Dua pekan telah berlalu sejak kedatangan Bunda Sri ke kota.
Selama itu pula Hanin belum memberikan jawaban apa pun mengenai pembicaraannya dengan Darren.
Bukan karena Hanin melupakan masalah panti. Justru sebaliknya, setiap kali mengingatnya, pikirannya semakin penuh.
Ia masih teringat jelas tawaran Darren.
Sebuah kerja sama yang terdengar sederhana, tetapi memiliki konsekuensi yang tidak kecil.
Hanin belum siap mengambil keputusan.
Namun siang itu, ketika sedang menyelesaikan beberapa pekerjaan di meja kerjanya, sebuah pesan dari Bunda Sri masuk ke ponselnya.
Hanin membukanya.
Jantung Hanin tiba-tiba berdegup lebih cepat.
Ia segera membalas.
Pesan berikutnya datang beberapa menit kemudian.
Hanin terdiam.
Tangannya yang masih memegang ponsel perlahan turun.
Dipindahkan?
Matanya kembali membaca pesan itu, seolah berharap ia salah memahami kalimat Bunda Sri.
Namun tidak ada yang berubah.
Masalah panti ternyata jauh lebih dekat daripada yang selama ini ia bayangkan.
Hanin segera mengajukan cuti. Ia tidak menjelaskan panjang lebar kepada atasannya. Ia hanya mengatakan ada masalah keluarga yang harus diselesaikan.
Setelah mendapat izin, ia langsung bersiap pulang.
Perjalanan menuju panti terasa jauh lebih panjang dari biasanya.
Sepanjang jalan, pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan.
Kalau panti benar-benar dipindahkan, mereka akan tinggal di mana?
Bagaimana dengan anak-anak?
Bagaimana biaya kepindahannya?
Dan yang paling membuat Hanin takut...
Apakah keputusan itu berarti mereka benar-benar kehilangan tempat yang selama puluhan tahun mereka sebut rumah?
Sesampainya di panti, Hanin langsung merasakan sesuatu yang berbeda.
Beberapa kardus memenuhi sudut ruangan.
Barang-barang lama mulai dikeluarkan dari lemari.
Anak-anak remaja sibuk mengangkat barang, sementara beberapa adik kecil membantu dengan kemampuan mereka. Ada yang melipat pakaian, mengumpulkan buku, atau sekadar membawa barang-barang ringan.
Bunda Sri berdiri di tengah ruangan sambil mengawasi semuanya.
Hanin berjalan mendekat.
"Bun..."
Bunda Sri menoleh.
Wajah perempuan itu seketika berubah lega.
"Hanin."
Mereka berpelukan cukup lama.
Namun setelah melepaskan pelukan, Hanin langsung menatap keadaan di sekitar mereka.
"Ini benar-benar mau dipindahkan?"
Bunda Sri terdiam sejenak.
"Iya."
"Kenapa, Bun? Bukankah masih bisa dibicarakan?"
"Bunda sudah mencoba."
"Terus bagaimana dengan anak-anak?"
Hanin mulai tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya.
"Bunda mau membawa mereka ke mana?"
Bunda Sri menghela napas panjang.
"Ke kampung halaman Bunda."
Hanin terdiam.