Cintiya keluar dari ruang rapat dengan langkah yang terlihat tenang.
Namun, wajahnya tidak sepenuhnya bisa menyembunyikan sesuatu.
Sesekali matanya melirik ke arah Hanin yang duduk tidak terlalu jauh darinya. Tatapan itu hanya berlangsung beberapa detik sebelum Cintiya kembali mengalihkan pandangan dan berpura-pura sibuk dengan berkas di tangannya.
Hanin yang sedang memeriksa beberapa desain tidak terlalu memperhatikan.
Berbeda dengan Maya.
Sejak tadi Maya memperhatikan gerak-gerik Cintiya. Begitu gadis itu menjauh dari ruangan, Maya langsung mendekat kepada beberapa rekan mereka.
"Menurut kalian, kenapa Cintiya dipanggil Pak Darren?"
"Entahlah."
"Tapi kalian sadar nggak?"
Maya menurunkan suaranya.
"Cintiya sama Pak Darren itu seperti nggak akur."
Beberapa orang langsung saling pandang.
"Aku juga merasa begitu."
"Padahal mereka saudara sepupu, kan?"
Maya mengangguk.
"Katanya begitu."
Percakapan itu terhenti ketika Hanin tiba-tiba berdiri mengambil beberapa dokumen.
Mereka pun spontan mengecilkan suara.
Tidak ada yang ingin Hanin mendengar pembicaraan mereka.
Sementara itu, Cintiya kembali ke meja kerjanya.
Ia mencoba berkonsentrasi, tetapi percakapan singkatnya dengan Darren masih terngiang-ngiang di kepalanya.
Darren tetap sama.
Dingin.