Aku akan buat Bab 13 dengan suasana emosional yang kuat, terutama dari sudut pandang Darren ketika Steve membawa kembali kisah tujuh tahun kehidupan Hanin—termasuk saat Hanin nekat mencarinya ke kota.
Penulisan
Bab 13
Jejak yang Tak Pernah Hilang
Sesuai instruksi Darren, Steve datang ke sebuah panti asuhan yang selama ini hanya ia kenal dari cerita.
Panti Asuhan Kasih Bunda.
Bangunan sederhana itu masih berdiri seperti dulu. Cat dindingnya memang telah memudar, beberapa bagian pagar sudah berganti, tetapi halaman kecil tempat anak-anak bermain masih menyimpan kehangatan yang aneh.
Steve berdiri beberapa saat di depan gerbang sebelum akhirnya melangkah masuk.
Ia datang bukan untuk mencari Darren.
Ia datang untuk mencari Hanin.
Atau lebih tepatnya, mencari potongan kehidupan Hanin yang selama tujuh tahun terakhir tidak pernah diketahui Darren.
Seorang perempuan paruh baya menyambutnya dengan senyum ramah.
“Steve?”
“Iya, Bunda Sri?”
Perempuan itu mengangguk.
“Darren sudah cerita tentang Bunda?” tanyanya.
Steve tersenyum tipis.
“Tidak banyak. Tapi saya tahu Bunda adalah orang yang paling tahu tentang masa kecil Darren dan Hanin.”
Senyum Bunda Sri perlahan menghilang.
Seolah nama kedua anak itu membuka pintu kenangan yang sudah lama ia simpan.
“Duduklah.”
Mereka kemudian duduk di teras panti.
Untuk beberapa saat, Bunda Sri hanya memandangi halaman.
“Dulu Darren dan Hanin hampir tidak pernah terpisah,” ucapnya pelan.
“Darren selalu merasa dirinya kakak bagi Hanin. Ke mana pun Hanin pergi, dia ikut. Kalau Hanin menangis, Darren yang paling panik. Kalau ada anak lain yang mengganggunya, Darren yang berdiri paling depan.”
Steve mendengarkan tanpa menyela.
“Dan Hanin?”
Bunda Sri tersenyum kecil.
“Hanin selalu mengikuti Darren.”
Lalu senyum itu berubah menjadi tatapan sendu.
“Bagi Hanin, Darren bukan hanya kakak.”
Steve terdiam.
Ia sudah tahu apa yang dimaksud perempuan itu.
“Ketika perasaan mereka berubah?” tanyanya hati-hati.
Bunda Sri mengangguk.
“Mereka tumbuh. Perasaan juga ikut tumbuh.”
Bunda Sri menarik napas panjang.
“Tapi kemudian Darren pergi.”
Satu kalimat sederhana.
Namun Steve bisa merasakan betapa beratnya kalimat itu.
“Setelah Darren pergi, Hanin berubah.”
“Seberapa berubah?”
“Banyak.”
Bunda Sri menundukkan kepala.
“Awalnya dia masih percaya Darren akan kembali. Setiap ada suara kendaraan berhenti di depan panti, dia selalu berlari keluar.”
Steve terdiam.
“Dia menunggu?”