DI PERTEMUAN YANG KEDUA

sudiani
Chapter #30

Chapter 30

Hari-hari di Mahardana Group kembali berjalan seperti biasa.

Kesibukan memenuhi setiap sudut kantor. Suara langkah kaki, dering telepon, percakapan antarkaryawan, hingga suara printer yang sesekali terdengar dari sudut ruangan menjadi bagian dari rutinitas yang tidak pernah benar-benar berhenti.

Hanin pun berusaha kembali pada kesibukannya.

Tawaran Darren beberapa hari lalu masih berputar-putar di kepalanya. Bahkan ketika sedang bekerja, sesekali pikirannya kembali pada pembicaraan mereka.

Tentang panti.

Tentang pernikahan.

Dan tentang sebuah kerja sama yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Namun, Hanin tahu satu hal.

Ia tidak boleh membiarkan persoalan pribadi mengganggu pekerjaannya.

Maka, seperti biasa, ia memilih menyimpan semuanya untuk dirinya sendiri.

"Ini yang kemarin kamu minta, Nin."

Maya meletakkan beberapa dokumen di meja Hanin.

Hanin mengangkat wajah dan tersenyum kecil.

"Terima kasih."

Maya menarik kursi di sebelahnya.

"Ngomong-ngomong, kamu sadar nggak kalau sekarang Cintiya sudah mulai akrab sama anak-anak sini?"

Hanin mengikuti arah pandangan Maya.

Tidak jauh dari sana, Cintiya sedang berdiri bersama beberapa karyawan. Gadis itu tampak sedang mendengarkan sesuatu dengan senyum kecil di wajahnya.

Awalnya Cintiya memang terlihat sangat tertutup.

Banyak karyawan bahkan masih menganggapnya sebagai gadis magang yang kebetulan ditempatkan di Mahardana. Tetapi beberapa hari terakhir, ia mulai bisa membaur.

Sesekali ikut tertawa.

Sesekali menjawab candaan.

Tidak pernah berlebihan, tetapi cukup membuat orang-orang di sekitarnya merasa nyaman.

"Eh, Cintiya."

Salah seorang karyawan laki-laki berseru.

Cintiya menoleh.

"Kenapa?"

"Kamu tuh sebenarnya beruntung banget, ya."

Cintiya mengernyitkan dahi.

"Beruntung kenapa?"

"Ya karena lahir di keluarga Mahardana."

Beberapa orang langsung tertawa.

"Benar. Kalau aku lahir dari keluarga Mahardana, mungkin sekarang aku nggak perlu kerja."

"Enak banget hidupnya."

"Katanya keluarga Mahardana punya bisnis di mana-mana, kan?"

"Jangankan di satu kota. Hampir sepuluh kota mereka kuasai."

Cintiya hanya tersenyum.

Lihat selengkapnya