Sejak kedatangan Cintiya Arman, suasana di divisi Hanin sedikit berbeda.
Bukan karena gadis itu tidak menyenangkan. Justru sebaliknya, Cintiya cukup mudah berbaur. Ia ramah, cepat tersenyum, dan tidak segan bertanya ketika menemukan sesuatu yang belum ia pahami.
Namun, ada satu hal yang membuat beberapa orang di divisi Hanin merasa penasaran.
Cintiya bukan anak magang biasa.
Semua orang tahu ia datang melalui jalur khusus. Bahkan Maya yang biasanya paling banyak tahu soal kabar perusahaan pun tidak mendapatkan informasi yang jelas.
Hanin sendiri tidak terlalu mempermasalahkannya.
Baginya, selama Cintiya mau bekerja dan belajar, tidak ada alasan untuk memperlakukannya berbeda.
"Cintiya, coba kamu pelajari laporan bahan yang ini dulu," ujar Hanin sambil menyerahkan beberapa dokumen.
Cintiya menerima dengan senyum.
"Baik, Kak Hanin."
"Kalau ada yang tidak kamu mengerti, tanya saja."
Cintiya mengangguk.
Ia kemudian duduk di tempatnya dan mulai membaca dokumen tersebut.
Dari kejauhan, Maya memperhatikan keduanya.
"Kamu baik sekali sama anak magang itu," bisiknya.
Hanin mengangkat wajah.
"Kenapa?"
"Entahlah. Aku kira kamu bakal menjaga jarak."
Hanin tersenyum kecil.
"Dia datang untuk belajar. Lagipula, dulu aku juga pernah berada di posisi seperti dia."
Maya mengangguk.
"Benar juga."
Hanin kembali menatap layar komputernya.
Ia sama sekali tidak tahu bahwa di lantai paling atas, seseorang sedang memikirkan hal yang jauh lebih rumit.
Darren berdiri di depan jendela besar ruang kerjanya.
Tangannya berada di saku celana, sementara pandangannya mengarah ke gedung-gedung di kejauhan.
Cintiya.
Nama itu kembali terlintas di kepalanya.
Ia sudah tahu bahwa Cintiya berada di divisi Hanin. Namun, bukan penempatan itu yang paling ia khawatirkan.
Darren takut masalah rumit keluarga Mahardana sampai ke telinga Hanin.
Bagaimanapun juga, Paul Mahardana dan Arman tidak pernah akur. Kedua saudara tiri itu seperti dua air laut yang berbeda—tidak akan pernah bisa menyatu, meskipun Crish selalu berusaha bersikap adil kepada keduanya.
Dan Cintiya bisa saja menjadi mata-mata.
Mungkin ia datang dengan tujuan yang sama seperti tujuh tahun lalu.
Darren menghela napas panjang.
Sudah satu minggu Cintiya bekerja di Mahardana Group, tetapi ia belum juga berbicara langsung dengannya. Ia tidak bisa terus membiarkan gadis itu bergerak tanpa mengetahui maksud sebenarnya.
"Pak."
Suara Steve membuat Darren menoleh.
"Masuk."
Steve berjalan mendekat sambil membawa beberapa dokumen.
"Ini laporan yang Bapak minta."
Darren menerimanya.
Namun, sebelum membuka dokumen itu, ia bertanya,
"Cintiya bagaimana?"
Steve sedikit terdiam.
"Sejauh ini baik."
Darren tersenyum tipis.
Senyum yang sama sekali tidak menunjukkan kegembiraan.
"Tentu saja."
Steve diam.
Darren menutup dokumen di tangannya.
"Pastikan Cintiya tidak mendapatkan perlakuan khusus."
"Baik."
"Dan jangan biarkan siapa pun menggunakan nama keluarga untuk mendapatkan keuntungan."
"Baik, Pak."
Steve mengangguk, lalu meninggalkan ruangan.
Darren kembali menatap dokumen di tangannya, tetapi pikirannya masih tertuju pada Hanin.
Ada sesuatu yang menghangat di dalam dadanya.
Itulah Hanin.
Selalu sama.