DI PERTEMUAN YANG KEDUA

sudiani
Chapter #33

Chapter 33

Hanin menatap lembar terakhir dari dokumen yang berada di hadapannya.

Tangannya sempat terdiam beberapa detik di atas pena.

Sebuah tanda tangan.

Hanya itu yang dibutuhkan untuk mengubah banyak hal dalam hidupnya.

Ia menarik napas panjang, lalu membubuhkan tanda tangannya di tempat yang sudah disediakan.

Hanin Claudya.

Pernikahan itu kini bukan lagi sekadar tawaran dari Darren.

Bukan lagi sesuatu yang hanya dibicarakan dalam sebuah percakapan.

Sebuah perjanjian telah dibuat.

Dan Hanin telah menyetujuinya.

Ia menyerahkan dokumen tersebut kepada Darren dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Tidak ada rasa bahagia.

Tidak juga ada kesedihan yang berlebihan.

Hanya sebuah keyakinan bahwa apa yang dilakukannya saat ini adalah pilihan terbaik untuk menyelamatkan panti.

Darren menerima dokumen itu dengan tenang.

Namun, jauh di dalam dirinya, ada kebahagiaan yang sulit disembunyikan.

Hanin akhirnya bersedia menjadi istrinya.

Meskipun awalnya karena sebuah perjanjian, Darren tidak peduli.

Baginya, itu sudah cukup untuk menjadi awal.

Ia tidak ingin memaksa Hanin untuk mencintainya dalam satu hari.

Ia hanya membutuhkan kesempatan untuk berada di dekat wanita itu.

Selebihnya, Darren akan berusaha membuat Hanin kembali mengenalnya.

Bukan sebagai Johan.

Bukan sebagai seseorang dari masa lalu yang sudah lama hilang.

Tetapi sebagai Darren.

Laki-laki yang kini berdiri di hadapannya.

Tidak sampai satu hari setelah perjanjian itu ditandatangani, Steve datang ke panti asuhan.

Ia membawa sebuah map berisi dokumen-dokumen penting.

Bunda Sri sempat kebingungan ketika Steve menyerahkan berkas tersebut kepadanya.

“Ini apa, Nak?”

“Dokumen kepemilikan tanah panti,” jawab Steve singkat.

Bunda Sri terdiam.

Tangannya perlahan membuka map itu.

Matanya membesar ketika melihat nama yang tertera pada dokumen tersebut.

Hanin Claudya.

Bunda Sri membaca kembali nama itu, memastikan bahwa matanya tidak salah.

“Tanah ini…”

“Sudah resmi atas nama Bu Hanin.”

Bunda Sri tidak langsung menjawab.

Ada rasa lega yang begitu besar sampai membuat dadanya terasa sesak.

Selama beberapa minggu terakhir, ia terus memikirkan kemungkinan bahwa anak-anak harus meninggalkan tempat yang sudah mereka anggap sebagai rumah.

Tempat yang selama puluhan tahun menjadi tempat mereka bertumbuh.

Dan kini semuanya selesai.

Tidak ada penggusuran.

Tidak ada kepindahan.

Panti tetap berdiri di tempatnya.

Anak-anak tetap bisa tidur di kamar mereka.

Lihat selengkapnya