DI PERTEMUAN YANG KEDUA

sudiani
Chapter #3

Chapter 03


Suasana kantor pagi itu begitu tenang.

Tidak ada suara yang berlebihan. Hanya bunyi ketikan dari beberapa meja, dering telepon yang sesekali terdengar, dan langkah kaki karyawan yang berlalu di antara lorong-lorong ruangan.

Di salah satu sudut divisi pemasaran, Hanin duduk di depan komputernya.

Seperti biasa.

Tenang.

Fokus.

Tidak banyak bicara jika tidak diperlukan.

Sejak bekerja di perusahaan itu, Hanin memang dikenal sebagai salah satu karyawan yang paling sulit terlihat panik. Bahkan ketika pekerjaan menumpuk, wajahnya tetap sama. Tangannya terus bekerja, matanya fokus pada layar, dan pikirannya seolah memiliki kemampuan untuk mengabaikan segala sesuatu di sekitarnya.

"Hanin."

Maya memanggilnya pelan.

"Hm?"

"Dokumen yang tadi sudah kamu kirim?"

"Sudah."

"Secepat itu?"

Hanin tersenyum kecil.

"Sudah dari sepuluh menit lalu."

Maya menggeleng sambil terkekeh.

"Kadang aku bingung kamu ini manusia atau mesin."

Hanin hanya tertawa kecil lalu kembali menatap layar.

Baginya, pekerjaan adalah pekerjaan.

Tidak ada alasan untuk membawanya menjadi sesuatu yang rumit.

Dan ketenangan itu pula yang membuat Hanin tidak terlalu memikirkan pertemuannya dengan Darren.

CEO itu memang memanggilnya.

Mereka berbicara mengenai pekerjaan.

Selesai.

Tidak ada yang perlu dipikirkan lagi.

Setidaknya, begitulah yang ada di dalam pikiran Hanin.

Berbeda dengan seseorang di lantai atas.

Sejak pertemuan itu, Darren berubah.

Bukan perubahan besar yang langsung terlihat oleh semua orang.

Tidak.

Justru perubahan kecil yang membuat orang-orang terdekatnya mulai merasa ada sesuatu yang tidak biasa.

Darren menjadi lebih sering melamun.

Rapat yang biasanya selesai tepat waktu bisa berlangsung lebih lama karena pikirannya sesekali melayang entah ke mana.

Berkas yang biasanya ia baca sekali sudah cukup, kini beberapa kali kembali dibuka.

Dan yang paling aneh—

Darren mulai sering turun ke divisi tempat Hanin bekerja.

Awalnya Steve tidak terlalu memikirkannya.

"Pak, pukul sepuluh ada rapat dengan bagian keuangan."

Darren yang sedang membaca dokumen mengangkat wajah.

"Batalkan."

Steve terdiam.

"Batalkan, Pak?"

"Iya."

"Alasannya?"

Darren menatapnya sebentar.

"Ada urusan di divisi pemasaran."

Steve mengangguk.

"Baik."

Namun baru beberapa langkah berjalan, Steve berhenti.

Divisi pemasaran?

Bukankah kemarin CEO juga baru saja ke sana?

Dan dua hari sebelumnya?

Steve mulai curiga.

Pukul sebelas siang.

Pintu lift terbuka.

Darren keluar bersama Steve.

Beberapa karyawan yang sedang bekerja langsung menyadari kehadiran mereka.

Suasana yang semula tenang mendadak berubah.

"Pak Darren."

"Selamat pagi, Pak."

"Selamat pagi."

Darren mengangguk singkat.

Namun matanya bergerak menyapu seluruh ruangan.

Steve yang berjalan di belakangnya memperhatikan.

Ia sudah tahu apa yang sedang dicari atasannya.

Hanin.

Dan benar saja.

Lihat selengkapnya