Pagi itu, Hanin kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa.
Ia datang ke kantor tepat waktu, mengenakan pakaian kerja yang rapi dengan ekspresi tenang seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ada yang berbeda dari penampilannya. Ia tetap menyapa rekan-rekan kerjanya, memeriksa beberapa dokumen, lalu mulai menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk di mejanya.
Namun, ada satu hal yang tidak diketahui siapa pun di ruangan itu.
Kini, Hanin tidak lagi tinggal sendirian di tempat indekosnya. Ia telah menjadi istri Darren Mahardana dan tinggal di rumah laki-laki yang selama tujuh tahun terakhir hanya bisa ia rindukan dalam diam.
Sebuah kenyataan yang bahkan masih terasa asing bagi dirinya sendiri.
Hanin terkadang masih kesulitan memahami bagaimana hidupnya bisa berubah begitu cepat. Pernikahan yang semula tidak pernah terlintas dalam pikirannya kini menjadi bagian dari kehidupannya sehari-hari.
Dan yang paling membuatnya khawatir adalah kemungkinan ketika orang-orang di kantor mengetahui hubungan mereka.
Bagaimana reaksi Maya? Apa yang akan dikatakan Roni? Dan bagaimana dengan Cintiya, yang selama ini dikenal sebagai anggota keluarga Mahardana?
Hanin tidak berani membayangkannya.
Ia hanya ingin menjalani hari-harinya dengan tenang, menyelesaikan pekerjaannya, dan menjaga agar urusan pribadinya tidak mengganggu kehidupan profesionalnya.
Sayangnya, seseorang di kantor itu justru sedang berusaha membuat kehidupan pribadinya semakin rumit.
Roni.
Beberapa minggu terakhir, laki-laki itu semakin sering menunjukkan perhatian kepadanya. Mulai dari membawakan kopi ketika Hanin terlihat sibuk, membantu menyelesaikan pekerjaan yang sebenarnya bisa Hanin tangani sendiri, hingga sesekali menawarkan diri untuk mengantarnya pulang.
Awalnya, Hanin menganggap semua itu sebagai bentuk keramahan seorang rekan kerja.
Namun, lama-kelamaan, perhatian Roni menjadi semakin sulit untuk diartikan sebagai sesuatu yang biasa.
Terlebih, laki-laki itu mulai terang-terangan menunjukkan ketertarikannya.
"Hanin, nanti siang makan bareng, ya?"
Pertanyaan itu terdengar lagi dari meja sebelah.
Hanin yang sedang memeriksa laporan menoleh sekilas.
"Memangnya kenapa? Biasanya juga kita makan bersama."
Roni tersenyum mendengar jawaban itu.
"Kalau begitu, anggap saja hari ini aku sedang beruntung."
Hanin mengernyit tipis. "Beruntung kenapa?"
"Karena bisa makan siang sama kamu."
Maya yang duduk tidak jauh dari mereka langsung menoleh. Senyum jahil muncul di wajahnya.
"Ya ampun, Roni. Kalau mau mendekati orang, jangan seterang lampu stadion begitu. Kasihan Hanin, bisa silau."
Beberapa rekan kerja yang mendengar ucapan Maya ikut tertawa.
Roni sama sekali tidak terlihat malu. Ia justru mengangkat bahu dengan santai.
"Memangnya salah kalau aku jujur?"
"Enggak salah," sahut Maya cepat. "Tapi pertanyaannya, Hanin tertarik atau enggak?"
"Maya!" Hanin menegur pelan.
"Kenapa? Aku cuma bertanya."
Hanin menghela napas, lalu kembali menatap layar komputernya. Ia tidak ingin percakapan itu semakin panjang.
Sementara itu, Roni hanya tersenyum. Ia memahami bahwa Hanin belum memberikan jawaban atas perasaannya. Namun, selama perempuan itu belum menolaknya secara tegas, ia masih ingin mencoba.
Roni tidak tahu bahwa ada seorang laki-laki yang namanya telah tercatat secara resmi sebagai suami Hanin.
Dan laki-laki itu bukan seseorang yang mudah menerima kehadiran pesaing, terlebih jika pesaingnya adalah rekan kerja istrinya sendiri.
Tepat pukul dua belas siang, kantin perusahaan mulai dipenuhi karyawan.
Suasana ramai oleh percakapan, suara peralatan makan, dan langkah para pegawai yang mencari tempat duduk. Aroma berbagai hidangan memenuhi ruangan, membuat siapa pun yang baru menyelesaikan pekerjaan pagi merasa lapar.
Hanin berjalan bersama Maya menuju meja yang sudah ditempati Roni dan Cintiya.
"Kalian lama sekali," ujar Roni sambil menggeser kursi kosong untuk Hanin.
"Tadi ada beberapa berkas yang harus kuselesaikan," jawab Hanin.
"Duduk di sini saja. Aku sudah memesankan minuman untukmu."
Hanin menghentikan langkahnya sejenak.
"Kenapa memesan untukku? Aku bisa mengambilnya sendiri."
"Karena aku tahu kamu biasanya minum teh tawar setelah makan."
Maya yang baru saja duduk langsung menutup mulutnya, berusaha menahan tawa.
"Wah, hafal sekali."
Roni mengabaikan godaan itu. Ia justru mendorong gelas minuman ke arah Hanin.
"Silakan."
"Terima kasih," ucap Hanin akhirnya.
Cintiya memperhatikan interaksi mereka tanpa banyak bicara. Sesekali pandangannya beralih kepada Hanin, lalu kembali kepada Roni.
Ia cukup mengenal lingkungan kantor untuk memahami apa yang sedang terjadi.
Roni menyukai Hanin.
Dan sepertinya, laki-laki itu tidak berniat menyembunyikannya.
"Roni memang perhatian sekali, ya," komentar Cintiya sambil tersenyum tipis. "Hanin beruntung punya rekan kerja seperti kamu."
Roni tertawa kecil.
"Kalau Hanin mau, aku bisa lebih perhatian lagi."
"Roni!" Maya kembali berseru, membuat meja mereka dipenuhi tawa.
Hanin hanya menggelengkan kepala.
Ia sudah terbiasa dengan tingkah Maya, tetapi perhatian Roni tetap membuatnya sedikit tidak nyaman. Bukan karena Roni melakukan sesuatu yang buruk, melainkan karena Hanin tidak ingin memberikan harapan yang keliru.
Sayangnya, sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, suasana kantin mendadak berubah.
Beberapa karyawan yang duduk menghadap pintu masuk tiba-tiba menghentikan percakapan mereka.
Bisikan mulai terdengar dari satu meja ke meja lainnya.
Bahkan seorang pegawai yang sedang mengunyah makanannya sampai lupa menutup mulut.
"Astaga, itu Pak Darren, bukan?"
"Pak Darren Mahardana?"
"Iya! Kenapa beliau ke kantin?"
"Memangnya hari ini ada acara khusus?"
Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan.
Darren Mahardana, CEO yang biasanya menghabiskan waktu makan siangnya di ruang kerja atau ruang makan khusus direksi, kini berjalan memasuki kantin perusahaan.
Ia mengenakan kemeja putih dengan setelan jas gelap. Langkahnya tenang, wajahnya serius, dan pembawaannya tetap memancarkan wibawa yang membuat orang-orang secara spontan memberi jalan.
Di belakangnya, Steve mengikuti dengan wajah profesional.
Setidaknya, itulah yang terlihat dari luar.
Sebab, di balik ekspresi tenangnya, Steve sedang berjuang keras menahan tawa.
Ia sudah bekerja bersama Darren selama bertahun-tahun. Ia tahu betul bagaimana bosnya memperlakukan urusan perusahaan, bagaimana laki-laki itu mengambil keputusan penting, dan bagaimana Darren biasanya tidak pernah menghabiskan waktu untuk hal-hal yang dianggapnya tidak perlu.
Namun, beberapa hari terakhir, Steve merasa standar prioritas bosnya mulai berubah.
Pagi tadi, Darren bahkan sempat menanyakan menu makan siang kantin.
Bukan kepada bagian umum, bukan pula karena ada laporan mengenai kualitas makanan.
Ia menanyakannya dengan wajah serius seolah-olah sedang membahas keputusan bisnis bernilai miliaran.
Dan sekarang, ia benar-benar datang sendiri ke kantin.
Steve menunduk sedikit, menyembunyikan senyum.
Ada-ada saja, Pak. Sepertinya perusahaan ini terlalu sepi sampai Anda harus mencari kesibukan tambahan.
Sementara itu, Darren tidak memedulikan tatapan para karyawannya.
Sejak memasuki kantin, pandangannya hanya tertuju pada satu orang.
Hanin.
Perempuan itu duduk bersama Maya, Roni, dan Cintiya. Di hadapannya terdapat sepiring makanan yang baru disentuh beberapa kali.
Darren memperhatikan wajah istrinya, memastikan bahwa perempuan itu tampak baik-baik saja.
Namun, ketenangan yang semula ia rasakan perlahan menghilang ketika melihat Roni duduk di sebelah Hanin.
Laki-laki itu bahkan tampak begitu nyaman berbicara dengannya.
Darren menahan rahangnya agar tidak mengeras.
Jadi, selama aku tidak ada, kamu cukup sibuk menemani istriku, ya?
Tentu saja, pikiran itu hanya berputar di kepalanya.
Darren tidak mungkin mengatakan sesuatu secara langsung. Terlebih, tidak seorang pun di kantin itu mengetahui bahwa Hanin adalah istrinya.
Ia juga tidak ingin membuat perempuan itu merasa terpojok hanya karena kecemburuannya sendiri.
Bagaimanapun, Hanin masih berusaha menyesuaikan diri dengan pernikahan mereka.
Darren tidak ingin merusak semuanya hanya karena ia gagal mengendalikan perasaan.
Setelah memastikan Hanin dalam keadaan baik, ia akhirnya mengalihkan pandangan kepada seluruh karyawan yang berada di kantin.
Suasana mendadak hening.
Darren berdiri dengan sikap tegap. Steve yang berada di belakangnya segera menegakkan tubuh, bersiap mendengarkan apa pun yang akan disampaikan atasannya.
Beberapa karyawan bahkan buru-buru meletakkan sendok mereka.