Bianca Mariotti, gadis berusia 20 tahun itu baru saja melangkah keluar dari gimnasium. Setiap usai kuliah di jam-jam pagi, ia pasti menyempatkan diri ke tempat itu untuk mengasah kemampuan bela dirinya.
Bukan tanpa alasan ia melakukan hal itu. Ada semangat besar yang selalu membakar diri Bianca setiap kali ia berada di dalam ruangan latihan itu. Dulu, ia pernah mengalami kejadian buruk dan mendapatkan perlakuan tidak senonoh dari seseorang. Sejak saat itu, ia bertekad bulat untuk berlatih bela diri, agar dirinya bisa melindungi diri sendiri dan tidak lagi menjadi korban yang lemah.
"Hufftt..." Bianca mendesah pelan seraya menyeka sisa keringat yang membasahi dahinya.
Ia berjalan santai menuju pulang, sembari menendang-nendang botol kosong bekas air mineral yang ada di tangannya di sepanjang jalan. Saat melihat tong sampah tak jauh di hadapannya, Bianca segera menendang botol itu dengan tenaga yang cukup pas.
Whuusss!
Benda plastik itu melayang di udara, lalu masuk dan jatuh tepat ke dalam mulut tong sampah.
Bianca tersenyum kecil puas. Ia lalu menarik penutup jaketnya menutupi kepala, melindungi diri dari terik matahari, dan kembali melanjutkan langkah kakinya menuju tempat ia tinggal, sebuah rumah kost sederhana.
*
*
"Tolong! Tolong aku!"
Suara jeritan wanita memecah keheningan jalanan, langsung menyadarkan Bianca yang sedari tadi berjalan dengan pikirannya sendiri. Ia segera menghentikan langkahnya, mencari ke mana asal suara itu, dan tanpa ragu bergegas mendekat dengan niat tulus untuk menolong.
"Tolong! Ada jambret! Tolong!" pekik wanita itu kembali, kali ini terdengar semakin panik dan ketakutan.
Padahal di sana cukup banyak orang berlalu-lalang. Namun, tak ada satu pun yang berani melangkah maju untuk membantu. Mereka hanya diam menonton dari kejauhan, ragu dan takut terlibat, apalagi saat melihat penjahat itu membawa sebilah senjata tajam yang berkilau di tangannya.
Kluntang!!
Tiba-tiba, sebuah kaleng bekas melayang dan menghantam kepala sang penjambret dengan cukup keras.
Pria berwajah sangar dan berkepala plontos itu sontak berbalik dengan wajah memerah karena marah. Ia memutar pandangannya ke sekeliling, mencari siapa orang kurang ajar yang berani melempari dirinya.
Namun, sang pelaku hanya berdiri diam tak jauh dari situ. Bianca menatapnya dengan tatapan datar dan dingin, kedua tangannya mengepal santai di dalam saku celana, sama sekali tidak terlihat gentar sedikit pun.
"Kembalikan tas itu padanya!" pinta Bianca dengan nada suara tenang namun penuh penekanan.
Pria itu hanya tertawa mengejek mendengar perintah gadis di hadapannya. Ia sama sekali tidak menganggap Bianca ancaman. Sebagai peringatan, ia mengayunkan pisau itu ke udara, lalu mendekapkan ujung tajamnya ke leher wanita yang sudah ia tangkap sebagai sandera. Tindakan itu membuat orang-orang di sekitar berteriak ketakutan, apalagi wanita itu sendiri yang kini menangis histeris.
"Kau cuma gadis kecil! Apa yang bisa kau lakukan kalau aku begini?!" tantang pria itu sambil semakin menekankan bilah pisau itu ke kulit leher korban.
Bugh!
Bugh!
Tak!
Ting!
Tanpa aba-aba dan dengan kecepatan yang nyaris tak terlihat mata, Bianca melesat mendekat. Dalam sekejap, kakinya sudah menghantam pergelangan tangan dan kaki si penjahat secara bergantian. Pisau yang tadinya dipegang erat itu terlempar jauh ke udara, lalu jatuh berdentang ke aspal.
Pria itu meringis kesakitan dan terhuyung mundur. Ia berusaha bangkit dan segera meraih kembali pisaunya yang tergeletak di tanah, namun belum sempat tangannya menyentuh benda itu, telapak kakinya sudah menginjak dan menahan tangan pria itu dengan sangat kuat.
"Aarrghh! Sakit!" raung pria itu menahan nyeri yang luar biasa.
"Pergi dari sini! Dan jangan pernah kau ulangi perbuatan kotor itu lagi di tempat mana pun!" bentak Bianca seraya semakin menekan kakinya ke punggung tangan pria itu.
Merasa tidak terima dipermalukan oleh seorang gadis muda, pria itu berusaha melawan. Ia mencekal kaki Bianca dengan satu tangannya, berniat menjatuhkannya. Namun, Bianca dengan sigap memutar tubuhnya dan menghempaskan tangan kasar itu ke tanah dengan kekuatan penuh.
Bugh!
"Brengsek!" Pria itu terpental beberapa langkah ke belakang, tubuhnya terasa nyeri sekujur badan.
Tanpa membuang waktu, Bianca mengambil pisau yang tergeletak itu, lalu mengarahkannya tajam ke arah si penjahat. Tatapannya berubah tajam dan mengintimidasi, membuat nyali pria itu ciut seketika.
"Kubilang... PERGI!" bentak Bianca sekali lagi dengan suara menggelegar.
Pria itu ketakutan setengah mati. Ia sadar lawannya bukan gadis biasa. Tanpa peduli lagi pada pisaunya yang kini ada di tangan Bianca, ia segera bangkit dan berlari terbirit-birit meninggalkan tempat itu sejauh mungkin.
Setelah sosok pria itu hilang di tikungan jalan, wanita yang menjadi korban akhirnya memberanikan diri mendekat ke arah Bianca. Raut wajahnya penuh rasa syukur dan haru.
"Terima kasih, Nak... Terima kasih banyak. Aku benar-benar berhutang budi padamu," ucap wanita itu dengan nada bergetar.
Bianca menggeleng pelan, lalu menyerahkan tas yang sudah ia ambil kembali tadi. Ekspresinya kembali datar dan biasa saja seolah baru saja melakukan hal sepele.
"Tidak perlu. Aku hanya menolong sebagai sesama manusia," jawabnya singkat. "Aku harus pergi. Lain kali lebih berhati-hatilah di jalanan, Bibi."
Tanpa menunggu balasan lagi, Bianca segera melanjutkan langkahnya dan berjalan menjauh, meninggalkan wanita itu yang masih terpaku memandang punggung gadis penyelamatnya.
*
*
Bianca menjatuhkan tubuhnya lemas ke atas kasur tipis yang hanya beralaskan lantai dingin. Kelelahan seharian terasa menumpuk di setiap urat sarafnya.
Sesampainya di rumah, ia hanya sempat membersihkan diri dan mandi, lalu langsung berbaring tanpa melakukan hal lain. Hari-hari berat seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari yang kerap ia lalui, tanpa pernah banyak mengeluh atau menuntut lebih. Di dalam hatinya, ia selalu yakin dan berharap bahwa suatu saat nanti, pasti akan ada hari yang lebih baik dan menyenangkan baginya—meski ia sendiri tak tahu kapan waktunya akan tiba.