Steve benar-benar memutar otak.
Sejak kemarin, pikirannya hanya dipenuhi satu hal—bagaimana caranya membuat Darren bertemu dengan Hanin tanpa menimbulkan kecurigaan.
Darren tidak bisa begitu saja memanggil Hanin ke ruangannya. Mereka tidak punya hubungan kerja yang cukup dekat untuk melakukan itu. Terlebih lagi, setelah tujuh tahun, tidak mungkin Darren tiba-tiba muncul di hadapan Hanin lalu berkata bahwa pria yang selama ini diyakini telah pergi dari hidupnya masih berdiri di hadapannya.
Akhirnya, Steve menemukan satu cara yang menurutnya paling masuk akal.
Makan siang bersama.
Keesokan harinya, Steve sengaja mengajak beberapa orang dari kantor untuk makan siang bersama di restoran yang tidak jauh dari gedung perusahaan.
Termasuk Hanin.
Dan tentu saja, Darren.
"Pak Darren, kebetulan siang ini ada beberapa teman kantor yang makan bersama. Kalau Bapak tidak ada agenda, mungkin bisa ikut bergabung."
Darren yang sedang membaca dokumen di tangannya mengangkat wajah.
Tatapannya langsung tertuju kepada Steve.
"Kamu sengaja?"
Steve tersenyum kecil.
"Saya cuma mengatur makan siang."
"Kamu tahu aku tidak suka keramaian."
"Saya juga tahu Bapak sudah tujuh tahun menunggu kesempatan seperti ini."
Darren terdiam.
Tujuh tahun.
Angka itu kembali menghantam dadanya.
Tujuh tahun sejak kecelakaan itu.
Tujuh tahun sejak hidupnya berubah menjadi sesuatu yang bahkan dirinya sendiri tidak mengenali.
Darren masih ingat bagaimana wajahnya dulu.
Wajah yang pernah begitu dicintai Hanin.
Wajah yang dulu selalu membuat Hanin tersenyum setiap kali mereka bertemu.
Namun kecelakaan itu merenggut semuanya.
Luka bakar yang parah membuat wajah Darren nyaris tidak lagi bisa dikenali. Berbagai operasi harus dijalani. Wajah yang dulu menjadi bagian dari dirinya perlahan berubah, sampai akhirnya Darren sendiri merasa seperti sedang menatap orang asing di cermin.
Tetapi ada satu hal yang tidak pernah berubah.
Matanya.
Hatinyalah.
Dan perasaannya kepada Hanin.
Restoran siang itu cukup ramai.
Beberapa karyawan sudah lebih dulu duduk mengelilingi sebuah meja panjang.
Maya duduk di sebelah Hanin, sementara Roni mengambil tempat tidak jauh dari mereka.
Begitu Darren datang bersama Steve, suasana meja itu sedikit berubah.
Beberapa orang langsung berdiri memberikan salam.
"Selamat siang, Pak Darren."
"Siang."
Darren menjawab singkat.
Namun langkahnya terhenti sepersekian detik ketika matanya menemukan satu sosok yang selama tujuh tahun hanya hidup di dalam ingatannya.
Hanin.
Wanita itu sedang tersenyum karena sesuatu yang dikatakan Maya.
Senyum yang sama.
Senyum yang dulu selalu menjadi alasan Darren ingin pulang lebih cepat.