Pagi itu, Hanin datang ke ruangan Darren dengan pikiran yang masih dipenuhi masalah panti asuhan.
Sejak Bunda Sri datang dan menceritakan keadaan panti, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Tanah tempat panti berdiri bukan sekadar sebidang tanah baginya. Di sanalah ia tumbuh. Di sanalah Darren pernah menjadi bagian terbesar dalam hidupnya.
Dan kini tempat itu terancam kehilangan rumahnya sendiri.
Darren yang sejak tadi berdiri di dekat jendela berbalik ketika mendengar ketukan.
"Masuk."
Hanin membuka pintu.
"Pak Darren..."
"Silakan duduk."
Hanin duduk di hadapan meja kerja Darren. Lelaki itu tidak langsung berbicara. Ia justru memperhatikan wajah Hanin beberapa saat.
Sejak kemarin, ia sudah tahu bahwa perempuan itu tidak akan mudah menerima apa pun darinya.
Hanin menceritakan semua tanpa kurang sedikit pun.
"Aku sudah memikirkan cerita yang kamu sampaikan," ujar Darren akhirnya.
Hanin mengangkat wajah.
"Tentang panti?"
Darren mengangguk.
"Aku bisa membantu."
Hanin terdiam.
Ada sedikit kelegaan yang muncul di matanya, tetapi Darren bisa melihat perempuan itu masih menunggu kelanjutan kalimatnya.
"Tapi ada satu syarat."
Ekspresi Hanin kembali berubah.
"Syarat?"
Darren bersandar pada kursinya.
"Aku ingin kita melakukan kerja sama."
"Kerja sama seperti apa?"
Darren tidak langsung menjawab.
Ia memilih kata-katanya dengan hati-hati.
"Aku membutuhkan seorang istri."
Hanin mengerutkan kening.
Untuk beberapa detik, ia bahkan tidak yakin telah mendengar kalimat itu dengan benar.
"Maaf?"
"Aku sedang berada dalam posisi yang cukup sulit di Mahardana."
Darren tetap tenang.
"Kakek terus mendesakku untuk menikah. Beliau bahkan sudah beberapa kali mencoba menjodohkanku dengan perempuan yang menurutnya cocok untuk keluarga Mahardana."
Hanin masih menatapnya bingung.
"Lalu apa hubungannya dengan saya?"
"Aku ingin kamu menjadi istriku."
Ruangan itu mendadak terasa begitu sunyi.
Hanin menatap Darren tanpa berkedip.
Darren melanjutkan dengan suara yang tetap datar.
"Tenang. Aku tidak sedang memintamu menjadi istriku karena perasaan."
Kalimat itu justru membuat dada Hanin terasa aneh.
"Ini hanya kerja sama."
Hanin menggeleng pelan.
"Saya tidak mengerti."