DI PERTEMUAN YANG KEDUA

sudiani
Chapter #28

Chapter 28

Meskipun jarak dari swalayan ke tempat tinggal Hanin sebenarnya tidak terlalu jauh, Darren tetap bersikeras mengantarkannya.

Malam sudah semakin larut. Jalanan di sekitar tempat tinggal Hanin mulai sepi, hanya beberapa kendaraan yang sesekali melintas.

“Sudah sampai,” kata Hanin ketika mereka berhenti di depan tempat tinggalnya.

Darren mengangguk.

Hanin membuka pintu mobil, lalu turun. Namun sebelum benar-benar pergi, ia menoleh kembali.

“Terima kasih sudah mengantarku.”

“Sama-sama.”

Hanin tersenyum tipis.

Ia kemudian berjalan menuju pintu masuk. Darren tidak langsung pergi. Ia tetap duduk di dalam mobil, memperhatikan langkah Hanin sampai perempuan itu membuka pintu dan masuk ke dalam.

Beberapa detik kemudian, Hanin menghilang di balik pintu kamarnya.

Barulah Darren mengembuskan napas panjang.

Ia menatap pintu itu beberapa saat sebelum akhirnya menyalakan mesin mobil.

Tidak ada yang tahu, pertemuan di swalayan malam ini bukanlah sebuah kebetulan.

Darren memang sengaja berada di sana.

Ia hanya tidak ingin Hanin tahu bahwa sejak beberapa waktu terakhir, langkah perempuan itu selalu berhasil menarik perhatiannya.

Mobil Darren perlahan meninggalkan tempat itu.

Sementara di dalam kamarnya, Hanin justru berdiri cukup lama di dekat jendela.

Pikirannya dipenuhi banyak hal.

Tentangmasalah panti.

Bagaimana cara bicara dengan Darren.

Bagaimana jika benar-benar di ambil.

Tentang Darren.

Tentang perhatian yang terkadang terasa terlalu pribadi untuk sekadar hubungan antara seorang CEO dan karyawannya.

Dan yang paling mengganggunya...

Ada sesuatu dari Darren yang membuat hatinya merasa dekat.

Sangat dekat.

Padahal mereka baru mengenal satu sama lain.

Hanin menggeleng pelan.

“Kenapa aku jadi memikirkan dia terus?”

Ia mencoba berbaring.

Menutup mata.

Membalikkan tubuh ke kanan.

Kemudian ke kiri.

Tetap saja tidak bisa tidur.

Setiap kali memejamkan mata, wajah Darren kembali muncul dalam pikirannya.

Sorot matanya.

Suaranya.

Perhatian kecil yang diberikan kepadanya.

Sampai akhirnya Hanin menyerah.

Malam itu, tidurnya jauh dari kata nyenyak.

Keesokan paginya, wajah Hanin terlihat berbeda.

Lingkaran samar terlihat di bawah matanya. Gerakannya pun sedikit lebih lambat dari biasanya.

Maya yang baru saja meletakkan tas di kursinya langsung memperhatikan wajah sahabatnya itu.

“Hanin, kamu sakit?”

Lihat selengkapnya