DI PERTEMUAN YANG KEDUA

sudiani
Chapter #41

Chapter 41

Tepat saat jam pulang kerja, Hanin yang sedang merapikan meja kerjanya dikejutkan oleh sebuah pesan singkat yang masuk ke ponselnya.

Darren Mahardana: Aku tunggu di dekat halte. Kita pulang bareng.

Hanin mengernyit membaca pesan itu. Ia melirik jam di layar ponselnya, lalu kembali menatap pesan Darren seolah berharap ada kalimat lain yang menjelaskan alasan pria itu menunggunya.

Namun, tidak ada pesan tambahan.

Hanin menghela napas pelan sebelum membalas singkat.

Hanin: Baik, Pak.

Ia memasukkan ponselnya ke dalam tas, berpamitan kepada Maya dan rekan-rekan kerjanya, kemudian berjalan menuju halte yang tidak terlalu jauh dari gedung Mahardana Group.

Benar saja, sebuah mobil hitam yang sudah sangat dikenalnya terparkir di dekat halte. Darren berdiri di samping mobil dengan kemeja yang lengannya sedikit tergulung. Penampilannya tetap rapi, tetapi ada sesuatu dari sikapnya yang membuat pria itu terlihat berbeda dari sosok CEO dingin yang biasa ditemui para karyawan.

Begitu melihat Hanin, Darren langsung menghampirinya.

"Sudah selesai?"

Hanin mengangguk. "Sudah, Pak."

"Kalau begitu, ayo pulang."

Darren membukakan pintu mobil untuknya tanpa banyak bicara.

Hanin sempat melirik ke sekeliling. Beberapa orang masih berlalu-lalang, termasuk karyawan perusahaan yang mungkin saja mengenali mereka. Namun, Darren tampak sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu.

Berbeda dengannya, Hanin justru merasa sedikit gelisah.

Bagaimana jika seseorang melihat mereka pulang bersama? Bukankah selama ini Darren selalu menjaga jarak dengannya di kantor?

Meski demikian, Hanin memilih diam dan masuk ke dalam mobil.

Sepanjang perjalanan, Darren sesekali melirik wanita yang duduk di sampingnya. Hanin sibuk menatap jalanan dari balik jendela, seolah pemandangan kota jauh lebih menarik daripada keberadaan pria di sebelahnya.

Darren tidak memaksanya berbicara.

Baginya, bisa membawa Hanin pulang bersamanya saja sudah cukup menyenangkan.

Selama bertahun-tahun, ia hanya bisa membayangkan bagaimana rasanya menjalani kehidupan sederhana bersama wanita itu. Kini, ketika kesempatan tersebut akhirnya datang, Darren justru harus menahan diri agar tidak terlihat terlalu bersemangat.

Ia tahu Hanin belum memiliki perasaan yang sama dengannya.

Namun, ia juga tidak ingin terus-menerus menjadi pria asing di mata wanita yang telah mengisi hatinya sejak lama.

Kedatangan Darren di rumah sore itu membuat Sumiati terkejut sekaligus senang.

Perempuan yang biasa dipanggil Sumi itu sedang menyiapkan beberapa bahan makanan di dapur ketika mendengar suara mobil memasuki halaman. Ia segera keluar untuk menyambut majikannya.

Namun, senyumnya semakin lebar saat melihat Darren datang bersama Hanin.

"Tuan sudah pulang?" tanyanya, meski sebenarnya ia bisa melihat sendiri siapa yang baru saja memasuki rumah.

Darren mengangguk sambil melepas jam tangannya.

"Mulai sekarang, kalau bisa, siapkan makan malam lebih awal. Aku ingin makan bersama Hanin."

Sumi terdiam sejenak.

Selama bekerja di rumah itu, ia tahu betul bagaimana kebiasaan Darren. Pria itu lebih sering pulang larut malam, bahkan tidak jarang melewatkan makan malam karena pekerjaan. Kalaupun pulang lebih awal, ia biasanya hanya makan sebentar sebelum kembali masuk ke ruang kerjanya.

Karena itulah, mendengar permintaan Darren kali ini membuat Sumi merasa tersentuh.

Ternyata kehadiran Bu Hanin benar-benar membawa perubahan.

"Baik, Tuan. Kalau begitu, mulai besok saya akan menyiapkan makan malam lebih awal."

Darren mengangguk puas.

Sumi melirik Hanin dengan senyum penuh arti. Hanin yang menyadarinya hanya membalas dengan senyum tipis sebelum mengikuti Darren menuju ruang tengah.

Ada sesuatu yang terasa berbeda di rumah itu.

Rumah yang sebelumnya terasa terlalu luas dan sepi kini perlahan memiliki suasana yang lebih hidup.

Dan bagi Sumi, perubahan itu merupakan sesuatu yang patut disyukuri.

Malam harinya, mereka duduk berhadapan di meja makan.

Hanin baru saja menyendokkan makanan ketika Darren menatap piringnya.

"Kamu makan terlalu sedikit."

Hanin mengangkat wajah. "Ini sudah cukup, Pak."

"Belum."

Darren mengambilkan lauk untuknya, lalu meletakkannya di piring Hanin.

"Makan yang banyak. Jangan sampai sakit."

Hanin menatap tambahan lauk di piringnya, kemudian melirik Darren.

"Bapak sendiri bagaimana?"

Darren mengangkat alis. "Bagaimana apanya?"

"Bapak selalu mengingatkan saya dan karyawan lain supaya menjaga kesehatan. Tapi, Bapak sendiri sering melewatkan waktu makan, bukan?"

Darren terdiam sesaat.

Ia tidak menyangka Hanin memperhatikan kebiasaannya.

"Siapa yang memberitahumu?"

"Tidak ada yang memberitahu. Saya bisa melihatnya sendiri." Hanin meletakkan sendoknya sejenak. "Bapak sering datang ke kantor lebih awal dan pulang paling akhir. Bahkan, saat rapat, Bapak pernah terlihat hanya minum kopi tanpa makan siang."

Darren memperhatikan wajah Hanin dengan tatapan yang sulit diartikan.

Jadi, selama ini wanita itu memperhatikannya?

Meskipun mungkin hanya sebagai seorang karyawan yang mengamati kebiasaan atasannya, Darren tetap merasa senang mendengarnya.

"Kalau aku sakit, apakah semua karyawan akan khawatir?" tanyanya.

"Tentu saja."

"Kenapa?"

Hanin mengernyit, merasa pertanyaan itu agak aneh.

"Karena Bapak CEO perusahaan. Kalau Bapak kenapa-kenapa, siapa yang akan memimpin Mahardana Group? Karyawan juga takut kehilangan pekerjaan jika sesuatu terjadi pada Bapak."

Darren tertawa kecil.

Jawaban Hanin memang masuk akal, tetapi bukan itu yang ingin didengarnya.

Ia meletakkan sendok, lalu menatap wanita di hadapannya dengan serius.

"Bagaimana dengan kamu, Hanin?"

Hanin mengangkat wajah.

"Apa?"

"Kalau aku kenapa-kenapa, apa kamu juga akan khawatir?"

Lihat selengkapnya