Malam itu, Darren tidak bisa tidur.
Ia masih teringat kamar Hanin.
Bukan karena kamar itu sederhana. Bukan pula karena rumah yang ditempatinya jauh dari bayangan seorang perempuan yang pernah begitu ia cintai.
Melainkan karena satu hal.
Foto dirinya masih ada di sana.
Foto yang seharusnya sudah lama dibuang.
Foto seorang Darren tujuh tahun lalu—wajah yang masih utuh, senyum yang masih mudah muncul, dan sepasang mata yang menatap kamera dengan kebahagiaan yang bahkan tidak ia sadari akan segera direnggut darinya.
Darren duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong ke arah jendela.
Tiga tahun.
Selama tiga tahun ia berada dalam koma.
Dan setelah terbangun, hidupnya berubah menjadi rangkaian hari yang penuh rasa sakit, operasi, terapi, dendam keluarga, dan perjuangan untuk kembali berdiri.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah berubah.
Hanin.
Nama itu tetap tinggal di bagian paling dalam dirinya.
Yang tidak pernah ia tahu adalah...
selama ia berusaha bertahan hidup, Hanin ternyata juga sedang berusaha bertahan tanpanya.
Darren memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia bertanya pada dirinya sendiri dengan jujur.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu selama aku tidak ada, Nin?"
Keesokan paginya, Hanin datang ke kantor seperti biasa.
Tidak ada yang berbeda dari penampilannya.
Kemeja sederhana, rambut panjang tergerai rapi, dan wajah tenang yang selalu ia tunjukkan kepada semua orang.
Namun, ada satu hal yang berbeda.
Sejak mengantar Darren pulang malam tadi, pikirannya terus dipenuhi lelaki itu.
Terutama ketika Darren tiba-tiba bertanya tentang tempat tinggalnya.
Dan tingkah anehnya saat berada di dalam kamar.
Hanin masih mengingat tatapan Darren ketika melihat foto di atas meja.
Tatapan yang sulit dijelaskan.
Seolah-olah foto itu bukan sekadar foto.
"Hanin!"
Suara Maya membuatnya tersentak.
"Hah?"
Maya berdiri di samping meja sambil membawa dua gelas kopi.
"Kamu melamun dari tadi."
"Aku?"
"Iya."
Maya meletakkan satu gelas di meja Hanin.
"Jangan bilang semalam ada kejadian aneh."
Hanin mengerutkan kening.
"Memangnya kenapa?"
"Karena kamu kelihatan seperti orang yang semalaman tidak tidur."
Hanin tertawa kecil.
"Memang agak susah tidur."
Maya langsung duduk di kursi sebelahnya.
"Karena Darren?"
Hanin terdiam.
Satu nama itu saja sudah cukup membuat dadanya berdebar.
"Maya..."
"Aku cuma bertanya."
"Tidak ada apa-apa."
Maya menyipitkan mata.
"Yakin?"
Hanin mengangguk.
"Dia hanya mengantarku pulang."