Hanin berdiri di tengah kamar yang kini akan menjadi tempat tinggalnya untuk beberapa waktu ke depan. Sebuah kamar yang terasa asing, dengan perabotan yang tertata rapi dan aroma lembut yang belum pernah ia temui sebelumnya.
Ia baru saja selesai bekerja ketika Darren membawanya ke rumah ini. Tidak banyak percakapan di antara mereka sepanjang perjalanan. Darren sesekali meliriknya, sementara Hanin lebih banyak menghabiskan waktu dengan memandang jalanan dari balik jendela mobil.
Kini, setelah Darren meninggalkannya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan, Hanin mulai mengeluarkan barang-barang dari koper kecilnya.
Tidak banyak yang ia bawa. Beberapa potong pakaian, perlengkapan pribadi, dan sejumlah barang kecil yang selama ini menemaninya menjalani kehidupan seorang diri.
Namun, di antara semua barang itu, ada satu benda yang selalu ia jaga dengan baik.
Sebuah bingkai foto berukuran kecil.
Hanin mengambilnya dengan hati-hati, kemudian duduk di tepi tempat tidur. Jemarinya menyentuh permukaan kaca yang mulai dipenuhi bekas sidik jari.
Di dalam bingkai itu, seorang laki-laki muda tersenyum tipis ke arah kamera.
Johan.
Laki-laki yang telah meninggalkan panti asuhan tujuh tahun lalu. Laki-laki yang pernah berjanji akan kembali, tetapi hingga hari ini tidak pernah benar-benar muncul di hadapannya.
Foto itu diambil sebelum Johan pergi meninggalkan panti. Wajahnya masih sama seperti yang Hanin ingat. Tatapan matanya tenang, senyumnya sederhana, dan kehadirannya selalu memberikan rasa aman yang sulit dijelaskan.
Bagi orang lain, mungkin foto itu hanyalah kenangan lama.
Namun, bagi Hanin, foto itu adalah satu-satunya benda yang membuatnya merasa Johan tidak sepenuhnya menghilang dari kehidupannya.
Ke mana pun ia pergi, foto itu selalu ikut bersamanya.
Bahkan ketika memutuskan merantau ke kota, mencari pekerjaan, dan membangun kehidupan baru, Hanin tetap menyimpan foto tersebut di antara barang-barang berharganya.
Tujuh tahun berlalu, tetapi perasaannya tidak pernah benar-benar berubah.
Hanin menundukkan kepala. Senyum tipis yang sempat menghiasi wajahnya perlahan menghilang.
"Kak Johan..."
Suaranya terdengar begitu pelan di dalam kamar yang sunyi.
Ia mengusap bingkai foto itu dengan ibu jarinya, seolah-olah sedang membelai wajah seseorang yang benar-benar berada di hadapannya.
"Kamu tahu, tidak? Aku sudah lama sekali menunggumu."
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Awalnya, aku selalu berpikir kalau suatu hari nanti kamu akan pulang. Aku pikir kamu hanya pergi sebentar, mungkin karena ada sesuatu yang harus kamu selesaikan."
Hanin tertawa kecil, tetapi tawanya terdengar getir.
"Aku bahkan sering datang ke depan gerbang panti setiap sore. Setiap ada orang yang datang, aku selalu berharap itu kamu."
Ia berhenti sejenak.
"Tapi ternyata, hari berganti hari, bulan berganti bulan, bahkan tahun terus berlalu, dan kamu tetap tidak kembali."
Air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya.
Hanin segera menyekanya dengan punggung tangan. Ia tidak ingin menangis terlalu lama. Selama bertahun-tahun, ia sudah terbiasa menyimpan kerinduannya sendiri.
Tidak ada Johan yang bisa ia ajak bicara.
Tidak ada Johan yang bisa ia tanyai tentang ke mana laki-laki itu pergi.
Bahkan, ia tidak tahu apakah laki-laki yang selama ini ditunggunya masih mengingat namanya.
"Aku masih menunggumu, Kak."
Hanin kembali menatap foto itu.
"Kalau suatu hari nanti aku bertemu denganmu, aku ingin sekali mendengar ceritamu. Aku ingin tahu bagaimana kehidupanmu selama ini. Apakah kamu baik-baik saja? Apakah kamu bahagia?"
Ia menarik napas panjang, berusaha menahan isakannya.
"Aku tidak akan memaksamu kembali kepadaku. Aku juga tidak akan meminta kamu menepati janji yang mungkin sudah kamu lupakan."
Hanin terdiam cukup lama sebelum kembali berbicara.
"Kalau nanti kita bertemu dan ternyata kamu sudah tidak menginginkanku lagi, tidak apa-apa."
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi mengucapkannya terasa seperti merobek sesuatu di dalam hatinya sendiri.
Sebab jauh di lubuk hatinya, Hanin masih menyimpan harapan yang sama.
Ia masih ingin menjadi seseorang yang dicari Johan ketika laki-laki itu merasa lelah. Ia masih ingin mendengar Johan memanggil namanya dengan suara yang selama ini hanya bisa ia kenang.
Ia masih ingin kembali ke masa ketika kehadiran Johan saja sudah cukup untuk membuatnya merasa bahwa dunia tidak begitu menakutkan.
Namun, Hanin juga tahu bahwa waktu telah mengubah banyak hal.
Mereka bukan lagi dua anak yang tumbuh bersama di panti asuhan. Mereka sudah dewasa, memiliki kehidupan masing-masing, dan mungkin saja telah berjalan ke arah yang berbeda.
"Aku hanya ingin tahu kamu masih hidup dan baik-baik saja," bisiknya.
Hanin menempelkan bingkai foto itu ke dadanya.
"Itu saja sudah cukup buatku."
Untuk beberapa saat, ia membiarkan dirinya tenggelam dalam kenangan.