Pagi itu, Steve berdiri di depan meja kerjanya sambil menatap tablet di tangannya.
Jadwal Darren yang biasanya penuh dengan rapat, pertemuan, dan berbagai urusan perusahaan, kini perlahan berubah.
Satu per satu agenda dihapus.
Rapat dengan bagian keuangan dibatalkan.
Pertemuan dengan klien dipindahkan.
Diskusi bersama jajaran direksi dijadwalkan ulang.
Steve menghela napas pelan.
Ia masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada atasannya.
Namun satu hal yang ia tahu pasti—
Darren sedang berubah.
Dan perubahan itu dimulai sejak pertemuannya dengan Hanin.
"Steve."
Suara Darren terdengar dari dalam ruangan.
Steve segera masuk.
"Ya, Pak?"
Darren duduk di belakang meja kerjanya. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, tetapi sorot matanya terlihat lebih serius.
"Jadwal saya hari ini sudah dikosongkan?"
Steve menatap tabletnya.
"Sudah, Pak."
"Semua?"
"Semua."
Darren mengangguk singkat.
Steve masih berdiri di tempatnya.
Ada sesuatu yang ingin ia tanyakan, tetapi ia ragu.
Darren mengangkat wajah.
"Ada apa?"
Steve menarik napas.
"Pak, boleh saya bertanya?"
"Silakan."
"Kenapa semua jadwal Bapak dikosongkan?"
Darren diam sejenak.
"Saya punya urusan."
Steve menatapnya.
"Urusan di divisi pemasaran?"
Darren tidak langsung menjawab.
Jawaban itu sudah cukup bagi Steve.
Ia menghela napas kecil.
"Pak, saya sudah bekerja bersama Bapak sejak awal."
Darren menatapnya.
"Saya tahu."
"Jadi saya cukup mengenal Bapak."
Steve melangkah sedikit lebih dekat.
"Bapak bukan orang yang membatalkan rapat penting tanpa alasan yang jelas. Bapak juga bukan orang yang tiba-tiba mengosongkan jadwal hanya untuk melihat perkembangan proyek yang sebenarnya bisa dilaporkan melalui kepala divisi."
Darren tetap diam.
Steve melanjutkan dengan hati-hati.
"Dan sejak bertemu Hanin, Bapak jadi sering ke divisi pemasaran."
Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi.
Darren menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Jangan terlalu banyak berpikir."
"Saya tidak berpikir terlalu banyak, Pak."
Steve tersenyum tipis.
"Saya hanya memperhatikan."
Darren menatapnya cukup lama.
Steve sudah mengenal Darren sejak awal ia membangun kariernya di perusahaan itu. Ia tahu bagaimana Darren bersikap ketika sedang marah, lelah, kecewa, atau menyembunyikan sesuatu.
Dan saat ini, Darren jelas sedang menyembunyikan sesuatu.
Bukan dari orang lain.
Melainkan dari dirinya sendiri.