DI PERTEMUAN YANG KEDUA

sudiani
Chapter #27

Chapter 27


Hanin keluar dari swalayan dengan dua kantong belanja di tangannya. Langit sudah berubah warna. Senja yang sejak tadi menggantung di antara gedung-gedung perlahan menghilang, digantikan gelap yang mulai menyelimuti jalan.

Pikirannya masih dipenuhi perkataan Bunda Sri.

Tentang panti.

Tentang tanah yang dulu diberikan keluarga Mahardana.

Dan tentang kemungkinan bahwa tempat yang selama ini menjadi rumah bagi begitu banyak anak akan kehilangan tempat berpijak.

Hanin bahkan tidak menyadari seseorang berdiri beberapa meter dari pintu keluar swalayan.

"Hanin?"

Langkahnya terhenti.

Ia menoleh.

Darren berdiri di sana dengan pakaian kerja yang masih rapi. Wajahnya terlihat sedikit lelah, tetapi sorot matanya tetap sama seperti biasa.

Hanin mengerutkan kening.

" Pak Darren?"

Darren tersenyum tipis.

"Sepertinya kita sering bertemu secara tidak sengaja."

Hanin memandang sekeliling.

"Di sini?"

"Ya."

Jawaban Darren terdengar santai.

Padahal tidak ada yang tidak sengaja.

Sejak Hanin meninggalkan tempat tinggalnya sore tadi, Darren memang mengikutinya dari kejauhan. Ia hanya ingin memastikan Hanin baik-baik saja setelah melihat perubahan sikapnya beberapa hari terakhir.

Namun Darren tidak ingin Hanin tahu.

Tidak sekarang.

"Anda sedang apa di sini?" tanya Hanin.

"Menunggu Steve."

"Steve?"

Darren mengangguk.

"Dia sedang menjemputku."

Hanin hanya mengangguk kecil.

Tidak ada rasa ingin tahu lebih jauh.

Biasanya Hanin masih akan bertanya mengapa Darren berada di tempat seperti ini. Namun kali ini tidak.

Darren memperhatikannya.

Ada sesuatu yang berbeda.

Hanin terlihat jauh lebih diam dari biasanya.

"Sudah makan?" tanya Darren.

Hanin menggeleng.

"Belum."

"Mau makan?"

Hanin kembali menggeleng.

"Tidak."

Jawabannya singkat.

Darren tidak memaksa.

Matanya sempat beralih ke kantong belanja di tangan Hanin.

"Kamu membeli banyak?"

"Hanya beberapa kebutuhan."

Lihat selengkapnya