DI PERTEMUAN YANG KEDUA

sudiani
Chapter #15

Chapter 15



Sejak Hanin bergabung dengan divisinya, suasana kerja terasa jauh lebih hidup.

Bukan karena Hanin selalu menjadi pusat perhatian, melainkan karena ia memiliki cara sederhana untuk membuat orang-orang di sekitarnya merasa nyaman. Ia tidak pernah ragu membantu ketika pekerjaan rekan-rekannya menumpuk. Begitu pula Maya dan teman-teman satu divisinya yang selalu siap membantu Hanin saat ia membutuhkan sesuatu.

Mereka bukan sekadar rekan kerja.

Tanpa disadari, mereka telah menjadi tim yang saling memahami.

Pagi itu, tawa kecil terdengar dari sudut ruangan ketika Maya menunjukkan sesuatu di layar komputernya.

"Han, coba lihat ini. Kalau data yang kemarin kita masukkan seperti ini, hasilnya jauh lebih bagus."

Hanin mendekat.

"Wah, iya. Kenapa kemarin aku nggak kepikiran sampai sini?"

"Makanya, punya teman itu jangan cuma buat makan siang," goda Maya.

Hanin tertawa.

"Memangnya selama ini aku cuma ngajak kalian makan?"

"Enggak. Kadang ngajak lembur juga."

Tawa mereka kembali pecah.

Namun, suasana hangat itu perlahan berubah ketika seorang perempuan muda memasuki ruangan bersama kepala divisi.

Perempuan itu tampak sangat muda. Penampilannya rapi dan elegan, dengan sikap yang terlalu percaya diri untuk seseorang yang baru pertama kali menginjakkan kaki di ruangan tersebut. Senyumnya terlihat sopan, tetapi matanya bergerak cepat, seolah sedang mencari seseorang yang sudah ia kenal sebelum datang.

"Teman-teman, mulai hari ini kita kedatangan anak magang baru."

Semua mata langsung tertuju kepadanya.

"Namanya Cintiya Arman."

Cintiya tersenyum tipis.

"Halo semuanya. Mohon bantuannya selama saya magang di sini."

Beberapa orang menyambutnya dengan ramah.

Hanin juga tersenyum dan mengangguk sopan.

"Selamat bergabung."

"Terima kasih."

Tatapan Cintiya sempat berhenti pada Hanin sedikit lebih lama dari yang seharusnya sebelum ia mengalihkan pandangan dan memilih tempat duduk yang telah disediakan.

Awalnya, tidak ada yang terasa aneh.

Sampai Maya mendekati Hanin dan berbisik pelan.

"Han..."

"Hm?"

"Kamu tahu siapa dia?"

Hanin menggeleng.

"Anak magang?"

Maya menahan tawa.

"Iya, tapi bukan anak magang biasa."

Hanin mengernyit.

"Maksudmu?"

Maya melirik ke arah Cintiya yang sedang berbicara dengan salah satu staf senior.

"Dia keluarga Mahardana."

Hanin terdiam sesaat.

"Serius?"

"Iya. Cintiya Arman. Sepupu tiri Darren."

Lihat selengkapnya