Makan malam itu akhirnya selesai.
Tidak banyak percakapan yang terjadi di antara Darren dan Hanin. Sesekali mereka bertukar kata seperlunya, selebihnya sibuk menikmati hidangan masing-masing. Sementara Sumi yang sejak tadi membantu menyiapkan makan malam, akhirnya berpamitan setelah memastikan semuanya beres.
"Kalau begitu, saya pulang dulu, Pak Darren, Bu Hanin."
Darren mengangguk. "Hati-hati di jalan, Sumi."
"Baik, Pak."
Setelah Sumi pergi, rumah yang cukup luas itu kembali sunyi. Hanin mulai membereskan beberapa barang di meja makan, sedangkan Darren berjalan menuju ruang tengah.
Namun, baru beberapa langkah, pria itu tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Rasa nyeri yang menusuk di bagian perut membuat Darren mengernyit. Ia refleks menekan perutnya dengan satu tangan, berusaha menahan rasa sakit yang mendadak datang.
"Hhh..."
Suara kecil itu membuat Hanin menoleh.
"Pak Darren?"
Darren berusaha meluruskan ekspresinya. "Tidak apa-apa."
Namun, Hanin sudah terlanjur melihat wajahnya yang sedikit pucat.
"Anda sakit?"
"Sedikit."
"Sedikit bagaimana? Wajah Anda sampai pucat begitu."
Darren tidak menjawab. Ia memilih duduk di sofa ruang tengah sambil menyandarkan punggungnya, berharap rasa nyeri itu segera mereda.
Hanin yang melihatnya mulai khawatir.
"Tunggu sebentar."
Perempuan itu segera menuju kotak P3K yang tersimpan di lemari kecil. Ia mengeluarkan beberapa obat yang tersedia, kemudian kembali menghampiri Darren.
"Obat yang biasa Anda minum yang mana?"
Darren menunjuk sebuah kemasan obat di antara beberapa perlengkapan medis.
Hanin mengambilnya, membaca nama obat tersebut sekilas, lalu menyerahkannya kepada Darren bersama segelas air putih.
"Minum dulu."
Darren menerima obat itu tanpa membantah.
Hanin memperhatikannya dalam diam.
Ada sesuatu yang mengusik pikirannya.
Pria itu tidak terlihat kebingungan mencari obat. Ia bahkan tahu persis obat mana yang harus diminum dan di mana letaknya. Seolah-olah rasa sakit semacam ini bukan sesuatu yang baru baginya.
Hanin melirik kemasan obat di tangannya.
Apa dia sudah lama sakit?
Pertanyaan itu muncul begitu saja.
Selama ini, Hanin memang tidak pernah benar-benar memperhatikan kehidupan pribadi Darren. Baginya, pria itu hanyalah atasannya di kantor, kemudian seseorang yang kini menjadi suaminya karena sebuah perjanjian.
Namun, melihat Darren menahan rasa sakit seperti sekarang, entah mengapa ada perasaan tidak nyaman yang muncul di dalam dadanya.
"Anda sering mengalami sakit seperti ini?" tanyanya akhirnya.
Darren yang baru saja meletakkan gelas menoleh.
"Kenapa bertanya begitu?"
"Karena Anda terlihat sudah terbiasa dengan obat itu."
Darren terdiam sejenak sebelum menjawab, "Kadang-kadang."
"Sudah pernah memeriksakan diri ke dokter?"
"Sudah."
"Kalau begitu, seharusnya Anda lebih menjaga kesehatan."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Hanin.
Begitu menyadari apa yang baru saja dikatakannya, perempuan itu mendadak terdiam.
Sejak kapan ia mulai mencampuri urusan kesehatan Darren?
Pria itu bahkan tidak pernah meminta nasihat darinya.
Sementara Darren justru menatapnya dengan sorot mata yang berbeda. Ada senyum tipis di sudut bibirnya, seolah-olah baru saja menerima sesuatu yang sangat berharga.
Perhatian sederhana seperti itu terasa begitu istimewa baginya.
Sudah bertahun-tahun ia membayangkan bagaimana rasanya mendapatkan perhatian Hanin lagi. Bukan perhatian yang diberikan karena terpaksa, melainkan perhatian kecil yang muncul secara spontan.
Meskipun Hanin belum mengingat siapa dirinya, perempuan itu masih memiliki sisi yang sama.
Sisi yang selalu membuat Darren jatuh cinta.
"Apa yang Anda pikirkan?" tanya Hanin ketika menyadari Darren terus menatapnya.
Darren segera menggeleng. "Tidak ada."
Hanin menghela napas pelan.
"Kalau sakitnya tidak berkurang, kita pergi ke rumah sakit."
"Tidak perlu."
"Pak Darren..."
"Hanin, aku baik-baik saja."
Darren sengaja menggunakan nada yang lebih lembut, berharap perempuan itu tidak terus mengkhawatirkannya.
Namun, Hanin justru mengerutkan kening.
"Kalau Anda memang baik-baik saja, kenapa masih memegangi perut?"
Darren terdiam.
Ia tidak memiliki jawaban yang bisa membuat Hanin berhenti bertanya.
Melihat pria itu masih bersandar dengan wajah menahan nyeri, Hanin tiba-tiba teringat sesuatu.