DI PERTEMUAN YANG KEDUA

sudiani
Chapter #25

Chapter 25

Setelah meminta izin untuk mengambil cuti satu hari, Hanin memutuskan untuk menginap di sana. Sejak pertama kali bekerja di Mahardana, ia memang belum pernah mengambil jatah liburnya. Bukan karena perusahaan melarang, justru sebaliknya.


Mahardana sangat memperhatikan hak karyawannya.


Karyawan boleh mengambil lembur jika diperlukan dan memiliki hak untuk mengambil cuti sesuai prosedur yang berlaku. Tidak ada yang perlu merasa bersalah hanya karena ingin beristirahat.


Namun Hanin selalu merasa pekerjaannya belum benar-benar selesai.


Hari ini, untuk pertama kalinya ia membiarkan dirinya berhenti sejenak.


Ia ingin menghabiskan waktu bersama Bunda Sri dan anak-anak panti. Mendengar cerita mereka, membantu pekerjaan kecil yang bisa ia lakukan, dan untuk sementara menjauh dari hiruk-pikuk kantor.


Tanpa Hanin sadari, kepergiannya justru membuat seseorang di Mahardana semakin banyak berpikir.


Darren duduk sendirian di ruang kerjanya.


Hari itu meja kerjanya dipenuhi dokumen, tetapi pikirannya tidak benar-benar berada di sana.


Tatapannya berhenti pada layar komputer yang sejak beberapa menit lalu tidak juga ia baca.


Hanin tidak masuk.


Satu hari saja.


Tetapi entah mengapa, ketidakhadiran perempuan itu membuat ruang kerja Darren terasa jauh lebih kosong.


Ada terlalu banyak hal yang sedang berputar di kepalanya.


Pertama, tentang Cintiya.


Steve sudah mengetahui alasan sebenarnya gadis itu masuk ke Mahardana. Awalnya Darren mengira Cintiya hanya ingin mencari pengalaman kerja atau sekadar mengikuti keinginan kakeknya.


Namun ternyata ada sesuatu yang jauh lebih besar.


Dan yang membuat Darren semakin waspada adalah Arman.


Laki-laki itu mulai menyelidiki orang-orang yang berada di sekitar Darren.


Siapa pun yang memiliki hubungan dekat dengannya mulai menjadi perhatian.


Darren menghela napas panjang.


Tangannya terangkat, mengusap pelipis.


Ia tidak takut pada dirinya sendiri.


Yang membuatnya takut adalah Hanin.


Ia tahu Hanin bukan perempuan bodoh. Hanin mampu menjaga dirinya, mampu membaca situasi, bahkan cukup kuat untuk berdiri sendiri tanpa bergantung kepada siapa pun.


Tetapi Darren juga tahu satu hal.


Orang yang berniat memanfaatkan seseorang tidak selalu datang dengan niat buruk yang terlihat jelas.


Mereka bisa datang sebagai teman.


Sebagai rekan kerja.


Sebagai orang yang memberikan perhatian.


Bahkan sebagai seseorang yang terlihat tulus.


Dan Darren tidak ingin Hanin kembali menjadi korban dari permainan keluarganya.


Tujuh tahun lalu, mereka hampir membunuhnya.

Lihat selengkapnya