DI PERTEMUAN YANG KEDUA

sudiani
Chapter #21

Chapter 21

Suasana di dalam ruangan itu terasa lebih tegang dari yang seharusnya.

Hanin duduk berhadapan dengan Darren, sementara sebuah berkas proyek terbuka di atas meja. Pertemuan itu seharusnya sederhana. Membahas perkembangan proyek, mengevaluasi beberapa hasil penjualan, lalu selesai.

Setidaknya, itulah alasan yang diberikan Steve.

Namun bagi Darren, tidak ada satu pun yang sederhana ketika Hanin berada di hadapannya.

Sejak Hanin masuk ke ruangan tadi, Darren harus berkali-kali mengingatkan dirinya sendiri untuk bersikap tenang.

Jangan terlalu lama menatapnya.

Jangan menunjukkan kerinduan.

Jangan membuatnya curiga.

Dan yang paling penting, jangan biarkan masa lalu menguasai dirinya.

"Kinerja proyek ini cukup baik," ujar Darren akhirnya.

Hanin mengangguk kecil.

"Syukurlah. Kami masih berusaha mengembangkan beberapa bagian yang menurut kami bisa meningkatkan penjualan."

Darren menatapnya.

Cara Hanin berbicara.

Nada suaranya.

Kebiasaan kecilnya ketika menjelaskan sesuatu.

Semuanya terasa begitu familiar.

Tujuh tahun berlalu, tetapi bagi Darren, perempuan yang duduk di hadapannya itu masih Hanin yang sama.

Hanya saja kini ia harus mengenalnya kembali dari awal.

"Menurutmu, bagian mana yang masih perlu diperbaiki?" tanya Darren.

Hanin mulai menjelaskan dengan tenang. Sesekali ia membuka berkas di hadapannya dan menunjuk beberapa angka.

Darren berusaha mendengarkan.

Benar-benar berusaha.

Namun pandangannya justru tertahan pada wajah Hanin.

Hanin tiba-tiba berhenti berbicara.

Ia mengangkat wajah.

Tatapan mereka bertemu.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang mengatakan apa-apa.

Dada Hanin terasa sedikit sesak.

Ada sesuatu dari sorot mata laki-laki itu.

Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Tatapan itu...

Entah mengapa terasa begitu akrab.

Seperti pernah ia kenal.

Seperti pernah ia lihat berkali-kali dalam hidupnya.

Hanin mengerutkan kening tipis.

"Kenapa?" tanya Darren.

Hanin segera mengalihkan pandangan.

"Maaf."

"Untuk apa?"

Hanin tersenyum kecil, mencoba menghilangkan perasaan aneh yang tiba-tiba muncul.

"Saya hanya merasa..."

Ia berhenti.

"Merasa apa?"

Lihat selengkapnya