DI PERTEMUAN YANG KEDUA

sudiani
Chapter #5

Chapter 05


Darren tidak nyaman dengan perasaannya sendiri.

Sejak pertemuan itu, wajah Hanin terus memenuhi pikirannya. Bahkan ketika ia sedang bekerja, membaca laporan, atau menghadiri rapat, bayangan perempuan itu selalu muncul tanpa diminta.

Hanin.

Tujuh tahun berlalu, tetapi satu nama itu ternyata masih memiliki tempat yang begitu dalam di dalam dirinya.

Darren bersandar di kursi kerjanya, menatap layar laptop yang sejak beberapa menit lalu tidak benar-benar ia baca.

Ia sedang mencari alasan untuk bertemu Hanin lagi.

Namun, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Darren kesulitan menemukan sebuah alasan yang masuk akal.

Memanggilnya ke ruang CEO tanpa kepentingan pekerjaan akan terlihat aneh. Meminta Hanin datang hanya untuk berbicara juga bukan sesuatu yang bisa ia lakukan begitu saja.

Terlebih lagi, Hanin tidak mengenalnya.

Bahkan tatapan perempuan itu kepadanya beberapa hari lalu benar-benar seperti tatapan kepada orang asing.

Darren mengembuskan napas panjang.

Bagaimana mungkin seseorang yang pernah menjadi bagian paling penting dalam hidupnya kini bahkan tidak mengenali wajahnya?

Tangannya perlahan mengepal.

Ingatan tujuh tahun lalu kembali muncul.

Sebuah kecelakaan.

Suara benturan keras.

Pekikan rem.

Lalu semuanya gelap.

Darren hampir kehilangan hidupnya malam itu.

Tiga tahun.

Tiga tahun lamanya ia berada dalam keadaan koma di rumah sakit.

Tiga tahun yang membuat hidupnya berhenti, sementara dunia terus berjalan tanpa menunggunya.

Ketika akhirnya membuka mata, hal pertama yang ia cari adalah Hanin.

Kekasihnya.

Perempuan yang bahkan hanya ia tinggalkan dengan sebuah kalimat sederhana malam sebelum kecelakaan itu.

Aku pergi sebentar. Tunggu aku.

Namun ketika Darren terbangun, Hanin sudah tidak ada.

Tidak ada kabar.

Tidak ada pesan.

Tidak ada perempuan yang selama bertahun-tahun selalu menunggunya.

Yang tersisa hanya sebuah ruang kosong dan pertanyaan yang tidak pernah mendapatkan jawaban.

Darren memejamkan mata.

Tujuh tahun lalu, ia pikir perpisahan itu hanya sementara.

Ia tidak pernah menyangka bahwa satu malam akan mengubah seluruh hidup mereka.

Dan sekarang, setelah akhirnya menemukan Hanin kembali...

Perempuan itu justru tidak mengingatnya.

Darren tertawa kecil, tetapi tidak ada kebahagiaan di dalamnya.

"Bagaimana aku harus menjelaskannya, Hanin?"

Bagaimana ia menjelaskan bahwa dirinya bukan lelaki asing yang baru ditemuinya?

Bagaimana ia menjelaskan bahwa mereka pernah saling mencintai?

Bahwa dulu Hanin pernah menjadi seseorang yang paling ia takut kehilangan?

Dan bagaimana ia menjelaskan bahwa selama tujuh tahun itu, meskipun hidupnya berubah, ada satu bagian dari dirinya yang tidak pernah benar-benar meninggalkan perempuan itu?

Darren membuka matanya.

Lihat selengkapnya