DI PERTEMUAN YANG KEDUA

sudiani
Chapter #42

Chapter 42

Cintiya Arman dikenal sebagai perempuan yang ramah dan mudah bergaul. Sejak pertama kali bergabung dengan divisi desain tekstil, perempuan itu tidak pernah menunjukkan sikap yang mencurigakan. Ia bekerja seperti karyawan pada umumnya, menyelesaikan tugasnya, berbicara sopan kepada rekan kerja, dan sesekali membantu Hanin ketika dibutuhkan.

Bagi Hanin, Cintiya adalah rekan kerja yang baik. Tidak ada alasan baginya untuk menaruh curiga terhadap perempuan itu.

Namun, penilaian Hanin berbeda dengan Darren dan Steve.

Keduanya tidak mudah mempercayai seseorang hanya karena sikap baik yang ditunjukkan di hadapan orang lain.

Terlebih, Cintiya bukan sekadar karyawan biasa. Ia memiliki hubungan keluarga dengan Arman, seseorang yang selama bertahun-tahun berusaha merebut kedudukan Darren di Mahardana Group.

Darren tidak pernah melupakan siapa saja yang berada di balik konflik keluarganya.

Tujuh tahun lalu, kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya bukan hanya mengubah wajah dan kehidupannya. Peristiwa itu juga menjadi awal dari hubungan keluarga yang semakin memburuk.

Sejak saat itu, Darren belajar satu hal penting: orang yang paling berbahaya tidak selalu datang dengan menunjukkan permusuhan secara terang-terangan.

Terkadang, mereka justru tersenyum dan berpura-pura tidak memiliki niat apa pun.

Di ruang kerjanya, Darren duduk di balik meja besar dengan beberapa berkas perusahaan terbuka di hadapannya. Namun, perhatiannya justru tertuju pada laporan yang baru saja diletakkan Steve.

"Bagaimana perkembangan perusahaan milik Arman?" tanya Darren tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen itu.

Steve berdiri di hadapannya sambil membawa sebuah tablet.

"Perusahaan cabang yang mereka bangun mulai menunjukkan perkembangan. Beberapa investor baru sudah masuk, tetapi ada sejumlah transaksi yang menurut saya perlu diperiksa lebih lanjut."

Darren akhirnya mengangkat wajah.

"Investor baru?"

"Benar, Pak. Saya belum bisa memastikan apakah semuanya berkaitan dengan rencana mereka terhadap Mahardana. Namun, melihat pergerakan selama beberapa bulan terakhir, saya rasa kita tidak boleh mengabaikannya."

Darren menyandarkan punggungnya pada kursi.

Senyum tipis yang tidak mengandung kehangatan muncul di wajahnya.

"Arman tidak akan pernah puas hanya dengan memiliki perusahaan sendiri."

Steve terdiam sejenak sebelum menjawab, "Saya juga berpikir begitu."

Darren menutup berkas di hadapannya.

"Dia menginginkan sesuatu yang sejak awal bukan haknya."

Mahardana Group bukan perusahaan yang dibangun dalam satu malam. Perusahaan itu merupakan warisan perjuangan Nenek Raya, perempuan yang memiliki visi besar dan membangun fondasi bisnis keluarga Mahardana dari awal.

Nenek Raya adalah nenek Darren dari garis keluarga ayahnya. Di antara cucu-cucunya, Darren merupakan satu-satunya penerus dari garis keluarga Paul yang dipersiapkan untuk mempertahankan perusahaan tersebut.

Setelah Nenek Raya, Paul mengambil tanggung jawab besar untuk mengembangkan Mahardana. Berkat kerja kerasnya, perusahaan itu tumbuh menjadi salah satu perusahaan tekstil terbesar di Asia.

Paul tidak hanya membangun bisnis. Ia juga mempertahankan kendali perusahaan melalui kepemilikan saham dan keputusan-keputusan penting yang dibuatnya selama bertahun-tahun.

Sementara itu, Arman memiliki jalan yang berbeda.

Sebagai putra Crish dari pernikahan keduanya, Arman tetap mendapatkan bagian dari keluarga. Bahkan, Crish memberikan sebagian saham miliknya di Mahardana kepada Arman demi memastikan putranya itu memiliki kedudukan yang lebih kuat.

Namun, bagi Arman, semua itu tidak pernah cukup.

Ia tidak hanya menginginkan keuntungan dari saham yang dimilikinya. Ia menginginkan kekuasaan.

Ia ingin duduk di kursi yang pernah ditempati Paul.

Dan ketika Paul mempercayakan kepemimpinan Mahardana kepada Darren, keinginan itu berubah menjadi ambisi yang semakin sulit dikendalikan.

"Secara hukum, kedudukan saya tidak akan berubah hanya karena Arman memiliki dua anak," ujar Darren tenang.

Steve mengangguk.

"Benar, Pak. Selama tidak ada perubahan kepemilikan atau keputusan resmi yang memengaruhi struktur perusahaan, posisi Anda tetap kuat."

Darren menatap jendela besar di samping ruang kerjanya. Dari lantai atas gedung itu, ia bisa melihat sebagian kota yang sibuk dengan aktivitasnya.

"Masalahnya bukan sekadar kedudukan saya."

Ia berhenti sejenak.

"Masalahnya adalah Kakek masih menganggap Arman sebagai anak yang harus selalu dilindungi."

Steve tidak menjawab.

Ia tahu betul bahwa hubungan Darren dengan Crish jauh lebih rumit daripada sekadar persoalan saham.

Bagaimanapun, Crish adalah kakek kandung Darren. Ada masa ketika Darren masih menghormatinya dan menganggapnya sebagai salah satu orang yang bisa ia percaya.

Lihat selengkapnya