DI PERTEMUAN YANG KEDUA

sudiani
Chapter #23

Chapter 23



Malam sudah semakin larut ketika Hanin akhirnya kembali ke kontrakannya.


Begitu pintu tertutup, ia meletakkan tas di atas kursi, lalu berdiri beberapa saat tanpa melakukan apa pun. Biasanya, setelah seharian bekerja, yang ia inginkan hanya mandi, makan sesuatu, lalu tidur.


Namun malam ini berbeda.


Pikirannya masih tertinggal di ruangan Darren.


Tatapan laki-laki itu.


Hanin menghela napas panjang, kemudian berjalan menuju kamar. Ia mengganti pakaian dan merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Lampu kamar sengaja ia matikan, berharap kegelapan bisa membuat pikirannya lebih tenang.


Nyatanya tidak.


Begitu matanya terpejam, sorot mata Darren kembali muncul.


Tatapan yang tenang, dalam, tetapi entah mengapa terasa begitu dekat.


Hanin membuka mata.


Ia menatap langit-langit kamar dengan alis sedikit berkerut.


"Ada apa sebenarnya dengan tatapan itu?"


Selama bertahun-tahun, Hanin sudah belajar bagaimana menjaga jarak dari orang lain. Ia tidak mudah percaya. Tidak mudah membuka cerita tentang hidupnya. Bahkan untuk membiarkan seseorang masuk ke dalam kehidupannya pun bukan perkara sederhana.


Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar.


Ada terlalu banyak hal yang sudah ia lewati selama itu.


Ada kehilangan yang membuatnya berubah. Ada luka yang memaksanya belajar berdiri sendiri. Dan ada satu nama yang sengaja ia simpan jauh di dalam hatinya karena terlalu sakit untuk kembali mengingatnya.


Sejak saat itu, Hanin tidak pernah membiarkan siapa pun mendekat terlalu jauh.


Namun beberapa minggu terakhir, sesuatu yang tidak pernah ia duga justru terjadi.


Darren Mahardana.


Seorang CEO yang bahkan baru beberapa minggu ia kenal.


Laki-laki yang seharusnya tidak memiliki alasan apa pun untuk membuat hatinya gelisah.


Mengapa satu tatapan darinya mampu membuat Hanin tidak tenang sepanjang malam?


Hanin menggeleng pelan.


"Itu cuma perasaan."


Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.


Darren adalah Darren.


Seorang pria yang baru ia kenal.


Sementara seseorang yang dulu memenuhi hidupnya telah pergi tujuh tahun lalu.


Tidak mungkin dua orang itu memiliki hubungan apa pun.


Hanin kembali memejamkan mata.

Lihat selengkapnya