DI PERTEMUAN YANG KEDUA

sudiani
Chapter #38

Chapter 38

Seharian itu, Hanin hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar.

Sejak pagi, ia belum melakukan banyak hal selain duduk di tepi ranjang, memandangi barang-barang yang belum sempat ia rapikan.

Hanin mengembuskan napas panjang, lalu memalingkan wajah. Ia sudah terlalu lelah memikirkan hal-hal yang tidak bisa ia ubah. Namun, semakin berusaha mengalihkan pikirannya, semakin banyak pula pertanyaan yang muncul di kepalanya.

Pernikahan yang baru saja ia jalani terasa begitu asing.

Ia kini tinggal di rumah seorang pria yang nyaris tidak dikenalnya. Bahkan, keputusan untuk menikah pun bukan sesuatu yang pernah terlintas dalam rencana hidupnya.

Hari ini, ia sengaja mengambil cuti kerja. Pagi tadi, ia sudah mengirimkan email kepada kepala divisinya dengan alasan harus mengurus kepindahan tempat tinggal.

Ia tidak ingin ada seorang pun di kantor yang mengetahui keadaan sebenarnya.

Terlebih lagi, ia sendiri masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan status barunya.

Tok.

Tok.

Tok.

Suara ketukan di pintu membuat Hanin mengalihkan pandangan.

"Bu Hanin?"

Suara seorang wanita terdengar dari luar.

"Ya, Sumi?"

"Sumi boleh masuk sebentar?"

Hanin terdiam sejenak sebelum menjawab, "Ada apa, Sumi?"

"Sumi cuma mau memastikan keadaan Ibu. Seharian Ibu tidak keluar kamar. Apa Nona sedang sakit? Atau belum makan sejak pagi?"

Hanin tertegun.

Ia baru menyadari bahwa sejak pagi, wanita yang bekerja di rumah ini mungkin sudah beberapa kali memperhatikan dirinya.

Sumi bahkan sampai datang mengetuk pintu hanya untuk memastikan keadaannya.

Hanin merasa tidak enak hati.

"Tidak, Sumi. Aku baik-baik saja."

"Tapi, Bu Hanin belum makan, kan?"

Hanin tidak langsung menjawab.

Dari luar, Sumi kembali bersuara dengan nada khawatir.

"Kalau Bu Hanin sedang tidak enak badan, Sumi bisa membuatkan sesuatu. Bubur atau sup hangat mungkin bisa membantu."

Hanin akhirnya bangkit dari tempat tidur, berjalan mendekati pintu, lalu membukanya.

Di hadapannya, Sumi berdiri dengan wajah penuh kekhawatiran.

Melihat wanita itu, Hanin tersenyum tipis.

"Maaf sudah membuat Sumi khawatir. Aku benar-benar tidak apa-apa. Hanya sedikit lelah, jadi ingin beristirahat."

Sumi memperhatikan wajah Hanin beberapa saat, seolah memastikan bahwa perempuan muda itu tidak sedang menyembunyikan sesuatu.

"Baiklah kalau begitu."

"Iya."

"Kalau begitu, Bu Hanin harus makan. Jangan sampai sakit. Kalau Bu Hanin sakit, nanti Tuan Darren bisa marah kepada Sumi karena tidak menjaga Bu Hanin dengan baik."

Hanin sedikit terkejut mendengar nama itu disebut.

"Tuan Darren?"

"Iya." Sumi mengangguk. "Sekarang Nona sudah menjadi istri beliau. Jadi, sudah menjadi tanggung jawab Sumi juga untuk menjaga Nona."

Kalimat sederhana itu membuat Hanin terdiam.

Istri.

Kata itu masih terdengar asing di telinganya.

Ia bahkan belum terbiasa memikirkan bahwa dirinya kini menyandang status tersebut.

Melihat Hanin yang mendadak diam, Sumi tidak banyak bertanya.

"Kalau begitu, Sumi lanjut memasak, ya, Bu . Nanti kalau lapar , Ibu bisa langsung turun ke bawah."

"Baik. Terima kasih, Sumi."

Sumi tersenyum sebelum berbalik meninggalkan kamar.

Hanin menutup pintu perlahan.

Entah mengapa, perhatian kecil dari wanita itu membuat hatinya terasa sedikit lebih hangat.

Setidaknya, di rumah yang masih terasa asing ini, ada seseorang yang bersedia memperhatikannya tanpa banyak bertanya.

Menjelang sore, aroma masakan mulai memenuhi rumah.

Hanin yang sejak tadi berada di kamar akhirnya memutuskan untuk keluar. Ia berjalan menyusuri lorong menuju tangga, lalu turun ke lantai bawah.

Dari arah dapur, terdengar suara peralatan masak yang beradu. Hanin mengikuti suara itu hingga mendapati Sumi sedang sibuk menyiapkan beberapa hidangan.

Ada sup hangat, tumis sayuran, ayam kecap, ikan goreng, dan beberapa lauk lain yang tertata di atas meja dapur.

Hanin menghentikan langkahnya.

Ia memperhatikan hidangan-hidangan tersebut dengan heran.

"Sumi, sedang ada acara apa?"

Sumi yang tengah mengaduk masakan menoleh.

"Eh, Bu Hanin. Sudah keluar kamar, rupanya."

Hanin tersenyum kecil.

"Iya. Aku mencium aroma masakan dari atas. Sepertinya Sumi memasak banyak sekali hari ini."

Sumi terkekeh.

"Memang agak banyak, Bu ."

"Untuk berapa orang?"

"Kalau dihitung-hitung, mungkin cukup untuk tiga atau empat orang."

Hanin mengerjapkan mata.

"Tapi, bukankah di rumah ini hanya ada kita bertiga?"

Sumi menghentikan gerakan tangannya.

Lalu, seolah baru teringat sesuatu, ia berkata dengan wajah cerah.

"Oh, iya! Tadi pagi Tuan Darren menelepon dan mengatakan bahwa malam ini beliau akan makan di rumah."

Hanin terdiam.

Untuk sesaat, suara-suara dari dapur seolah menjauh dari pendengarannya.

"Tuan Darren akan makan di rumah?" tanyanya, memastikan bahwa ia tidak salah dengar.

"Iya, Nona."

Sumi mengangguk penuh semangat.

"Makanya, Sumi memasak agak banyak. Sudah lama sekali Tuan Darren tidak makan malam di rumah."

Hanin berusaha bersikap biasa saja.

"Memangnya sesibuk itu beliau?"

"Astaga, Nona." Sumi tertawa kecil. "Kalau soal pekerjaan, Tuan Darren memang luar biasa sibuk. Kadang-kadang beliau pulang ketika malam sudah sangat larut. Ada juga kalanya beliau sama sekali tidak pulang dan memilih beristirahat di kantor."

Hanin menunduk, memperhatikan salah satu piring di atas meja.

"Begitu, ya?"

"Iya. Selama empat tahun Sumi bekerja di rumah ini, bisa dihitung dengan jari berapa kali Tuan Darren makan malam di rumah."

Empat tahun.

Lihat selengkapnya