Malam semakin larut.
Pasar malam yang sejak tadi ramai perlahan mulai sepi. Beberapa pedagang sudah mulai membereskan dagangan mereka, sementara lampu-lampu di beberapa kios mulai dimatikan satu per satu.
Darren melirik jam tangannya.
“Kamu pulang naik apa?”
“Pesan kendaraan saja nanti.”
“Aku antar.”
Hanin langsung menggeleng.
“Tidak perlu, Pak. Saya bisa pulang sendiri.”
“Sudah malam.”
“Saya biasa pulang sendiri.”
Darren terdiam sebentar.
Ia tahu Hanin tidak mudah menerima bantuan dari orang lain.
“Kalau begitu, anggap saja saya kebetulan searah.”
Hanin masih terlihat ragu.
Namun setelah melihat jalanan yang mulai sepi, akhirnya ia mengangguk.
“Baiklah.”
Senyum tipis muncul di wajah Darren.
Setidaknya satu langkah lagi.
Sepanjang perjalanan, Darren beberapa kali melirik Hanin yang duduk tenang di sampingnya.
Sebenarnya ia tidak sedang searah.
Bahkan ia tidak tahu persis di mana Hanin tinggal.
Dan itulah alasan sebenarnya mengapa ia menawarkan diri mengantar.
Selama bertahun-tahun, Darren tidak pernah mencari tahu tentang kehidupan Hanin.
Kini setelah mereka bertemu kembali, ia justru merasa ingin mengetahui semuanya.
Dengan siapa Hanin tinggal?
Apakah ia tinggal sendiri?
Apakah ada seseorang yang selama ini menjaganya?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya.
Namun Darren tahu ia tidak bisa bertanya secara langsung.
Maka, ketika mobil berhenti di depan tempat tinggal Hanin, Darren tiba-tiba memijat pelipisnya.
Hanin langsung menoleh.
“Bapak kenapa?”
“Kepala agak pusing.”
Wajah Hanin berubah khawatir.
“Pusing?”
“Iya. Mungkin terlalu banyak bekerja beberapa hari ini.”
Hanin menghela napas.
“Kalau begitu, Bapak istirahat dulu.”
Darren menatapnya.
“Boleh?”
Hanin terdiam.