ia hadapi bukan? Baru kali kedua ia bertindak seperti ini. Padahal tugas anak itu adalah yang paling mudah, kesimpulan dan memindahkan sebagian isi makalah ke ppt. Namun, sibuk, sibuk, sibuk, dan sibuk. Alhasil, Sahara lah yang mengerjakan. Toh, daripada mereka sekelompok tidak dapat nilai? Lalu teater… ya memang posisi mereka berbeda meskipun Sahara juga ikut teater, ia akui ia tidak sesibuk itu.
Sahara tersenyum kecut. “Hara!”
Sahara tersentak mendengar namanya dengan nada bentakan. “Dengerin engga,sih?!” Sahara hanya tersenyum kecut.
Menurut lu?
“Ih! Nggak dengerin, ya? Lu tuh kalau kerkom jangan sok bossy deh… .” Sebuah kalimat pembuka Valeska yang menjadi penutup bagi Sahara. Ia tidak mendengar, namun menunduk seakan mendengarkan. Ketika Sahara lelah menunduk, ia menegakkan kepala dan menatap lurus, hanya ada dahi dan puncak kepala yang tertutupi kerudung.
Tangan Sahara terangkat ke udara. Ocehan kedua anak perempuan di depannya perlahan menjadi gonggongan anjing. Lebih berat dan lebih bersemangat. Chiko dan Wolly mengibaskan ekor mereka. Tangan Sahara mendarat di kepala mereka. Menyusuri kulit kepala di antara rambut lebat. Mengusap lembut kepala mereka yang bergerak-gerak.
Kayak anjing…
tidak, anjing lebih baik.
Tangan Sahara hendak melepas. Saat menekuk jari, telunjuk kanannya menekan kulit kepala. Sedikit basah menempel di bawah kuku. Sekelebat rambut pun terperangkap dalam kedua genggamnya.
Mereka menggonggong lebih keras.
Sahara pun menggenggam lebih kuat dengan menarik tangannya ke atas. Gonggongan berubah menjadi suara melengking.
Anjing tidak bisa menjerit kan?
“HARA SAKIT!” Melengking dan menusuk kaki Sahara. Benar-benar menusuk. Genggaman Sahara terlepas saat salah satu dari mereka menginjak kakinya. Ia pun sempat terhuyung saat mereka bersamaan mendorongnya. Namun, Sahara kuat untuk tetap bergeming.
“Kejar!” titah Binar menggelegar di kepalanya.
Oh iya Bubur!
“Kejar Sahara! Kalau engga nanti…”
Nanti apa?
Sahara berpikir sejenak, memangnya apa yang akan terjadi? Mungkin ia akan dilaporkan ke guru.
“Lapor ke guru mungkin…”
Siapa?
Sahara dan Binar pun tertawa setelah menyebutkan satu nama, bu Nur, guru bk di SMAN 171. Mungkin juga bu Tiwi, wali kelas mereka. Lalu cerita tersebar dan satu kelas akan memusuhinya.
“Dimusuhin satu kelas bisa juga”
Satu sekolah bisa, kalau mereka memang populer.
Sahara tertawa kecil. Suara Binar yang ia dengar mulai mengajaknya berbincang.
Sahara pun memulai dengan umpatan kecil kalau ia akan terlambat ke kelas. Binar membela diri kalau benar seharusnya Sahara mengejar mereka.
Tidak, itu tindakan bodoh. Ngapain juga ngejar anjing?
Binar tertawa, membuat Sahara ikut tertawa.
Jangan ikutan tolol
“Jangan ikutan tolol”
—--
Setelah bel istirahat pertama berbunyi, Sahara langsung berlari ke toilet. Mengabaikan
tangan yang sudah keriput karena selama beberapa jam pelajaran tadi ia terus melakukan hal yang sama, mencuci tangan.
“Sahara ada-ada aja!”
Mereka duluan. Engga jelas!
“Mereka juga engga jelas,sih”
Sahara mengulum senyum. Suara Binar yang ia dengar apalagi kalau bukan hasil pemikirannya. Kini ia sudah bisa mengubah suara Binar untuk ikut mengejek Valeska dan Zinnia, kedua teman Binar itu.
Sahara menghela napas. Tangannya terasa kering, perih, dan… kotor. Masih terasa kotor padahal sudah lebih dari 5 kali ia izin ke toilet dan 13 kali mencuci tangan. Kembali Sahara mengucurkan air keran. Telunjuk kanannya didiamkan di bawah aliran air. Merasa setitik darah masih ada di sana. Bagus! Ini yang ke-6 kali ia melakukannya dan akan menjadi cuci tangan yang ke-14.
“Engga papa kalau mereka lapor guru?”
Engga papa… mungkin?
Sahara menggosokkan busa sabun terus menerus, terutama ke ujung telunjuk kanan.
Saya gemas, bu. Mereka kayak Chiko sama Wolly, anjing tetangga saya.
Sahara dan suara Binar dalam pikirannya tertawa. Sebenarnya sekarang adalah waktu yang tepat untuk memeriksa apakah istirahat kedua, pulang sekolah, atau besok Sahara akan dipanggil ke ruang guru. Akan tetapi, Sahara punya urusan yang lebih penting, Bubur. Kucing gembul itu belum makan dari pagi. Sahara berencana memberinya banyak karena sore nanti… Sahara menghela napas. Ia sangat malas untuk datang.
Pukul 15.48. Apa sebaiknya dibulatkan 15.50? Dilebihkan 5 menit? Atau sekalian saja 16.00? Sahara berpikir sejenak. Sepertinya ia tidak perlu datang lebih terlambat lagi, toh janji temu mereka pukul 15.30.
Rapat pertama divisi perlengkapan teater setelah kurang lebih 3 pekan persiapan pentas ditunda. Seingat Sahara ada 7 orang termasuk dirinya. Adi sang ketua dan Gemintang yang suka melemparkan candaan khas bapak-bapak, lalu ada anak yang berhidung mancung dengan kulit agak gelap, 2 anak perempuan yang cukup tinggi salah satunya berhijab, dan satu lagi… Sahara benar-benar lupa.
“Duluan ya, Bub.” Sahara mengusap kepala Bubur yang masih asyik makan. Sahara cukup kagum akan kapasitas makan kucing itu. Siang tadi Sahara sudah memberikan lebih banyak dari 2 kali lipat. Padahal, Sahara sempat berpikir Bubur tidak akan menunggu di belakang gedung olahraga seperti biasa karena masih kenyang.
Ritme jalan Sahara selalu lambat, tentu semakin lambat saat ia malas. Melewati gedung olahraga dan sedikit memutari gedung utama, tibalah ia di kantin. Tidak ada gerai yang masih buka kecuali Kedai Mbok yang menjual minuman dan mie instan. Ada beberapa kelompok siswa di sana. Sahara memicingkan mata, berusaha mencari sosok Adi yang lebih besar darinya.
“Kak Hara!”
Suara yang ia kenal memanggil, jelas bukan Adi. Sahara menggerakan kepala sedikit ke kanan, itu Gemintang. Rambutnya tidak cepak seperti terakhir kali mereka bertemu, anak itu menjadi cukup gondrong.
“Ayo duduk, Kak!” Suara cempreng seperti anak kecil turut menyambut Sahara, terdengar seperti ramah yang dibuat-buat. Badannya kecil, bukan salah satu dari yang Sahara kenal. Akan tetapi, membuat Sahara teringat seseorang. Merasa malas, tetapi langkah kaki menjadi lebih cepat menuju meja di dekat wastafel. Melihat kumpulan berbeda dengan yang ada di ingatannya mungkin adalah alasan Sahara mempercepat langkahnya.
Sahara hendak mengambil kursi plastik, namun Gemintang dan seorang anak rompi rajut dengan rambut mangkok bergeser di atas kursi kayu. Sahara tersenyum kikuk, ia kadang tidak nyaman duduk tengah. Di angkot pun ia selalu duduk dekat pintu. Mereka membalas senyum Sahara dengan antusias, kecuali satu orang.
“Loh, Denting?”
Yang dipanggil tadinya menunduk kini tersenyum kecil. Dengan gugup ia menyapa Sahara. Yang di sebelahnya, yang bersuara cempreng, pun bertanya bagaimana mereka saling mengenal. Cepat Denting menjawab kalau Sahara adalah teman kakaknya, Binar. Anak itu hanya berooh panjang, meskipun alisnya masih bertaut. Entah berpikir mana yang namanya Binar atau mencari sebutan yang enak daripada, “Yang bunuh diri di toilet?”. Mungkin. Sahara hanya menebak.
Satu persatu mulai memperkenalkan diri. Dimulai dari Sahara yang datang terlambat. Tak lupa ia memberi alasan sibuk klasik anak 12, pr dan bimbel. Sahara bahkan menambahkan kalau di hari Senin dan Rabu adalah jadwal lesnya yang tidak dapat diganggu. Sedikit menambahkan kalau bisa saja ada kelas tambahan di hari Jumat untuk menjawab “Apakah try out UTBK itu sulit?” Tidak relevan, namun cukup menjawab.
Selanjutnya Gemintang yang sudah Sahara kenal terlebih dulu dan kini menggantikan Adi menjadi Ketua Divisi. Kemudian, ada Rintis, anak kelas X Bahasa yang bertubuh kecil dan bersuara seperti anak kecil pula. Sahara yakin kalau mereka berdiri, ia tidak akan dapat melihat wajah Rintis dengan jelas. “Tadinya aku mau dekor, tapi engga buka… terus kata Nunu ikut perkap aja biasanya bakal bantu dekor. Jadinya aku masuk sini deh!”
Nunu?
Bantu dekor?
Gemintang menimpali kalau kemungkinan itu ada. Sementara itu, anak berambut mangkok tak kalah bersemangat menceritakan bahwa dia terlempar ke divisi ini. Namun, belum waktunya ia memperkenalkan diri.
Selanjutnya, Denting, teman sekelas Gemintang di kelas XI IPA 3. Gadis bertubuh tambun dengan potongan rambut pendek seperti anak laki-laki. Berbeda dengan Denting yang Sahara ingat, tidak terlalu berisi dengan rambut panjang sepunggung, semakin mirip dengan kakaknya.
“Sebentar. Kakak ini adiknya kak Binar yang jatuh di tangga tengah?” celoteh Rintis, tepat setelah Denting memberi tahu namanya.
Denting mengangguk kaku.
“Astaga! Pantesan mirip banget! Ih tau engga sih kak pas dulu LDKO kak Binar baik banget sama kita. Dia engga pernah marah sama kalau kasih tugas gampang-gampang…”
Sahara malas mendengarkan. Yang lain malah ikut menimpali cerita Rintis, mengabaikan canggung yang menjauhkan Denting dengan mereka.
“Terus yang pas jatuh itu saya lihat, Kak. Kaget dan panik banget! Tapi pas diajak ke UKS kak Binar engga mau padahal jalannya sampai agak pincang gitu”
Denting hanya mengiyakan, “Kakak emang kebal sama sakit, sih” berhasil mengundang tawa canggung.
“Kak, tolongin kakak saya!”
Sahara menggeleng kecil untuk menghilangkan suara Denting di kepalanya. Ia tidak dapat mendengarkan perkenalan Denting sekarang. Alasan Denting masuk perlengkapan karena diajak Valeska membuat dahi Sahara sempat berkerut. Terakhir, anak kelas X IPS 1, Fauzi yang minta dipanggil Oji, anak berambut mangkok dengan rompi rajut itu ingin sekali berakting di panggung, namun lagi-lagi Valeska yang menentukan ia masuk ke perlengkapan. Ya, keputusan sang sutradara melalui sang produser, Jelita. Gemintang pun meminta Oji untuk mencoba akting. “Coba Malin Kundang pas dikutuk ibunya!”
“Ikut! Aku jadi ibunya!” Rintis bersemangat bergabung. Sahara tidak ingin mengulang dialog spontan mereka. Yang jelas, Sahara paham kenapa ia tidak terpilih. Kalau kata Binar, mungkin masih harus latihan lagi.
Dari tujuh menjadi lima dan Sahara satu-satunya dari kelas 12. Kalau bukan karena permintaan Binar mungkin Sahara juga akan mundur. Kalau Sahara ingat-ingat lagi dulu memang hanya ada anak kelas 10 dan 11.
“Mungkin karena persiapan di akhir semester 2 dan bakal tampil di tahun ajaran baru, tapi kalau yang sekarang sekalian buat 17-an.” begitu kalau kata Binar. Namun sekarang pentas diundur, bahkan setelah perayaan 17 Agustus pun belum diadakan.
Mereka kumpul hanya sebentar. Sahara berterima kasih pada dirinya sendiri karena tetap bermuka tebal dengan mengatakan bahwa ia ada les jam 5 nanti. Walaupun, ada sedikit rasa bersalah sekarang. Hanya membagi pekerjaan untuk persiapan rapat dengan divisi lain besok. Sahara bersyukur ia tetap dengan jobdesk lamanya, menyiapkan konsumsi latihan dan pentas. Rintis dan Gemintang membantu dekor dan properti sedangkan Denting dan Oji membantu pinjam-meminjam terutama ruangan. Untuk urusan belanja bila berat akan dilakukan bersama. “Berarti kalau kita bantu dekor bisa, Kak?” Sahara mengalihkan pandangan agar tidak memutar bola matanya.
Itu terus yang ditanya.
Gemintang pun memberi jawaban yang sama, “Ya, kalau mereka perlu kita aja.”
Lagi Rintis bersorak sendiri. Sahara sedikit bersyukur Oji tidak mengulang akankah mereka diperlukan sebagai pemeran pembantu atau tidak. Sedangkan, Sahara berpikir untuk tidak ikut terlibat dengan dua tugas tambahan jika ada itu. Gemintang menutup pertemuan itu dengan berita bahwa pentas akan diadakan satu bulan lagi.
Sahara menelengkan kepala ke kiri.
“Sebelum uts banget, Kak?” protes Rintis, membuka ruang diskusi baru. Protes Sahara
tersalurkan. Sahara yakin Gemintang menyampaikan hal tersebut di akhir agar tidak dibahas. “Dari kak Val sama kak Jea gitu, Tis. Bang Luthfi yang jadi stage manager juga menyanggupi.”
Rintis masih protes dengan Oji yang mendukungnya. Gemintang pun menanggapi mereka dengan tidak begitu acuh. Meredamkan protes yang tidak ditanggapi. Denting pun mengikuti Sahara yang hanya mendengarkan mereka. Pembahasan selesai dan mereka beranjak pulang. Sahara segera mendekati wastafel. Tangannya kembali berkeringat namun, terasa seperti banyak debu yang menempel. Rasanya ada sesuatu yang terus menempel di bawah telunjuk kanannya. Ia langsung menuangkan sabun dan menggosoknya kasar. Perih. Ia ingin segera pulang dan potong kuku. Mengopek kuku dengan kuku bukanlah ide yang bagus.
Ia akan bertemu Valeska besok. Kalau di kelas pasti, rapat ia bisa izin dan ruang bk adalah kemungkinan terburuk.
“Kenapa, Kak?”
Sahara tersentak. Kukunya menancap ke kulit. Sahara mengigit bibir, menahan diri untuk menjerit. Cepat ia menyalakan keran.Kembali mengaliri tangannya dengan air.
Sekelibat tangan menyodori Sahara tisu. “Maaf, Kak!” pekiknya. Denting kini sibuk membuka ransel dengan banyak kantong.
“Sebentar ya, Kak! Saya ada plester kok…” “Engga papa, Ting. Cuman dikit darahnya”
Denting berhenti, tetapi mulutnya terus mengucapkan kata maaf. Sahara memaksakan senyum, “Kamu sendiri gimana?”
Pertanyaan yang Sahara lempar hanya untuk membuat Denting berhenti meminta maaf malah membuat anak itu mematung. Sahara hendak memanggilnya, namun Denting menggeleng pelan dan menjawab dengan “Baik”.
Sahara berooh panjang. Keduanya tersenyum kikuk. Denting kembali menunduk. “Kak Hara sibuk ya?”
Sahara menelengkan kepalanya ke kiri. Ceritanya berhasil. “Ya, sewajarnya anak kelas 12 lain, kenapa, Ting?”
“Eum tadinya ada yang mau saya omongin…” Denting menatap Sahara sekilas. Sahara sedikit membungkuk, menyamai tinggi mereka. Denting memejamkan mata dengan suara lirih, “Soal kakak”