Ruangan Darren kembali dipenuhi keheningan.
Hanin masih berdiri di hadapan meja kerja pria itu setelah pembicaraan mengenai proyek yang sebenarnya sudah selesai beberapa menit lalu.
Namun, ada sesuatu yang membuat langkahnya tertahan.
Tatapan Darren.
Entah mengapa sejak beberapa waktu terakhir, sorot mata pria itu terasa begitu mengusik pikirannya. Ada sesuatu yang sulit dijelaskan. Sesuatu yang terasa akrab, tetapi tidak mungkin.
Hanin menatap Darren lebih lama dari seharusnya.
Sorot mata itu...
Kenapa begitu familiar?
Ada rasa sesak yang tiba-tiba muncul di dadanya.
Perasaan yang sudah bertahun-tahun ia kubur dalam-dalam, seolah seseorang baru saja membuka kembali pintu yang selama ini sengaja ia kunci.
Tujuh tahun.
Tujuh tahun sejak seseorang pergi dari hidupnya tanpa meninggalkan kabar.
Tujuh tahun sejak Hanin kehilangan seseorang yang bukan hanya ia cintai, tetapi juga sosok yang selama bertahun-tahun menjadi tempatnya merasa aman.
Ia menggeleng kecil, berusaha mengusir pikirannya sendiri.
Tidak.
Ini hanya kebetulan.
Tidak mungkin.
Pria di hadapannya adalah Darren Mahardana, CEO perusahaan tempatnya bekerja.
Sedangkan seseorang yang ia kenal tujuh tahun lalu sudah menjadi bagian dari masa lalu.
"Kalau begitu, saya permisi, Pak."
Hanin akhirnya mengangkat map yang sejak tadi berada di tangannya.
Darren yang sedari tadi memperhatikan perubahan ekspresi Hanin langsung mengangkat wajah.
"Tunggu."
Langkah Hanin berhenti.
Ia menoleh.
"Masih ada yang ingin Bapak sampaikan?"
Darren terdiam.
Tidak ada.
Sebenarnya tidak ada lagi yang ingin ia bicarakan mengenai pekerjaan.
Ia hanya tidak ingin Hanin pergi.
Sesederhana itu.
Tetapi bagaimana mungkin ia mengatakan hal tersebut?
Bagaimana mungkin ia mengatakan bahwa sejak menemukan Hanin kembali, setiap kesempatan untuk berada di dekat perempuan itu terasa terlalu berharga untuk dilewatkan?
Darren menarik napas pelan.
"Saya hanya..." Ia berhenti sejenak. "Ingin bertanya sesuatu."
"Apa?"
Darren menatapnya.
"Kamu sudah makan malam?"