Acara akhirnya selesai.
Satu per satu karyawan mulai meninggalkan tempat hiburan itu. Sebagian sudah terlihat sedikit mabuk karena terlalu banyak minum, sementara yang lainnya memilih pulang lebih awal sebelum malam semakin larut.
Maya ternyata cukup kuat minum. Meski sudah beberapa kali menuangkan minuman ke gelasnya, langkahnya masih cukup tegap ketika berpamitan.
“Han, kamu yakin nggak mau ikut aku?” tanyanya sambil tertawa kecil.
Hanin menggeleng sambil tersenyum.
“Aku pulang sendiri saja. Kamu hati-hati.”
Di sisi lain, Roni yang sejak tadi memperhatikan Hanin akhirnya memberanikan diri menawarkan tumpangan.
“Hanin, kalau kamu mau, aku antar pulang. Kebetulan arah rumahku juga—”
“Terima kasih, Roni. Tapi aku bisa pulang sendiri.”
Hanin menjawab dengan begitu sopan hingga Roni tidak punya alasan untuk memaksanya.
“Baiklah. Hati-hati.”
Hanin mengangguk.
Ia bahkan tidak menyentuh minuman beralkohol sedikit pun malam itu. Di tengah teman-temannya yang bersenang-senang, Hanin tetap menjadi Hanin yang dulu.
Sederhana.
Menjaga dirinya.
Tidak mudah terbawa suasana.
Darren memperhatikan semuanya dari kejauhan.
Ada sesuatu yang hangat menyentuh dadanya.
Tujuh tahun.
Tujuh tahun berlalu, tetapi perempuan yang pernah hidup satu atap dengannya itu ternyata masih sama.
Tidak banyak yang berubah.
Hanin masih memiliki kebiasaan-kebiasaan kecil yang Darren hafal di luar kepala. Cara ia tersenyum ketika merasa tidak enak menolak seseorang. Cara ia menundukkan kepala ketika berpamitan. Bahkan cara ia berjalan sambil sesekali melihat sekeliling.
Darren mengenalnya terlalu baik.
Mungkin jauh lebih baik daripada yang seharusnya.
Sejak namanya mulai malang melintang di dunia bisnis, Darren sudah bertemu dengan begitu banyak perempuan. Perempuan cantik, berpendidikan, menarik, bahkan beberapa di antaranya secara terang-terangan berusaha mendekatinya.
Namun tidak satu pun berhasil membuat hatinya bergerak.
Selama bertahun-tahun, ia mengira perasaan itu sudah mati bersama masa lalu.
Ternyata tidak.
Perasaan itu hanya tertidur.
Dan Hanin adalah satu-satunya orang yang mampu membangunkannya kembali.
Malam belum terlalu larut ketika Hanin berjalan meninggalkan tempat acara.
Ia sebenarnya bisa saja langsung pulang.
Namun udara malam terasa cukup nyaman. Di sepanjang jalan, lampu-lampu pasar malam masih menyala. Beberapa pedagang masih sibuk melayani pembeli, anak-anak berlarian di antara keramaian, sementara aroma makanan dari berbagai penjuru bercampur dengan udara malam.
Hanin memperlambat langkah.