Sejak mendengar cerita dari Steve, Darren tidak lagi memandang Hanin dengan cara yang sama.
Bukan karena Hanin berubah.
Justru karena Darren akhirnya mengetahui bahwa selama tujuh tahun perempuan itu telah berusaha bertahan tanpa dirinya.
Ada rasa bersalah yang perlahan tumbuh di dalam dada Darren.
Rasa bersalah yang tidak bisa ia hapus hanya dengan mengatakan bahwa semua itu bukan keinginannya.
Kecelakaan itu bukan kesalahannya.
Koma selama tiga tahun bukan pilihannya.
Bahkan ketika ia terbangun, keadaan memaksanya berjalan ke arah yang berbeda.
Tetapi bagi Hanin, semua alasan itu tidak pernah mengubah kenyataan.
Ia tetap kehilangan Darren.
Dan Darren baru mengetahuinya setelah tujuh tahun berlalu.
Sementara itu, Hanin menjalani hari-harinya seperti biasa.
Pekerjaan membuatnya sibuk.
Ia menikmati apa yang dikerjakannya. Bukan hanya karena pekerjaan itu memberinya penghasilan, tetapi karena Hanin merasa akhirnya memiliki sesuatu yang benar-benar ia bangun dengan tangannya sendiri.
Ia tidak pernah menganggap dirinya perempuan yang hebat.
Ia hanya belajar bertahan.
Sedikit demi sedikit.
Setiap menerima gaji, Hanin selalu menyisihkan sebagian untuk Panti Asuhan Kasih Bunda.
Bukan jumlah yang besar.
Namun baginya, itu adalah janji.
Janji yang sudah dibuatnya bertahun-tahun lalu.
“Selama aku punya penghasilan, aku akan tetap berbagi dengan anak-anak di sana.”
Itulah yang pernah dikatakannya kepada Bunda Sri.
Dan Hanin tidak pernah mengingkarinya.
Jika pekerjaannya sedang tidak terlalu padat, ia akan pulang ke panti.
Kadang membawa kebutuhan sehari-hari.
Kadang hanya membawa makanan.
Bahkan terkadang ia datang tanpa membawa apa-apa.
Hanya ingin duduk.
Bercerita.
Mendengar anak-anak memanggil namanya.
Karena di tempat itu, Hanin bukan siapa-siapa.
Ia hanya Hanin.
Gadis yang pernah tumbuh di sana.
Perempuan yang meninggalkan tempat itu setelah dewasa, tetapi tidak pernah benar-benar pergi.
Dua puluh lima tahun hidupnya tersimpan di sana.
Tawa masa kecil.
Tangis pertama.
Hari-hari ketika ia belajar berjalan.
Hari ketika ia pertama kali mengenal arti kehilangan.