DI PERTEMUAN YANG KEDUA

sudiani
Chapter #8

Chapter 08


Proyek baru yang dikerjakan Hanin bersama beberapa rekan satu divisinya akhirnya kembali menjadi pusat perhatian perusahaan.

Tidak ada yang menyangka hasilnya akan sebesar itu.

Produk yang mereka kerjakan bukan hanya mendapat respons positif di dalam negeri, tetapi mulai merambah beberapa negara di Asia. Pesanan meningkat tajam. Penjualan meroket dalam waktu singkat, membuat perusahaan memperoleh keuntungan yang jauh lebih besar dari perkiraan awal.

Nama divisi Hanin pun ikut terangkat.

Di ruang rapat, beberapa pimpinan membicarakan keberhasilan proyek tersebut dengan penuh kebanggaan.

"Ini pencapaian yang luar biasa."

"Penjualannya meningkat hampir dua kali lipat."

"Pasar Asia memberikan respons yang sangat baik."

Hanin hanya tersenyum ketika mendengar pujian itu.

Baginya, keberhasilan tersebut bukan hanya miliknya.

Semua orang di dalam tim bekerja keras.

Namun Maya memiliki pendapat berbeda.

"Han, kamu jangan rendah hati terus."

Hanin menoleh.

"Kenapa?"

"Kalau bukan karena ide kamu, proyek ini belum tentu bisa sampai sejauh ini."

Hanin tertawa kecil.

"Yang mengerjakan juga kalian."

"Iya, tapi kamu yang memulainya."

Beberapa rekan mereka ikut mengangguk.

Suasana kantor hari itu jauh lebih ceria dari biasanya.

Dan seperti tradisi yang sudah berlangsung setiap kali sebuah proyek berhasil, beberapa orang mulai membicarakan rencana makan malam bersama.

"Harus dirayakan!"

"Setuju."

"Kita karaoke saja."

"Setelah makan, karaoke sampai puas."

Beberapa orang langsung bersorak.

Hanin yang sedang membereskan dokumen hanya tersenyum mendengar keributan itu.

Maya tiba-tiba menghampirinya.

"Kamu ikut."

Hanin mengangkat wajah.

"Aku?"

"Iya, kamu."

"Aku enggak usah deh. Kalian saja."

Maya langsung memasang wajah tidak setuju.

"Enggak bisa."

"Kenapa?"

"Karena proyek ini salah satu penyebab utama divisi kita dipuji. Dan kamu bagian penting dari tim."

Hanin tertawa.

"Kan masih banyak yang lain."

"Pokoknya ikut."

Hanin menghela napas.

Melihat Maya yang terus membujuk, akhirnya ia menyerah.

"Iya, iya. Aku ikut."

"Nah!"

Maya langsung tersenyum puas.

"Jangan sampai nanti kamu pulang duluan."

Lihat selengkapnya