Di Mata Mu, Aku Hanyalah Uang

Titah Kesumawardani
Chapter #2

Tawaran Dua Miliar

"Berhenti di tempat atau kau benar-benar akan mati!" ancam Leo. Napasnya memburu, ia sudah kelelahan mengejar gadis kecil yang ternyata jauh lebih lincah dari dugaannya.

Di balik tembok sempit sebuah gang kecil, Bianca bersembunyi sambil menekan dadanya. Ia berusaha mengatur napas sebaik mungkin, menahan setiap helaan agar suaranya tidak terdengar dan ia tetap aman dari kejaran pria itu.

Dor!! Dor!!

Dua kali letusan senjata api terdengar menggema memecah keheningan. Suara itu begitu nyaring dan dekat, membuat jantung Bianca berdegup kencang tak karuan, seolah mau melompat keluar dari rongga dadanya.

Belum sempat ia menenangkan diri...

Srekk!!

Tubuh kecil Bianca ditarik kasar dan diseret paksa keluar dari persembunyiannya. Leo telah menemukannya. Tanpa pikir panjang, Bianca langsung melawan. Ia mengerahkan segala kemampuan bela diri yang ia miliki, berjuang mati-matian melepaskan diri.

Di sini, Bianca bertarung hanya mengandalkan kepalan tangan dan kakinya, sama sekali tanpa senjata apa pun. Sebaliknya, Leo bertarung menggunakan kekuatan besarnya, lengkap dengan senjata api dan pisau tajam yang tergenggam erat di tangannya. Meski tertimpa jumlah dan kekuatan, Bianca tak mau menyerah.

"Menyerah saja, Gadis Kecil! Kau tidak akan rugi apa-apa kalau menerima tawaran Nyonya-ku. Kau malah akan kaya raya seumur hidup!" ucap Leo di sela-sela napasnya yang memburu, berusaha membujuk sekaligus mengintimidasi.

"Kalian semua sudah gila! Tidak waras!" sahut Bianca sinis, namun tak berhenti bergerak memukul dan menendang, terus melawan sekuat tenaga.

Tiba-tiba, mobil hitam mewah yang sedari tadi mengikuti perlahan melaju mendekat dan berhenti tepat di pinggir jalan. Pintu-pintu mobil terbuka, dan empat orang pria berbadan besar turun serentak. Masing-masing dari mereka menggenggam senjata api panjang yang langsung diarahkan tepat ke arah Bianca.

Bianca terkesiap. Gerakannya terhenti seketika. Ia menahan napasnya cukup lama, merasa terdesak dan terpojokkan.

Matanya bergerak cepat, memindai satu per satu lawan-lawannya. Tadi hanya satu orang, sekarang jumlah mereka bertambah menjadi empat, lengkap dengan senjata yang siap meledak kapan saja. Peluangnya untuk lolos kini hampir hilang.

"Kalian pengecut! Licik sekali!" desis Bianca, napasnya memburu menahan amarah.

Pintu utama mobil terbuka lagi, dan kali ini wanita itu—Aurora Bellucci—turun dengan anggun. Ia melangkah mendekat dengan wajah tenang, lalu memberi perintah singkat dan tegas kepada anak buahnya.

"Bawa dia," ucapnya lantang, penuh kendali dan wibawa yang tak terbantahkan.

Bianca kembali ditarik dan diseret paksa. Ia didorong masuk ke dalam mobil lain yang terpisah dari mobil Aurora, dikawal ketat oleh dua orang pria berbadan kekar agar ia tidak berusaha kabur lagi.

Sepanjang perjalanan, Bianca terus menggerutu dalam hati. Ia benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran wanita itu. Kenapa harus dirinya yang dipilih? Kenapa harus memaksa? Padahal di luar sana masih sangat banyak wanita yang mungkin akan berebut dan mau saja menjadi simpanan suami orang kaya raya.

Tak lama kemudian, mobil mewah itu melaju masuk melewati gerbang tinggi sebuah kediaman megah yang sangat luas. Halamannya begitu terbentang luas, bahkan terasa jauh lebih besar dan luas daripada lapangan bola sekalipun.

Bianca dipaksa turun dan didorong agar berjalan cepat mengikuti langkah Aurora yang berjalan santai di depan.

"Cepat jalan! Jangan sampai kau membuat Nyonya marah!" bisik salah satu pria di belakang Bianca sambil menyenggol bahu gadis itu kasar.

"Seharusnya Nyonya-mu sadar, bahwa aku sudah menolak tawaran gilanya itu sejak awal!" sinis Bianca. Ia sama sekali tidak merasa takut atau gentar sedikit pun menghadapi anak buah Aurora.

Ya, wanita di depannya itu bernama Aurora Bellucci, istri sah dari pengusaha kaya raya paling berpengaruh, Alessandro Alex Vitale.

"Selamat datang di Mansion kami, Gadis Cantik!" ucap Aurora dengan nada suara yang begitu tenang dan ramah. Sebuah senyum manis tercetak jelas di wajahnya, seolah mereka adalah sahabat lama yang bertemu kembali.

Bianca hanya menatap datar. Di matanya, Aurora hanyalah wanita tua yang sudah berumur, lebih pantas dipanggil Bibi daripada disebut wanita muda. Senyum Aurora sama sekali tidak menular ke hati Bianca.

"Kenapa wajahmu selalu saja begitu? Tidak pernah tersenyum sedikit pun?" Aurora mengerutkan alisnya sedikit bingung, lalu menarik tangan Bianca agar duduk di atas sofa besar yang sangat luas dan empuk di ruang tengah itu.

Bianca menatap tajam dan datar ke arah Aurora. Ia sudah siap membuka mulutnya untuk menolak dan mengutarakan segala kemarahannya. Namun, niat itu terurungkan saat sebuah suara berat, dalam, dan berwibawa terdengar memecah keheningan ruangan.

"Sayang... dari mana saja kamu?"

Suara bariton itu menggema, membuat suasana ruangan seketika berubah menjadi hening. Bianca mengangkat wajahnya, dan di sana, di ambang pintu, berdiri sosok pria yang menjadi sumber seluruh masalah ini—Alessandro Alex Vitale.


Aurora menoleh, menatap suaminya itu dengan senyum yang terlihat begitu hangat dan tulus. Namun, hal itu sama sekali tidak berlaku bagi Bianca. Gadis itu justru menatap sosok Alex dengan mata yang melotot sempurna, penuh kebingungan sekaligus kekesalan yang memuncak.

"Aku baru saja menjemput gadis ini... khusus untukmu," ucap Aurora tenang, seolah sedang membicarakan hal yang paling wajar di dunia.

Lagi-lagi Aurora berbicara dengan nada yang begitu santai dan tanpa beban. Tak ada sedikit pun rasa sedih, cemburu, atau ragu di dalam sorot matanya. Hal itu membuat Bianca semakin menatap wanita itu dengan pandangan tak mengerti dan aneh.

"Maaf... Tapi apa kalian berdua ini benar-benar tidak waras?!" sela Bianca tak tahan lagi. Ia benar-benar tak habis pikir dengan pemikiran suami istri ini.

"Apa maksud ucapanmu itu?" suara berat dan dalam milik Alex terdengar rendah, membuat Bianca refleks menelan ludah dengan susah payah karena getaran wibawa yang ada di sana.

"Tenang saja, Sayang," Aurora beralih menatap suaminya lagi, lalu melanjutkan penjelasannya dengan lembut. "Aku sudah lama sekali membicarakan hal ini padamu, bukan? Hanya saja aku belum pernah menemukan wanita yang benar-benar cocok dan memenuhi syarat untukmu. Jadi..."

"Aku tidak mau, Aurora!" potong Alex tegas. Suaranya bergetar menahan emosi, jelas menolak keras gagasan gila istrinya itu.

Bianca pun ikut mengangguk cepat, membenarkan ucapan pria itu. "Tepat sekali! Saya pun juga tidak mau, Nyonya yang terhormat. Saya sama sekali tidak peduli dengan masalah atau hubungan rumah tangga kalian. Yang jelas, saya menolak dan tidak sudi terlibat di dalamnya!"

Bianca langsung berdiri tegak dan berniat melangkah pergi dari tempat itu, bertekad secepat mungkin keluar dari rumah gila ini. Namun, secepat kilat Aurora menahan pergelangan tangan Bianca dan mencengkeramnya dengan sangat erat dan kuat.

Lihat selengkapnya