Steve meninggalkan ruangan Darren dengan satu tugas baru.
Mencari tahu tentang Cintiya.
Sebenarnya bukan pertama kalinya Steve diminta melakukan sesuatu yang berkaitan dengan keluarga Mahardana. Selama bertahun-tahun menjadi orang kepercayaan Darren, ia sudah terbiasa menangani hal-hal yang tidak bisa dipercayakan kepada orang lain.
Steve sedikit lebih muda dari Darren.
Namun dalam urusan pekerjaan, ia memiliki ketenangan dan ketelitian yang membuat Darren mempercayainya sepenuhnya.
Steve bukan sekadar asisten.
Ia adalah orang yang mengetahui kapan Darren membutuhkan sesuatu bahkan sebelum pria itu mengatakannya.
Dan satu hal yang paling Darren yakini tentang dirinya—
Steve tidak akan pernah mengkhianatinya.
Saat ini, pekerjaan Steve semakin bertambah.
Ia harus memastikan seluruh jadwal Darren berjalan tanpa hambatan.
Rapat dengan jajaran direksi.
Pertemuan dengan klien.
Negosiasi kerja sama.
Agenda perusahaan.
Bahkan jadwal perjalanan yang terkadang berubah dalam hitungan menit.
Di sela semua itu, Steve juga harus mengawasi Cintiya.
Belum selesai dengan Cintiya, Darren meminta informasi mengenai Hanin.
Dan sekarang, ada dua nama lain yang perlahan kembali masuk ke dalam daftar pekerjaannya.
Arman.
Dan Crish.
Steve mengusap wajahnya sebentar ketika melihat tumpukan berkas di mejanya.
“Sepertinya aku butuh dua orang tambahan,” gumamnya.
Namun ia tersenyum tipis.
Bagaimanapun juga, semua itu adalah bagian dari pekerjaannya.
Dan Steve tahu, Darren tidak pernah memberikan tugas tanpa alasan.
Terlebih jika menyangkut keluarganya.
Dua tahun terakhir telah mengubah banyak hal di Mahardana Group.
Paul, ayah Darren, secara perlahan menyerahkan seluruh kendali perusahaan kepada putranya.
Bukan karena ia sudah tidak mampu memimpin.
Melainkan karena ia percaya kepada Darren.
Paul tahu putranya memiliki kemampuan yang bahkan dulu tidak ia sadari sepenuhnya.
Darren jauh lebih cerdas daripada yang pernah ia bayangkan.
Ia mampu membaca keadaan.
Menganalisis seseorang.
Mengambil keputusan dalam tekanan.
Dan yang paling penting, Darren tidak mudah dipengaruhi.
Karena itulah Paul memilih mundur dari pusat perusahaan.
Ia dan istrinya memutuskan tinggal di luar negeri.
Bukan karena mereka ingin meninggalkan Darren.
Justru sebaliknya.
Mereka ingin memberi Darren ruang untuk memimpin tanpa terus dihantui konflik keluarga yang selama puluhan tahun tidak pernah benar-benar selesai.
Paul sudah terlalu lama hidup berdampingan dengan orang-orang yang seharusnya menjadi keluarganya, tetapi justru menjadi sumber masalah.
Crish.