Pagi itu Hanin baru saja menyelesaikan beberapa pekerjaan di mejanya ketika ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Darren:
Datang ke kantor catatan sipil siang ini. Kita perlu mengurus buku nikah.
Hanin membaca pesan itu beberapa kali.
Ia sudah menandatangani perjanjian pernikahan. Masalah panti juga sudah mendapatkan jalan keluar. Tanah yang selama ini menjadi tempat tinggal anak-anak bahkan sudah berpindah atas namanya.
Semuanya terjadi begitu cepat.
Hanin mengembuskan napas pelan sebelum membalas.
Hanin:
Baik.
Tidak lama kemudian Darren mengirimkan alamat dan waktu pertemuan.
Siang harinya Hanin datang sesuai janji.
Darren sudah menunggunya.
Tidak banyak yang mereka bicarakan. Semua proses berlangsung sederhana dan formal. Hanin menjawab pertanyaan yang diperlukan, menyerahkan dokumen, lalu menandatangani beberapa berkas.
Tidak ada pesta.
Tidak ada keluarga.
Tidak ada orang-orang yang mengetahui bahwa pernikahan itu sebenarnya berawal dari sebuah kesepakatan.
Hanya dua orang yang beberapa hari lalu bahkan masih menjaga jarak, kini secara hukum telah menjadi suami istri.
Setelah semuanya selesai, Hanin memasukkan dokumen ke dalam tas.
Ia pikir setelah ini mereka akan kembali ke kehidupan masing-masing.
Namun Darren justru berkata,
"Mulai malam ini kamu pindah ke rumahku."
Hanin langsung menoleh.