Hanin masih berdiri di ruang tengah panti ketika Bunda Sri menyampaikan kabar itu.
“Besok atau paling lambat lusa, kita harus sudah meninggalkan tempat ini.”
Hanin terdiam.
Sejak kecil, tempat itu adalah rumah baginya. Bukan sekadar bangunan dengan kamar-kamar sederhana dan halaman tempat anak-anak bermain, tetapi tempat yang menyimpan hampir seluruh kenangan hidupnya.
Dan sekarang, semuanya harus ditinggalkan.
“Secepat itu, Bunda?”
Bunda Sri mengangguk pelan.
“Bunda juga tidak mau terburu-buru. Tapi kalau kita tetap bertahan, masalahnya bisa semakin besar. Bunda sudah berusaha bicara baik-baik, tapi keputusan mereka sepertinya sudah bulat.”
Hanin menundukkan wajah.
Pikirannya langsung tertuju pada satu orang.
Darren.
Laki-laki yang beberapa waktu lalu menawarkan bantuan kepadanya.
Syaratnya masih jelas di kepalanya.
Pernikahan.
Sebuah kerja sama yang terdengar begitu sederhana ketika Darren mengatakannya, tetapi terasa begitu berat ketika harus benar-benar dijalani.
Saat itu Hanin menolak.
Ia merasa tawaran itu terlalu jauh. Mereka bahkan baru saling mengenal sebagai rekan kerja, meskipun entah mengapa setiap kali berada di dekat Darren, ada sesuatu yang membuat hatinya tidak tenang.
Namun sekarang keadaan memaksanya untuk kembali memikirkan tawaran itu.
Hanin meraih ponselnya.
Jarinya sempat berhenti di atas layar.
Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya mengetik sebuah pesan.
“Tawaran Bapak apa masih berlaku?”
Hanin menatap pesan itu beberapa detik.
Kemudian ia menekan tombol kirim.
Pesan itu melayang begitu saja menuju seseorang yang sejak tadi berusaha ia hindari.
Sementara di tempat lain, di lantai paling atas gedung Mahardana Group, Darren sedang duduk di balik meja kerjanya.
Sebuah dokumen terbuka di hadapannya, tetapi sejak beberapa menit lalu tidak ada satu kalimat pun yang benar-benar ia baca.
Ponselnya bergetar.
Darren melirik sekilas.
Begitu melihat nama Hanin di layar, tangannya langsung mengambil ponsel tersebut.
Satu pesan pendek.
Hanya beberapa kata.
Namun bagi Darren, kalimat itu terasa seperti jawaban dari doa yang diam-diam ia tunggu.
Sudut bibirnya terangkat.
Untuk pertama kalinya hari itu, wajah Darren terlihat benar-benar bahagia.
“Tawaran Bapak apa masih berlaku?”
Darren membaca pesan itu sekali lagi.