Seminggu telah berlalu sejak Hanin kembali ke kota.
Hari-harinya kembali dipenuhi pekerjaan di Mahardana. Rutinitas yang biasanya terasa ringan kini berjalan seperti biasa, tetapi ada satu hal yang tidak berubah—pikirannya masih sering kembali kepada panti asuhan.
Tempat yang telah menjadi rumahnya selama bertahun-tahun.
Sore itu, setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan, Hanin baru saja keluar dari gedung kantor ketika seseorang memanggil namanya.
“Hanin.”
Langkahnya terhenti.
Ia menoleh dan langsung terdiam.
“Bunda?”
Bunda Sri berdiri beberapa meter darinya dengan senyum hangat yang begitu ia kenal.
Hanin segera menghampirinya.
“Bunda datang ke kota?”
Bunda Sri mengangguk.
“Iya. Bunda ada urusan sedikit di sini. Sekalian ingin bertemu kamu.”
Rasa lelah yang sejak tadi menempel di wajah Hanin seketika menghilang. Ia memeluk Bunda Sri dengan erat.
“Kenapa tidak bilang dari tadi? Hanin bisa jemput.”
“Tidak perlu. Bunda bisa sendiri.”
Mereka kemudian duduk di sebuah kedai sederhana tidak jauh dari kantor. Hanin memesan minuman untuk Bunda Sri, sementara dirinya hanya memandangi meja.
Ia senang bertemu Bunda Sri.
Namun entah mengapa, dari cara perempuan itu memandangnya, Hanin merasa ada sesuatu yang ingin disampaikan.
“Bunda mau cerita sesuatu?”
Bunda Sri menarik napas panjang.
“Ada masalah di panti.”
Senyum Hanin perlahan menghilang.
“Masalah apa, Bunda?”
“Tanah tempat panti berdiri.”
Hanin mengernyit.
“Kenapa dengan tanah itu?”
Bunda Sri menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya menjelaskan.
“Tanah itu sejak awal memang milik keluarga Mahardana. Dulu, orang tua Darren membangun panti itu di atas tanah milik Nyonya Raya.”
Nama itu membuat Hanin terdiam.
Nyonya Raya.
Nenek Darren.
“Lalu sekarang?”
Hanin menatap Bunda Sri dengan serius.
Bunda Sri mengangguk.
Jantung Hanin terasa berat.
Ia tahu bahwa keluarga Mahardana bukan keluarga kecil yang bisa dihadapi dengan mudah.
“Bunda sudah bicara dengan mereka?”
“Sudah.”
Jawaban itu terdengar begitu lelah.
“Bunda mencoba melakukan negosiasi. Bunda ingin mencari jalan tengah. Panti itu sudah berdiri puluhan tahun. Banyak anak yang tumbuh di sana. Kalau tanah itu diambil begitu saja, kami harus pergi ke mana?”
Hanin terdiam.
“Terus bagaimana hasilnya?”
“Buntu.”
Satu kata itu membuat Hanin menunduk.
Bunda Sri menggenggam cangkir di hadapannya.
“Mereka tidak ingin bernegosiasi terlalu jauh mereka sudah berniat mengambil tanah itu. Katanya, itu hak keluarganya.”
Hanin menggigit bibir bawahnya.