Ba
Semenjak Cintiya datang ke Mahardana Group, Darren mulai lebih berhati-hati dengan dirinya sendiri.
Bukan karena gadis itu.
Melainkan karena kehadiran Cintiya membuatnya sadar bahwa terlalu banyak orang mulai memperhatikan kehidupan pribadinya.
Karena itu, Darren memutuskan untuk mengendalikan pikirannya.
Terutama tentang Hanin.
Ia tidak boleh terlalu sering mencari alasan untuk bertemu perempuan itu.
Tidak boleh terlalu sering memperhatikannya.
Tidak boleh membiarkan perasaannya terlihat.
Setidaknya itulah yang terus Darren katakan kepada dirinya sendiri.
Namun hati ternyata tidak pernah mau tunduk pada perintah.
Setiap kali Darren melewati divisi tempat Hanin bekerja, matanya tetap saja mencari sosok perempuan itu.
Kadang hanya sekilas.
Kadang dari kejauhan.
Dan terkadang, tanpa sadar, langkahnya melambat hanya karena mendengar suara Hanin tertawa.
---
Hari-hari Hanin sendiri berjalan seperti biasa.
Pekerjaan seolah tidak pernah benar-benar habis.
Satu proyek selesai, proyek lain menunggu.
Presentasi harus dipersiapkan.
Desain harus diperiksa.
Laporan harus diselesaikan.
Namun Hanin tidak pernah benar-benar merasa sendirian.
Ada Maya yang selalu berhasil membuat suasana menjadi lebih ringan.
Teman-teman satu divisinya juga sudah seperti keluarga kecil.
Mereka saling membantu ketika pekerjaan menumpuk, saling mengingatkan ketika ada kesalahan, bahkan sering bercanda di sela-sela kesibukan.
Dan ada Roni.
Lelaki itu tidak pernah menyembunyikan perhatian kecilnya kepada Hanin.
Tidak berlebihan.
Tidak memaksa.
Hanya perhatian-perhatian sederhana yang sebenarnya mungkin tidak berarti apa-apa bagi Hanin.
“Han, ini kopi kamu.”
Roni meletakkan segelas kopi di meja Hanin.
Hanin mengangkat wajah.
“Terima kasih, Ron.”
“Tanpa gula, kan?”
Hanin mengangguk.
“Kamu masih ingat?”
“Sudah sering lihat kamu minum kopi.”
Hanin hanya tersenyum.
Baginya, Roni adalah teman kerja yang baik.